suarasurabaya.net| Seringnya terjadi pungutan liar (Pungli) pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Banyuwangi, membuat HUSEIN MATAMIN Kepala PGRI Banyuwangi angkat bicara.
Kata HUSEIN seperti dilaporkan NOVI dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Senin (30/05), Dispendikpora Banyuwangi harus bertindak tegas dalam memberikan sanksi apabila ada oknum sekolah melakukan pungutan liar pada saat PPDB.
Dispendikpora Banyuwangi juga harus mengawal ketat PPDB di Banyuwangi sehingga PPDB tidak merugikan siswa yang ingin masuk sekolah.
Selain itu, ungkap HUSEIN, masyarakat bisa melaporkan ke Dispendikpor Banyuwangi apabila menemui ada oknum guru atau sekolah yang melakukan pungutan liar yang tidak sesuai. (tin)
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Monday, 30 May 2011
Wednesday, 18 May 2011
Guru PNS Dilarang Mengajar di Sekolah Swasta
suarasurabaya.net| Pemkab Banyuwangi melarang guru PNS mengajar di lembaga sekolah swasta. Larangan mengajar di lembaga sekolah swasta itu, seperti dilaporkan ANGGI dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Rabu (18/05), diedarkan melalui surat edaran.
SULISTIONO Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Banyuwangi mengatakan bila ada guru PNS yang mengajar di lembaga sekolah swasta akan diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.
Edaran itu diberikan menyusul banyaknya guru negeri pada jam efektif di tempatnya mengajar di tempat yang lain. Dinas Pendidikan juga membentuk tim pengawasan pada guru yang masih melanggar surat edaran itu. (tin)
dari (http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=c1da9962849644dd0028306962ab1aa2201192701)
SULISTIONO Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Banyuwangi mengatakan bila ada guru PNS yang mengajar di lembaga sekolah swasta akan diberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.
Edaran itu diberikan menyusul banyaknya guru negeri pada jam efektif di tempatnya mengajar di tempat yang lain. Dinas Pendidikan juga membentuk tim pengawasan pada guru yang masih melanggar surat edaran itu. (tin)
dari (http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=c1da9962849644dd0028306962ab1aa2201192701)
Thursday, 5 May 2011
Hasil UN SMP di Banyuwangi Diumumkan 4 Juni 2011
suarasurabaya.net| Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMP Banyuwangi akan diumumkan 4 Juni 2011. Kepastian pengumuman UN tingkat SMP dan Madrasah Tsanawaiyah (MTs) ini disampaikan CATUR PAMARTO Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Banyuwangi.
Kata CATUR seperti dilaporkan NOVI dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Jumat (06/05), mekanisme pengumuman hasil UN tingkat SMP dan MTs sama dengan pengumuman hasil UN tingkat SMA.
Pengumumam sepenuhnya diserahkan pada Satuan Pendidikan masing-masing sekolah penyelenggara UN. Dinas Pendidikan berharap seluruh siswa SMP dan MTs di Banyuwangi bisa lulus 100% dengan memuaskan. (tin)
Kata CATUR seperti dilaporkan NOVI dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Jumat (06/05), mekanisme pengumuman hasil UN tingkat SMP dan MTs sama dengan pengumuman hasil UN tingkat SMA.
Pengumumam sepenuhnya diserahkan pada Satuan Pendidikan masing-masing sekolah penyelenggara UN. Dinas Pendidikan berharap seluruh siswa SMP dan MTs di Banyuwangi bisa lulus 100% dengan memuaskan. (tin)
Wednesday, 23 February 2011
Puluhan Siswa MTsN 2 Banyuwangi Keracunan
Banyuwangi - Sebanyak 44 siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Banyuwangi, di Desa Sumberberas Kecamatan Muncar, Banyuwangi, keracunan. Mereka diduga
keracunan jajanan yang dibeli dan dimakan saat jam istirahat berlangsung.
Dari 44 siswa tersebut yang dirawat di puskesmas setempat sebanyak 38 siswa. Namun yang menjalani rawat inap hanya 10 siswa saja. Sisanya diperbolehkan pulang setelah menjalani pengobatan.
Nyaris semua siswa yang keracunan adalah pelajar putri. Hanya satu orang pelajar laki-laki yang menjadi korban. Rata-rata mereka mengaku mengalami pusing, mual disertai muntah-muntah setelah memakan pentol, nasi goreng serta nasi pecel yang dibeli dari pedagang makanan yang ada di sekolah.
"Makanan itu dibeli mereka kemarin, baru pagi tadi efeknya terasa, ada juga yang mulai malam harinya sudah mengeluh sakit," jelas Imam Ashari, Guru MTsN 2 Banyuwangi, kepada detiksurabaya.com saat ditemui di Puskesmas Sumberberas, Rabu (23/02/2011).
Sejumlah korban menuturkan, pentol atau nasi goreng yang mereka santap memiliki rasa yang tidak seperti biasanya. Terutama pada saus tomat yang rasanya asam, seperti makanan yang sudah basi.
"Sausnya rasanya tidak seperti biasa, masam," jelas Putri, seorang siswa kelas 3, yang harus menjalani rawat inap karena kondisinya lemah.
Pihak puskesmas masih melakukan observasi, untuk mengetahui penyebab pasti keracunan. Namun sampel makanan yang disebut siswa belum didapatkan, karena
para pedagang disekolah keburu pulang.
(fat/fat)
keracunan jajanan yang dibeli dan dimakan saat jam istirahat berlangsung.
Dari 44 siswa tersebut yang dirawat di puskesmas setempat sebanyak 38 siswa. Namun yang menjalani rawat inap hanya 10 siswa saja. Sisanya diperbolehkan pulang setelah menjalani pengobatan.
