Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Tuesday, 3 May 2011
Ulat Bulu Kembali Serang Banyuwangi
suarasurabaya.net| Ratusan ulat bulu kembali menyerang Banyuwangi. Ulat bulu itu menyerang tanaman awar-awar dan mulai masuk ke rumah warga.
RUDI dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Rabu (04/05), melaporkan, ulat bulu muncul sejak 6 hari lalu. Ulat bulu berasal dari lahan kosong milik warga depan perkampungan dan ditinggal selama beberapa hari sehingga tumbuh tanaman awar-awar.
Selain masuk ke rumah warga, ulat bulu itu mulai meluber ke satu diantara ruas jalan A Yani Banyuwangi. Ini cukup meresahkan warga karena ulat bulu menyebabkan gatal-gatal. (tin)
dari (http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=8e7d9f00ff5c0ac8f9112be3988dad57201192151)
Tuesday, 15 March 2011
Banyuwangi Waspada Penyebaran Virus H5N1
BANYUWANGI, Kompas.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mewaspadai munculnya kembali flu burung atau virus H5N1. Pemeriksaan dan penyemprotan unggas di berbagai pusat peternakan mulai dilakukan guna menghindari penyebaran penyakit tersebut.
Kewaspadaan terahadap flu burung muncul setelah warga di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi melaporkan kematian 50 ekor ayam ke dinas peternakan, Februari lalu. Ayam-ayam tersebut menurut warga mati hampir serentak.
Kepala bidang peternakan Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Banyuwangi, Bambang Sugiyanto, Selasa (15/3/11) mengatakan, timnya sudah mengadakan penelitian tentang penyebab kematian ayam tersebut. Hasilnya, ayam-ayam tersebut mati karena penyakit newcastle disease. "Dari sampel yang diteliti, penyebab kematian bukan karena flu burung. Meski demikian kami tetap mewaspadai kebangkitan penyakit itu," kata Bambang.
Sejumlah warga yang memelihara ayam, akhir-akhir ini merasa khawatir. Sebab Februari lalu ada laporan adanya ayam yang mati mendadak. Rohman (34), warga Kedaleman, Kecamatan Rogojampi kini mulai mengisolasi ayam peliharaannya di halaman rumah saja. Adapun Sarmidi (29) warga Kalirejo, Kecamatan Kabat memilih menyemprot kandang dengan air sabun sepekan sekali. Sarmidi mengatakan selama serangan flu burung belum terbukti benar, ia masih merasa aman.
Menurut Bambang, kondisi cuaca dan iklim yang ekstrem seperti saat ini mendukung perkembangan virus seperti flu burung. Banyuwangi sendiri menjadi endemik virus tersebut. Kasus kematian ayam akibat flu burung sebelumnya terjadi pada tahun 2009 dan 2010. Saat itu ratusan ayam di Kecamatan Banyuwangi, Purwoharjo dan genteng.
Selain mengadakan penyemprotan disinfektan secara berkala, Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan juga membentuk satuan tugas penelitian dan penanggulangan flu burung. Satgas tersebut khusus ditugaskan mendeteksi adanya penularan penyakit dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Meski flu burung sebelumnya marak, namun hingga kini tim kami belum menemukan adanya penularan penyakit hewan ke manusia, kata Bambang.
Wednesday, 23 February 2011
Puluhan Siswa MTsN 2 Banyuwangi Keracunan
Banyuwangi - Sebanyak 44 siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Banyuwangi, di Desa Sumberberas Kecamatan Muncar, Banyuwangi, keracunan. Mereka diduga
keracunan jajanan yang dibeli dan dimakan saat jam istirahat berlangsung.
Dari 44 siswa tersebut yang dirawat di puskesmas setempat sebanyak 38 siswa. Namun yang menjalani rawat inap hanya 10 siswa saja. Sisanya diperbolehkan pulang setelah menjalani pengobatan.
Nyaris semua siswa yang keracunan adalah pelajar putri. Hanya satu orang pelajar laki-laki yang menjadi korban. Rata-rata mereka mengaku mengalami pusing, mual disertai muntah-muntah setelah memakan pentol, nasi goreng serta nasi pecel yang dibeli dari pedagang makanan yang ada di sekolah.
"Makanan itu dibeli mereka kemarin, baru pagi tadi efeknya terasa, ada juga yang mulai malam harinya sudah mengeluh sakit," jelas Imam Ashari, Guru MTsN 2 Banyuwangi, kepada detiksurabaya.com saat ditemui di Puskesmas Sumberberas, Rabu (23/02/2011).