Nyaris semua siswa yang keracunan adalah pelajar putri. Hanya satu orang pelajar laki-laki yang menjadi korban. Rata-rata mereka mengaku mengalami pusing, mual disertai muntah-muntah setelah memakan pentol, nasi goreng serta nasi pecel yang dibeli dari pedagang makanan yang ada di sekolah.
"Makanan itu dibeli mereka kemarin, baru pagi tadi efeknya terasa, ada juga yang mulai malam harinya sudah mengeluh sakit," jelas Imam Ashari, Guru MTsN 2 Banyuwangi, kepada detiksurabaya.com saat ditemui di Puskesmas Sumberberas, Rabu (23/02/2011).
Sejumlah korban menuturkan, pentol atau nasi goreng yang mereka santap memiliki rasa yang tidak seperti biasanya. Terutama pada saus tomat yang rasanya asam, seperti makanan yang sudah basi.
"Sausnya rasanya tidak seperti biasa, masam," jelas Putri, seorang siswa kelas 3, yang harus menjalani rawat inap karena kondisinya lemah.
Pihak puskesmas masih melakukan observasi, untuk mengetahui penyebab pasti keracunan. Namun sampel makanan yang disebut siswa belum didapatkan, karena
para pedagang disekolah keburu pulang.
(fat/fat)
Tuesday, 21 December 2010
Masih Ada Guru di Banyuwangi Bergaji Rp 100 ribu
TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Sejumlah guru di Banyuwangi masih ada yang mendapatkan gaji Rp 100 ribu per bulan. Rata-rata mereka adalah guru tidak tetap yang mengajar di daerah-daerah pelosok.
Didik Harno, misalnya. Guru yang telah mengabdi enam tahun di SD Negeri 4 Gombengsari, Desa Gombeng, Kecamatan Kalipuro ini harus rela digaji Rp 100 ribu per bulan.
Padahal setiap harinya dia harus menempuh jarak 15 kilometer dari rumah ke sekolahnya. Untuk menutupi kebutuhan dapur, ayah satu anak ini, terpaksa juga mengajar di SMP swasta di desa setempat. "Di SMP, gaji saya Rp 200 ribu," kata pria berusia 25 tahun ini kepada wartawan, Selasa (21/12).
Teman seprofesi Didik, Ninik Susiyati, juga mengalami nasib serupa. Guru kelas 1 dan kelas 2 SDN 4 Gombengsari juga mendapat gaji Rp 100 ribu per bulan.
Kedua guru tidak tetap itu terpaksa bertahan karena sekolah dasar dengan 62 siswa itu kekurangan guru. Dari tujuh guru yang ada, hanya empat guru yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Sedangkan tiga guru lainnya yang belum diangkat, menggantungkan gaji dari biaya operasional sekolah. "Kami menunggu pengangkatan," kata Ninik.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banyuwangi, Husin Matamin, mengatakan, sampai tahun ini masih ada 3,5 ribu guru tidak tetap yang nasibnya memprihatinkan. Para guru itu, kata Husin, bergaji antara Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per bulan meski telah mengabdi hingga puluhan tahun.
Menurut dia, PGRI mendesak Pemerintah Banyuwangi untuk memberikan insentif bagi guru-guru tidak tetap sambil menunggu pengangkatan dari Pemerintah Pusat.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, berjanji akan memberikan insentif kepada guru yang bergaji minim. Selain itu, kata dia, terhadap tiga ribu tidak tetap akan dilakukan pengangkatan secara bertahap. Sebab setiap tahun ada sedikitnya 350 guru di Banyuwangi yang pensiun.
IKA NINGTYAS
Monday, 8 March 2010
Puluhan Siswa SMPN Banyuwangi Ujian Lesehan
Foto: Irul Hamdani |
Kondisi ini akan dialami para siswa hingga Sabtu (13/3/2010), setelah mereka pindah gedung sebulan lalu dari SMP Negeri sebelumnya ke sekolah yang ditempati saat ini di Desa Licin, yang jaraknya sekitar 3 Km. Para siswa mengaku dengan kondisi ini tidak membuat nyaman dan mengganggu kosentrasi, apalagi saat ini sedang serius menjalani ujian.
Dari pantauan detiksurabaya.com, karena kecapaian menunduk dalam rentang lama, beberapa siswa memutuskan mengerjakan soal ujian sambil tengkurap. Sungguh jauh dari kondisi belajar yang dianjurkan.
"Ya mengganggu, tidak enak pokoknya," keluh salah satu siswa kelas 8, Rahmat Hidayat, saat ditemui wartawan seusai mengikuti ujian tengah semester, Selasa (9/3/2010).
Meski sadar kekurangan sarana, pihak sekolah mengaku tetap melayani hak para anak didiknya tersebut. Langkah itu ditempuh sambil menunggu permohonan bantauan bangku dan kursi ke Pemerintah Banyuwangi dikabulkan.
"Sudah kita ajukan proposal, semoga segera terealisasi," harap Kepala Sekolah SMP Negeri satu Atap Licin, Muhammad, kepada wartawan di kantornya.
Kondisi para siswa yang belajar secara lesehan ini bermula sejak para siswa pindah dari sekolah sebelumnya. Dari 110 siswa kelas 7, 8 dan 9, hanya siswa kelas 8 yang duduk lesehan karena tidak kebagian bangku dan meja. Selebihnya belajar dengan normal.
Apa yang dialami siswa di SMP Negeri satu atap tersebut bukan hal yang baru lagi di dunia pendidikan Banyuwangi. Sebelumnya, para siswa SD di Kecamatan Kabat, Banyuwangi, mengalami hal serupa. Mereka mengikuti proses belajar mengajar di teras gedung sekolah.
(fat/fat)
Saturday, 6 March 2010
Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010
koranisun.com | Banyuwangi - Bagi Bapak Ibu Guru yang belum mengetahui Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010 Kabupaten Banyuwangi silakan baca artikel ini. Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010 ini wajib dimasukkan kedalam format A1.1 yang ada pada lampiran awal di Portofolio yang telah dikumpulkan di Dinas Pendidikan Banyuwangi kemarin 5/2.
Selamat buat Bapak Ibu Guru yang sudah mengetahui Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010 Banyuwangi. Dan Jangan sampai lupa memasukkan Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010 Banyuwangi ke dalam dokumen Portofolio. Nomor Peserta Sertifikasi Guru 2010 Banyuwangi silakan download disini. Terima Kasih
Sumber: Dispendik Banyuwangi
Industri Pendidikan
ENTAH kenapa pendidikan dianggap mulia, bahkan sakral. Maka istilah bisnis, apalagi industri pendidikan, dianggap tabu yang mencemarkan citra kemuliaan pendidikan.
Pandangan memuliakan pendidikan itu benar apabila yang dimaksud adalah pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya. Sebab, pendidikan seperti ini lazimnya dilakukan tulus ikhlas tanpa memungut biaya sesen pun. Namun pandangan memuliakan pendidikan itu keliru, bahkan munafik, apabila yang dimaksud pendidikan adalah pengajaran yang diberikan guru atau lembaga pendidikan kepada para muridnya; apabila para murid, orangtua atau walimurid harus membayar biaya, meski cuma sesen, apalagi jutaan rupiah.
Munafik mengaku pemungutan biaya pendidikan, meski berkedok istilah sumbangan gedung, biaya seragam, atau apa pun sebagai bukan bisnis, apalagi industri! Selama ada transaksi jual beli, jelas yang dilakukan adalah bisnis atau dalam skala lebih massal disebut industri. Maka selama murid harus membayar jasa guru atau lembaga yang memberikan pendidikan sebenarnya istilah yang tidak munafik adalah bisnis atau industri pendidikan.
Ternyata yang keliru bukan cuma pengingkaran istilah saja, melainkan juga pengingkaran terhadap UUD negara dan bangsa Republik Indonesia tercinta! Sebenarnya di dalam UUD 1945 sudah tegas dan jelas hitam di atas putih, eksplisit tersurat, setiap warga bangsa dan negara Indonesia memiliki hak atas pendidikan. Pada kenyataannya, hak atas pendidikan itu sudah diabaikan,bahkan diingkari.
Ternyata setiap warga Indonesia bukan memiliki hak, melainkan malah kewajiban membayar pendidikan bagi dirinya masing-masing. Sungguh ironis. Di Jerman, negara dengan rakyat tidak miskin dan tidak berfalsafah Pancasila dengan asas kemanusiaan dan keadilan sosial, pendidikan malah total gratis dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi! Lebih celaka lagi ketika UU Pendidikan Nasional sesuai UUD 1945 diupayakan untuk ditegakkan, malah berbagai pihak sengit menolak.
Mereka beralasan pendidikan gratis tidak realistis karena cuma kosmetik politis demi memikat suara rakyat, terutama di masa pemilu. Yang menolak pendidikan gratis adalah para penganut paham kapitalisme sejati atau mereka yang sudah telanjur menikmati nikmatnya berbisnis pendidikan tidak gratis.
Alasan utopia justru terbukti tidak realistis sebab pendidikan gratis di Jerman dan berbagai negara beradab di planet bumi ini terbukti bisa dijadikan kenyataan yang sangat nyata.Pendidikan gratis kalau memang mau, pasti mampu. Tetapi kalau memang tidak mau yapasti tidak mampu! Di Indonesia sudah terbukti, kalau mau para politisi mampu memenuhi janji menggratiskan pendidikan di wilayah kekuasaan masing-masing.
Dipelopori para penerima anugerah Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) seperti Bupati Jembrana yang berhasil nyata menggratiskan pendidikan tanpa mengurangi, bahkan meningkatkan, mutu pendidikan di daerah Kabupaten Jembrana sejak 2000. Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) terbukti mampu menepati janji kampanye menggratiskan pendidikan di Provinsi Sumsel pada 2009!
Kalau mau, pasti mampu! Ada pula contoh, meski mau, tapi ternyata tidak mampu, atau lebih tepatnya tidak boleh. Bupati Banyuwangi sempat gagal menepati janji-janji kampanye untuk menggratiskan pendidikan akibat ditentang habis-habisan oleh DPRD Banyuwangi.
Mayoritas anggotanya lebih berpihak kepada mereka yang sudah telanjur mengenyam nikmatnya berbisnis pendidikan ketimbang berpihak ke rakyat yang terus-menerus diperah dan diperas untuk membayar pendidikan!
Memang selalu ada yang lebih mengutamakan kepentingan kocek pribadi atau lembaga masing-masing ketimbang menjunjung tinggi Pancasila dan mematuhi UUD 1945; sambil murka apabila dituduh membisniskan atau mengindustrikan pendidikan. (*)
JAYA SUPRANA(//mbs)
Saturday, 13 February 2010
Sekolah Memberi Tugas Merangkum Film Sang Pemimpi
koranisun.com | Banyak cara untuk mengajarkan anak didik untuk mempelajari sesuatu, seperti misalnya mempelajari semangat untuk belajar. Misalnya saja dengan memberi tugas untuk merangkum isi cerita dari sebuah film yang memiliki tema sama dengan apa yang diinginkan. Hal inilah yang dilakukan salah satu sekolah di Banyuwangi, yaitu SLTP 3 Banyuwangi terhadap murid-muridnya. Para murid yang bersangkutan diberi tugas untuk merangkum isi cerita film “Sang Pemimpi” yang tengah diputar di Bioskop Irama, di Banyuwangi. Seorang murid menceritakan ia tidak boleh mencontek dari temannya tentang cerita tersebut, dengan kata lain ia harus menonton sendiri film tersebut.