Sejumlah korban menuturkan, pentol atau nasi goreng yang mereka santap memiliki rasa yang tidak seperti biasanya. Terutama pada saus tomat yang rasanya asam, seperti makanan yang sudah basi.
"Sausnya rasanya tidak seperti biasa, masam," jelas Putri, seorang siswa kelas 3, yang harus menjalani rawat inap karena kondisinya lemah.
Pihak puskesmas masih melakukan observasi, untuk mengetahui penyebab pasti keracunan. Namun sampel makanan yang disebut siswa belum didapatkan, karena
para pedagang disekolah keburu pulang.
(fat/fat)
keracunan jajanan yang dibeli dan dimakan saat jam istirahat berlangsung.
Dari 44 siswa tersebut yang dirawat di puskesmas setempat sebanyak 38 siswa. Namun yang menjalani rawat inap hanya 10 siswa saja. Sisanya diperbolehkan pulang setelah menjalani pengobatan.
Nyaris semua siswa yang keracunan adalah pelajar putri. Hanya satu orang pelajar laki-laki yang menjadi korban. Rata-rata mereka mengaku mengalami pusing, mual disertai muntah-muntah setelah memakan pentol, nasi goreng serta nasi pecel yang dibeli dari pedagang makanan yang ada di sekolah.
"Makanan itu dibeli mereka kemarin, baru pagi tadi efeknya terasa, ada juga yang mulai malam harinya sudah mengeluh sakit," jelas Imam Ashari, Guru MTsN 2 Banyuwangi, kepada detiksurabaya.com saat ditemui di Puskesmas Sumberberas, Rabu (23/02/2011).
Sejumlah korban menuturkan, pentol atau nasi goreng yang mereka santap memiliki rasa yang tidak seperti biasanya. Terutama pada saus tomat yang rasanya asam, seperti makanan yang sudah basi.
"Sausnya rasanya tidak seperti biasa, masam," jelas Putri, seorang siswa kelas 3, yang harus menjalani rawat inap karena kondisinya lemah.
Pihak puskesmas masih melakukan observasi, untuk mengetahui penyebab pasti keracunan. Namun sampel makanan yang disebut siswa belum didapatkan, karena
para pedagang disekolah keburu pulang.
(fat/fat)
Saturday, 28 August 2010
RS Yasmin Banyuwangi Jadi yang Terbaik dalam Asian Hospital Management Award 2010
Beri Layanan Seharga Semangkuk Bakso |
Prestasi membanggakan ditorehkan Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi (RSYB) dalam ajang Asian Hospital Management Award 2010 di Seoul, Korea Selatan, 19 - 20 Agustus lalu. Wakil Indonesia itu menyabet trofi excellent reward untuk kategori marketing, public relation, and promotional. Bagaimana RSYB mampu bersaing dengan RS-RS se-Asia dalam even itu"
NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi
Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi sebenarnya tidak termasuk RS nomor satu di Banyuwangi. RS itu bahkan termasuk biasa-biasa saja secara fisik. Kapasitas RS tersebut juga relatif kecil. RSYB hanya memiliki 50 tempat tidur untuk pasien.
"Kalau melihat jumlah bed kami, memang masih kecil," ungkap Direktur RSYB Burhanuddin Hamid Darmadji.Berada persis di jantung Kota Gandrung, luas kompleks RSYB masih kalah dibanding rumah sakit milik pemerintah atau swasta lainnya di Banyuwangi. Apalagi, sebelum beralih fungsi menjadi rumah sakit seperti saat ini, masyarakat Banyuwangi lebih mengenal Yasmin sebagai laboratorium dan klinik kesehatan biasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, klinik itu kemudian mengubah wajah dan status menjadi rumah sakit. Masyarakat pun kemudian mengenalnya dengan sebutan RSYB. Meski secara ukuran fisik kecil, manfaat RSYB banyak dirasakan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Sebab, RS swasta tersebut terus mencari inovasi dan terobosan sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang murah serta berkualitas. Salah satunya, produk layanan kesehatan yang diberi nama Yasmin-Lakers Up.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan itu, masyarakat tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Cukup dengan Rp 5.000, pasien sudah bisa mendapatkan layanan rumah sakit mulai rawat inap dan pengobatan lainnya di RSYB. Inovasi itulah yang kemudian mengantar rumah sakit tersebut mewakili Indonesia dalam ajang Asian Hospital Management Award 2010 di Seoul, Korea Selatan.