Film Sang Pemimpi sendiri adalah sebuah film karya Sutradara Riri Riza, produser Mira Lesmana dan Penulis Andrea Hirata, yang didasarkan pada novel best sellernya, menceritakan tentang semangat seorang bocah dari keluarga kurang mampu yang beranjak dewasa dalam mengejar apa yang dia impikan dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Film sekuel dari film fenomenal “Laskar Pelangi” ini mendapatkan banyak pujian dari para pengamat film dan diharapkan menjadi inspirasi untuk anak-anak Indonesia untuk bersemangat dalam mengejar cita-citanya.
Saturday, 16 January 2010
Ratusan Siswa PGRI Silir Agung Mendemo Kepala Sekolah
Banyuwangi - Ratusan siswa PGRI Silir Agung, Kecamatan Silir Agung, Banyuwangi, berunjuk rasa menolak keberadaan kepala sekolahnya. Unjuk rasa dilakukan seusai mengikuti ujian semester, Sabtu (15/1/2010).
Sebelum berunjuk rasa, para pelajar berkumpul di depan luar gedung sekolah menunggu rekannya yang masih mengikuti ujian. Unjuk rasa itu reaksi atas sikap Kepala Sekolah, Syakira (66) yang ingin tetap 'berkuasa'.
Padahal, Syakira yang menjabat sekolah selama 30 tahun tersebut kalah dalam pemilihan kepala sekolah yang baru. Pemilihan tersebut digelar akhir Desember 2009 lalu. Di kesempatan itu suara terbanyak diraih oleh Suparjo, guru mata pelajaran Matematika.
Suparjo menyisihkan dua kandidat lainnya yakni Syakira dan Agus dengan meraih 22 suara. Sedangkan Syakira 13 suara dan Agus hanya 1 suara saja. Namun hingga kini, Syakira masih tetap menjabat sebagai Kepala Sekolah.
Para pelajar menduga, hal itu terjadi lantaran ada pihak yang mencoba untuk menggagalkan hasil pemilihan, 'bermain' mata dengan pihak Yayasan PGRI.
"Kami ingin demokrasi di sekolah ini dihormati, kami ingin pembaharuan di sekolah. Kami juga menolak Ibu Syakira sebagai Kepala Sekolah," ucap Anton, Ketua Osis PGRI Silir Agung, saat berorasi.
Pihak Yayasan PGRI yang datang ke lokasi langsung rapat dengan para guru untuk membahas tuntutan para pelajar. Belum diketahui hasil dari rapat tersebut. Hingga pukul 14.00 WIB, rapat masih berlangsung dengan alot.
Sementara Syakira, Kepala Sekolah SMA PGRI Silir Agung membantah tudingan para pelajar. Dia mengaku jabatan yang diemban akan berakhir jika SK Kepala Sekolah yang baru terbit. Permasalahannya, SK tersebut hingga kini belum turun.
"Saya bukan ingin bertahan. Tapi SK dari hasil pemilihan hingga hari ini belum turun," tegas Syakira saat ditemui detiksurabaya.com disela rapat berlangsung.
Syakira menduga, jika unjuk rasa siswa itu ditunggangi oleh oknum tertentu. Tujuannya, tak lain ingin 'merebut' posisi kepala sekolah yang dijabatnya.
Meski sempat memanas, namun aksi unjuk rasa berjalan lancar. Setelah puas berorasi, para siswa melakukan aksi duduk di tengah halaman dalam sekolah. Siswa mengancam akan terus melakukan aksinya jika tuntutannya tak dipenuhi. (ilustrasi : google.com)
Tuesday, 12 January 2010
Siswa SMP Tertangkap di Kamar Mandi Berhubungan Seks
Banyuwangi, Cybernews. Sejumlah siswa dan guru di salah satu SMP di Banyuwangi pagi tadi dikejutkan dengan ditangkapnya sepasang siswa yang tertangkap sedang melakukan hubungan layaknya suami istri di kamar mandi sekolah. Peristiwa tersebut saat ini ditangani Polsek Genteng, Banyuwangi.
Kapolsek Genteng AKP Hari Subagyo dalam keterangannya kepada sejumlah media mengatakan, peristiwa tersebut diterima setelah paman siswi melaporkannya ke polisi. Sampai siang ini kedua siswa itu masih berada di Polsek untuk penyelesaian lebih lanjut. Hari berharap, masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluiragaan karena keduanya masih di bawah umur.
Sementara itu, siswa kelas dua SMP sebut saja bernama Joko (14) mengaku, hubungan tersebut sudah dilakukannya dengan adik kelasnya yang berusia 13 tahun, sebanyak empat kali sejak November tahun lalu di tempat yang sama. Keduanya melakukan hubungan tersebut saat seluruh siswa sedang belajar di kelas. Dengan berpura-pura ingin buang hajat, keduanya bertemu di kamar mandi.
Sejumlah pengamat pendidikan menyanyangkan kejadian tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Belum diketahui penyebab terjadi hubungan tersebut, apakah akibat pengaruh lingkungan atau dampak dari menonton video porno yang belakangan ini marak ditemukan di kota Banyuwangi.
( Zainal Abidin / CN12 )
Saturday, 7 November 2009
Nasib Guru Bantu di Banyuwangi
By admin |
Published: November 7, 2009 | Posted in: Opini |
19 bulan tidak jelas nasibnya
Saat turba ke banyuwangi, 11 oktober lalu, berkesempatan untuk berdialog dengan masyarakat yang menyampaikan tentang persoalan guru bantu dibanyuwangi yang belum juga selesai. Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah kiranya peribahasa yang tepat bagi nasib yang menimpa para guru bantu di kabupaten banyuwangi.
Setelah sebagian dari mereka 12 bulan lamanya mereka tidak terima gaji, mereka harus kembali menerima ketidakjelasan atas status pns mereka. Setelah mendapat kabarpada bulan januari 2009 kalau mereka diterima sebgai pns dan kemudian melakukan pemberkasan ternyata sampai saat ini, oktober 2009 belum ada kejelasan kapan sk pengangakatannya turun. Sehingga total hampir 20 bulan
Para guru bantu tersebut tidak menerima gaji. Beruntung salah satu guru yang saya temui istrinya juga bekerja menjadi perawat disalah satu rumah sakit, coba bayangkan bila tidak.
Demo yang difasilitasi oleh PGRI rupanya belum mampu untuk mengeluarkan mereka dari persoalan ini. Jika pemerintah daerah merasa tidak mampu menangani hal tersebut mestinya bisa memberikan kepastian tentang nasib para guru tersebut. Para guru bisa difasilitasi oleh wakil rakyat mereka di banyuwangi untuk bertemu dengan pejabat di pusat. Sehingga jawaban atas persoalan tersebut bisa segera.
Pemerintah daerah dalam hal ini bupati mestinya juga bisa menjadi penenang atas keresahan nasib guru bantu tersebut.
Ironi jika para guru harus turun ke jalan, mestinya pemda dan para wakil rakyat lebih tanggap untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Tapi akhirnya kondisi memaksa mereka untuk turun ke jalan memperjuangkan nasib mereka yang tidak kunjung diperhatikan.
Semoga dengan dilantiknya kabinet dan dpr ri yang baru, persoalan guru bantu dibanyuwangi bisa menjadi salah satu persoalan yang diperhatikan.
Selaku wakil rakyat dprd jatim dari dapil 3, pihaknya akan membawa Persoalan ini agar dibahas khususnya komisi e yang membidangi kesejahteraan masyarakat.
Irwan setiawan
Anggota dprd jatim dari dapil 3 (banyuwangi, bondowoso, situbondo)
Fraksi partai keadilan sejahtera
(dari http://www.fpks-jatim.org/2009/11/07/nasib-guru-bantu-di-banyuwangi/)
Published: November 7, 2009 | Posted in: Opini |
19 bulan tidak jelas nasibnya
Saat turba ke banyuwangi, 11 oktober lalu, berkesempatan untuk berdialog dengan masyarakat yang menyampaikan tentang persoalan guru bantu dibanyuwangi yang belum juga selesai. Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah kiranya peribahasa yang tepat bagi nasib yang menimpa para guru bantu di kabupaten banyuwangi.
Setelah sebagian dari mereka 12 bulan lamanya mereka tidak terima gaji, mereka harus kembali menerima ketidakjelasan atas status pns mereka. Setelah mendapat kabarpada bulan januari 2009 kalau mereka diterima sebgai pns dan kemudian melakukan pemberkasan ternyata sampai saat ini, oktober 2009 belum ada kejelasan kapan sk pengangakatannya turun. Sehingga total hampir 20 bulan
Para guru bantu tersebut tidak menerima gaji. Beruntung salah satu guru yang saya temui istrinya juga bekerja menjadi perawat disalah satu rumah sakit, coba bayangkan bila tidak.
Demo yang difasilitasi oleh PGRI rupanya belum mampu untuk mengeluarkan mereka dari persoalan ini. Jika pemerintah daerah merasa tidak mampu menangani hal tersebut mestinya bisa memberikan kepastian tentang nasib para guru tersebut. Para guru bisa difasilitasi oleh wakil rakyat mereka di banyuwangi untuk bertemu dengan pejabat di pusat. Sehingga jawaban atas persoalan tersebut bisa segera.
Pemerintah daerah dalam hal ini bupati mestinya juga bisa menjadi penenang atas keresahan nasib guru bantu tersebut.
Ironi jika para guru harus turun ke jalan, mestinya pemda dan para wakil rakyat lebih tanggap untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Tapi akhirnya kondisi memaksa mereka untuk turun ke jalan memperjuangkan nasib mereka yang tidak kunjung diperhatikan.
Semoga dengan dilantiknya kabinet dan dpr ri yang baru, persoalan guru bantu dibanyuwangi bisa menjadi salah satu persoalan yang diperhatikan.
Selaku wakil rakyat dprd jatim dari dapil 3, pihaknya akan membawa Persoalan ini agar dibahas khususnya komisi e yang membidangi kesejahteraan masyarakat.
Irwan setiawan
Anggota dprd jatim dari dapil 3 (banyuwangi, bondowoso, situbondo)
Fraksi partai keadilan sejahtera
(dari http://www.fpks-jatim.org/2009/11/07/nasib-guru-bantu-di-banyuwangi/)
Wednesday, 4 November 2009
Demo Guru Ricuh, Seorang Ditangkap
Nusantara / Rabu, 4 November 2009 18:09 WIB |
Metrotvnews.com, Banyuwangi: Ribuan guru yang tergabung dalam PGRI Jawa Timur berunjuk rasa di Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Rabu (4/11). Unjuk rasa ini sebagai aksi solidaritas terhadap guru PGRI Banyuwangi yang menjadi korban tindakan sewenang-wenang Bupati Ratna Ani Lestari. Mereka menuntut Bupati segera membatalkan sanksi terhadap sembilan guru yang ikut berdemonstrasi pada Agustus lalu. Sanksi yang dimaksud berupa penurunan pangkat hingga dipecat dari pegawai negeri sipil (PNS).
Pengunjuk rasa juga menuntut menuntut pengangkatan ratusan guru bantu yang sudah masuk berkas calon PNS yang hingga belum jelas. Mereka juga menuntut uang lauk pauk sebesar Rp 220 ribu yang sudah satu tahun tidak cair. Padahal, daerah lain sudah cair.
Aksi ini sempat ricuh. Massa guru mencoba menerobos barikade pagar berduri yang dipasang polisi di depan kantor Pemkab. Adu mulut sempat terjadi dengan polisi. Polisi sempat menangkap seorang yang diduga provokator, karena mencoba menerobos barikade polisi. Namun, akhirnya Bupati bersedia bertemu dengan perwakilan guru. Hasilnya, Senin pekan depan, DPRD akan rapat bersama dengan Pemkab Banyuwangi dan PGRI Banyuwangi untuk mencari solusi masalah tersebut.(BEY/Andi Himawan)
(dari http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2009/11/04/5276/Demo-Guru-Ricuh-Seorang-Ditangkap)
Metrotvnews.com, Banyuwangi: Ribuan guru yang tergabung dalam PGRI Jawa Timur berunjuk rasa di Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Rabu (4/11). Unjuk rasa ini sebagai aksi solidaritas terhadap guru PGRI Banyuwangi yang menjadi korban tindakan sewenang-wenang Bupati Ratna Ani Lestari. Mereka menuntut Bupati segera membatalkan sanksi terhadap sembilan guru yang ikut berdemonstrasi pada Agustus lalu. Sanksi yang dimaksud berupa penurunan pangkat hingga dipecat dari pegawai negeri sipil (PNS).
Pengunjuk rasa juga menuntut menuntut pengangkatan ratusan guru bantu yang sudah masuk berkas calon PNS yang hingga belum jelas. Mereka juga menuntut uang lauk pauk sebesar Rp 220 ribu yang sudah satu tahun tidak cair. Padahal, daerah lain sudah cair.
Aksi ini sempat ricuh. Massa guru mencoba menerobos barikade pagar berduri yang dipasang polisi di depan kantor Pemkab. Adu mulut sempat terjadi dengan polisi. Polisi sempat menangkap seorang yang diduga provokator, karena mencoba menerobos barikade polisi. Namun, akhirnya Bupati bersedia bertemu dengan perwakilan guru. Hasilnya, Senin pekan depan, DPRD akan rapat bersama dengan Pemkab Banyuwangi dan PGRI Banyuwangi untuk mencari solusi masalah tersebut.(BEY/Andi Himawan)
(dari http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2009/11/04/5276/Demo-Guru-Ricuh-Seorang-Ditangkap)
Guru se Jatim Serbu Kantor Bupati Banyuwangi
Rabu, 04/11/2009 15:50 WIB | Irul Hamdani - detikSurabaya |
Banyuwangi - Massa dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur menggelar unjukrasa. Aksi ini merupakan solidaritas terhadap nasib guru-guru di Banyuwangi.
Tuntutan guru Banyuwangi yang meminta kesejahteraan mereka diperhatikan ditolak oleh Bupati, Ratna Ani Lestari.
20 ribu guru yang berasal dari 30 Kabupaten di Jawa Timur datang dan menggelar orasi di Kantor Pemkab Banyuwangi Jalan Ahmad Yani, Rabu (4/11/2009).
Sepanjang aksi, massa meneriakan yel-yel dan membentangkan spanduk penuh kecaman kepada Bupati Ratna.
"Kami Guru dari Pacitan sengaja datang kesini untuk membela harkat martabat guruyang sedang diinjak-injak oleh penguasa," teriak salah seorang orator dari atas truk lengkap dengan pengeras suara.
Setelah beberapa saat berorasi, 10 perwakilan guru diperbolehkan masuk ke kantor bupati. Namun pertemuan antara perwakilan guru dan pihak pemkab berlangsung tertutup.
Tuntutan kesejahteraan yang diabaikan Bupati Ratna adalah uang lauk pauk Rp 10 ribu perhari, tunjangan guru, pengangkatan guru bantu, perlindungan hukum bagi guru. Tuntutan itu sebelumnya pernahdisampaikan dalam beberapa kali aksi unjukrasa.
(wln/wln)
(dari http://surabaya.detik.com/read/2009/11/04/155022/1235088/475/guru-se-jatim-serbu-kantor-bupati-banyuwangi)
Banyuwangi - Massa dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur menggelar unjukrasa. Aksi ini merupakan solidaritas terhadap nasib guru-guru di Banyuwangi.
Tuntutan guru Banyuwangi yang meminta kesejahteraan mereka diperhatikan ditolak oleh Bupati, Ratna Ani Lestari.
20 ribu guru yang berasal dari 30 Kabupaten di Jawa Timur datang dan menggelar orasi di Kantor Pemkab Banyuwangi Jalan Ahmad Yani, Rabu (4/11/2009).
Sepanjang aksi, massa meneriakan yel-yel dan membentangkan spanduk penuh kecaman kepada Bupati Ratna.
"Kami Guru dari Pacitan sengaja datang kesini untuk membela harkat martabat guruyang sedang diinjak-injak oleh penguasa," teriak salah seorang orator dari atas truk lengkap dengan pengeras suara.
Setelah beberapa saat berorasi, 10 perwakilan guru diperbolehkan masuk ke kantor bupati. Namun pertemuan antara perwakilan guru dan pihak pemkab berlangsung tertutup.
Tuntutan kesejahteraan yang diabaikan Bupati Ratna adalah uang lauk pauk Rp 10 ribu perhari, tunjangan guru, pengangkatan guru bantu, perlindungan hukum bagi guru. Tuntutan itu sebelumnya pernahdisampaikan dalam beberapa kali aksi unjukrasa.
(wln/wln)
(dari http://surabaya.detik.com/read/2009/11/04/155022/1235088/475/guru-se-jatim-serbu-kantor-bupati-banyuwangi)
Tuesday, 27 October 2009
12 Mahasiswa Politeknik Negeri Jember Dikirim ke Thailand

Selasa, 27 Oktober 2009 | 10:54 WIB |
TEMPO Interaktif, Jember - Sebanyak 12 orang mahasiswa Politeknik Negeri Jember, Jawa Timur, dikirim ke Thailand. Menurut Direktur Politeknik Negeri Jember Asmuji, mereka dikirimkan untuk belajar tentang pertanian dan produk pertanian di Rajamanggala University. "Studi mereka disana sesuai dengan jurusan yang mereka ambil di Politeknik Negeri Jember," kata Asmuji, selasa (27/10) pagi.
Asmuji menambahkan, disana para mahasiswa itu akan belajar selama satu tahun. Pembiayaan mahasiswa yang pergi ke Thailand ini memang menggunakan dana sharing, yakni dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri, pemerintah daerah, dan Politeknik Negeri Jember."Pemkab Banyuwangi membantu biaya untuk empat mahasiswa. Sedangkan Pemkab Jember baru menjanjikan," katanya menambahkan.
Pengiriman pertama, dilakukan pada bulan ini dan bulan depan. Setelah selesai, mereka akan kembali melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Jember, untuk dievaluasi. Hasil itu akan digabungkan dengan evaluasi selama mereka di Negeri Gajah Putih itu.
Asmuji juga mengakui, meski selama ini sudah ada hubungan kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah di Jember, namun dirasa masih kurang intensif. Padahal, sebagai kota yang memiliki asset luar biasa di bidang pertanian, seharusnya ada upaya dari pemerintah untuk memberdayakan pertanian berbasis kerakyatan. Asmuji menambahkan, pihaknya sangat terbuka untuk membantu pemberdayaan masyarakat ini. Hanya saja, harus ada dukungan dari pemkab, minimal memberi sedikit bantuan dana untuk pemberdayaan pertanian rakyat.
"Kalau semua kabupaten di sekitar Jember mau membantu dana pembiayaan, pasti akan lebih banyak mahasiswa yang dikirim. Karena animo mereka untuk mengikuti program dual degree di Politeknik Jember ini sangat tinggi," katanya.
MAHBUB DJUNAIDY
(dari http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/10/27/brk,20091027-204672,id.html)
Friday, 23 October 2009
Jika Tuntutan Tidak Direspon, PGRI Akan Berdemo
24 Oktober 2009, 11:15:51| Laporan Farida Retnowulan|
suarasurabaya.net| Jika hingga 26 Oktober mendatang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi tetap tidak merespon 8 tuntutan guru, maka Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyuwangi akan menggelar demo lebih besar lagi dengan turun ke jalan pada 4 November 2009 mendatang.
Dilaporkan DESNIN dari Radio Mandala FM Banyuwangi dalam Jaring Suara Surabaya, Sabtu (24/10), HUSEIN MATAMIN Ketua PGRI Banyuwangi menampik anggapan jika pihaknya melunak terkait tuntutan mereka beberapa waktu lalu.
Karena HUSEIN mengatakan semuanya telah diserahkan kepada PGRI Jawa Timur untuk dikomunikasikan langsung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) Pemprov Jawa Timur dengan Pemkab Banyuwangi.
Tetapi menurut HUSEIN hingga saat ini belum ada informasi mengenai kedatangan Disdik Pemprov Jawa Timur ke Banyuwangi untuk mengkomunikasikan tuntutan PGRI Banyuwangi.
Lebih lanjut HUSEIN menjelaskan sebenarnya tuntutan PGRI Banyuwangi tidak harus dikabulkan saat ini juga, melainkan dalam tahun anggaran mendatang pun tidak menjadi masalah. Yang pentng hak-hak guru bisa terealisasi seperti hak uang makan dan beberapa tunjangan lain.(far/edy)
(dari http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=f6516b66b466e865687d6f6ad3eeabcd200970660)
suarasurabaya.net| Jika hingga 26 Oktober mendatang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi tetap tidak merespon 8 tuntutan guru, maka Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyuwangi akan menggelar demo lebih besar lagi dengan turun ke jalan pada 4 November 2009 mendatang.
Dilaporkan DESNIN dari Radio Mandala FM Banyuwangi dalam Jaring Suara Surabaya, Sabtu (24/10), HUSEIN MATAMIN Ketua PGRI Banyuwangi menampik anggapan jika pihaknya melunak terkait tuntutan mereka beberapa waktu lalu.
Karena HUSEIN mengatakan semuanya telah diserahkan kepada PGRI Jawa Timur untuk dikomunikasikan langsung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) Pemprov Jawa Timur dengan Pemkab Banyuwangi.
Tetapi menurut HUSEIN hingga saat ini belum ada informasi mengenai kedatangan Disdik Pemprov Jawa Timur ke Banyuwangi untuk mengkomunikasikan tuntutan PGRI Banyuwangi.
Lebih lanjut HUSEIN menjelaskan sebenarnya tuntutan PGRI Banyuwangi tidak harus dikabulkan saat ini juga, melainkan dalam tahun anggaran mendatang pun tidak menjadi masalah. Yang pentng hak-hak guru bisa terealisasi seperti hak uang makan dan beberapa tunjangan lain.(far/edy)
(dari http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=f6516b66b466e865687d6f6ad3eeabcd200970660)
Thursday, 22 October 2009
Ambil Buah Tanpa Izin, Puluhan Pelajar di Banyuwangi Kesurupan
BANYUWANGI | SURYA Online - Puluhan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Hikmah Mandala di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan/Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), mengalami kesurupan (kerasukan roh)
Menurut Wakil Kepala Sekolah, Supoyo, Kamis (22/10), kejadian itu bermula dari salah satu siswa saat mengikuti pelajaran di sekolah, secara tiba-tiba mengamuk seperti kerasukan roh yang kemudian tidak berselang beberapa siswa lainnya juga ikut kesurupan.
Merasa tidak mampu menangani puluhan siswa, pengurus sekolah akhirnya mendatangkan paranormal.
Peristiwa kerasukan itu, lanjutnya, dilatarbelakangi setelah siswa mengikuti acara perkemahan di Pantai Sukamade, dimana saat itu ada dua siswa yang mengambil satu buah kelapa dan coklat (kakao) tanpa izin dari pemiliknya.
“Mereka saya minta untuk mengembalikannya ke tempat semula, tiba-tiba saat akan dikembalikan ternyata pohon dari buah yang dipetik itu sebenarnya tidak ada, setelah kejadian itu para siswa banyak yang kerasukan,” kata Supoyo mengungkapkan.
Menurut Minto, paranormal yang menangani puluhan pelajar, mereka mudah dirasuki roh halus karena kondisi fisik mereka lemah dan kelelahan sehabis mengikuti perkemahan. Akibat kejadian tersebut, proses belajar mengajar sempat terhenti, sementara pengurus sekolah akhirnya memulangkan para siswa lebih awal. ant
(dari http://www.surya.co.id/2009/10/22/ambil-buah-tanpa-izin-puluhan-pelajar-di-banyuwangi-kesurupan.html)
Menurut Wakil Kepala Sekolah, Supoyo, Kamis (22/10), kejadian itu bermula dari salah satu siswa saat mengikuti pelajaran di sekolah, secara tiba-tiba mengamuk seperti kerasukan roh yang kemudian tidak berselang beberapa siswa lainnya juga ikut kesurupan.
Merasa tidak mampu menangani puluhan siswa, pengurus sekolah akhirnya mendatangkan paranormal.
Peristiwa kerasukan itu, lanjutnya, dilatarbelakangi setelah siswa mengikuti acara perkemahan di Pantai Sukamade, dimana saat itu ada dua siswa yang mengambil satu buah kelapa dan coklat (kakao) tanpa izin dari pemiliknya.
“Mereka saya minta untuk mengembalikannya ke tempat semula, tiba-tiba saat akan dikembalikan ternyata pohon dari buah yang dipetik itu sebenarnya tidak ada, setelah kejadian itu para siswa banyak yang kerasukan,” kata Supoyo mengungkapkan.
Menurut Minto, paranormal yang menangani puluhan pelajar, mereka mudah dirasuki roh halus karena kondisi fisik mereka lemah dan kelelahan sehabis mengikuti perkemahan. Akibat kejadian tersebut, proses belajar mengajar sempat terhenti, sementara pengurus sekolah akhirnya memulangkan para siswa lebih awal. ant
(dari http://www.surya.co.id/2009/10/22/ambil-buah-tanpa-izin-puluhan-pelajar-di-banyuwangi-kesurupan.html)
Monday, 19 October 2009
60 Dosen Ikuti Konsolidasi Pendidikan Kewarganegaraan
16 Oktober 2009, 11:14:05| Laporan Farida Retnowulan
suarasurabaya.net| Sebanyak 60 Dosen dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) se-Jawa Timur yang memiliki sertifikasi Dosen Kewarganegaraan, mengikuti kegiatan konsolidasi Dosen Pendidikan Kewarganegaraan untuk meningkatkan mutu bela negara.
Dilaporkan DESNIN dari Radio Mandala FM Banyuwangi dalam Jaring Suara Surabaya, Jumat (16/10), hal ini dirangkum dalam penataran dan lokakarya.
Acara ini sengaja digelar Kodam V Brawijaya, bekerjasama dengan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Lokasi acara sendiri bertempat di aula Hotel Ketapang Indah Banywuangi.
SUGIHARTOYO Ketua Pelaksana Kegiatan ini sekaligus Rektor Untag Banyuwangi mengatakan dari Banyuwangi sendiri hanya terdapat 2 dosen yang mengikuti acara ini, karena memang yang mempunyai sertifikasi Dosen Kewarganegaraan hanya 2 orang dari ratusan dosen di Banyuwangi.
Untuk narasumber dalam acara ini adalah Ditjen Pothan Direktur Pembinaan Kesadaran Bela Negara Jakarta, Prof DR. SETYO HARNOWO Laksamana Pertama TNI dari Departemen Ketahanan dan Pengamanan, dan WARSITO Ketua Asosiasi Dosen Kewarganegaraan Indonesia.(far/ipg)
dari (http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=22b6af1af24cf1cf754343716d285c93200970377)
suarasurabaya.net| Sebanyak 60 Dosen dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) se-Jawa Timur yang memiliki sertifikasi Dosen Kewarganegaraan, mengikuti kegiatan konsolidasi Dosen Pendidikan Kewarganegaraan untuk meningkatkan mutu bela negara.
Dilaporkan DESNIN dari Radio Mandala FM Banyuwangi dalam Jaring Suara Surabaya, Jumat (16/10), hal ini dirangkum dalam penataran dan lokakarya.
Acara ini sengaja digelar Kodam V Brawijaya, bekerjasama dengan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi. Lokasi acara sendiri bertempat di aula Hotel Ketapang Indah Banywuangi.
SUGIHARTOYO Ketua Pelaksana Kegiatan ini sekaligus Rektor Untag Banyuwangi mengatakan dari Banyuwangi sendiri hanya terdapat 2 dosen yang mengikuti acara ini, karena memang yang mempunyai sertifikasi Dosen Kewarganegaraan hanya 2 orang dari ratusan dosen di Banyuwangi.
Untuk narasumber dalam acara ini adalah Ditjen Pothan Direktur Pembinaan Kesadaran Bela Negara Jakarta, Prof DR. SETYO HARNOWO Laksamana Pertama TNI dari Departemen Ketahanan dan Pengamanan, dan WARSITO Ketua Asosiasi Dosen Kewarganegaraan Indonesia.(far/ipg)
dari (http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=22b6af1af24cf1cf754343716d285c93200970377)
Subscribe to:
Posts (Atom)