Sebelumnya, selama dua tahun berturut-turut pada 2008 dan 2009, RSYB menahbiskan diri sebagai RS terbaik di level nasional. Pada 2008 dalam ajang Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Award 2008, RSYB meraih juara ketiga bidang human resources development project (HRD). Metode pemberian remunerasi pegawai melalui parameter senyum menjadi awal inovasi rumah sakit tersebut.
Lalu, pada 2009, RSYB menelurkan inovasi anyar lagi. Kali ini di bidang marketing, customer service, dan public relation. Berkat inovasi itu, RSYB terpilih menjadi yang terbaik dalam Persi Award 2009 dan berhak mewakili Indonesia dalam kompetisi inovasi RS tingkat Asia tahun ini.
RSYB juga bisa menjawab kepercayaan yang diberikan itu. Mereka mampu meraih prestasi terbaik dalam ajang Asian Hospital Management Award tersebut. Yang membanggakan, even itu diikuti 10 negara yang melibatkan 500 manajer rumah sakit dari 58 rumah sakit ternama se-Asia.
Dalam kompetisi itu, RSYB mengusung topik pemasaran layanan kesehatan bertajuk selling hospital in a bowl of meatball (menjual rumah sakit dalam semangkuk bakso). Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri yang beranggota para pakar kesehatan dari Amerika Serikat, India, Hongkong, dan tuan rumah.
Dalam ajang internasional itu, RSYB memamerkan daya saingnya dengan rumah sakit ternama di kawasan Asia lainnya seperti Assunta Hospital dari Malaysia, Apollo Hospital Hyderabad dari India, Samitivej Hospital dari Thailand, dan beberapa peserta lainnya, termasuk wakil Indonesia lainnya, RS Dharmais Jakarta.
Dibanding RS-RS itu, RSYB termasuk paling kecil dan "pelosok". Namun, juri tidak terpengaruh kondisi tersebut. Mereka justru menilai inovasi yang ditunjukkan RSYB telah menginspirasi RS lain bahwa layanan kesehatan setingkat RS bisa dilakukan dengan supermurah, seharga semangkuk bakso.
Keberhasilan RYSB menarik perhatian sesama kompetitor dalam ajang tersebut. Beberapa rumah sakit di negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina menyatakan tertarik untuk mengadopsi ide pelayanan supermurah ala RSYB itu. Namun, sebagian wakil negara lain menyatakan sulit mengimplementasikan strategi marketing tersebut lantaran kebijakan pemerintah masing-masing.
"Kami bangga atas prestasi ini. Apalagi, presiden Asian Hospital Federation (AHF) berjanji memublikasikan terobosan kami ini dalam jurnal AHF," ujar Burhanuddin.AHF melihat, model pelayanan kesehatan yang diperkenalkan RSYB cukup unik dan terjangkau bagi masyarakat luas. Calon pasien cukup mengeluarkan biaya Rp 5.000 atau setara USD 0,5 setahun. Bila diwujudkan barang, ongkos sebesar itu hanya untuk semangkuk bakso di warung. "Memang sangat murah dan terjangkau masyarakat luas," tegas Burhanuddin yang juga penggagas inovasi pelayanan kesehatan di RSYB tersebut.
Menurut dia, kunci dalam pelayanan kesehatan ada pada kepercayaan konsumen kepada rumah sakit. Untuk mendapatkan pelayanan yang murah, RSYB menjembatani tiga komponen dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Yakni, rumah sakit, asuransi, dan masyarakat selaku customer.
"Kami ingin keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi semua rumah sakit di Indonesia. Karena itu, kami akan membukukannya agar bisa dijadikan panduan RS lain yang ingin menerapkan," tegasnya. (*/c5/ari)
Prestasi membanggakan ditorehkan Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi (RSYB) dalam ajang Asian Hospital Management Award 2010 di Seoul, Korea Selatan, 19 - 20 Agustus lalu. Wakil Indonesia itu menyabet trofi excellent reward untuk kategori marketing, public relation, and promotional. Bagaimana RSYB mampu bersaing dengan RS-RS se-Asia dalam even itu"
NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi
Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi sebenarnya tidak termasuk RS nomor satu di Banyuwangi. RS itu bahkan termasuk biasa-biasa saja secara fisik. Kapasitas RS tersebut juga relatif kecil. RSYB hanya memiliki 50 tempat tidur untuk pasien.
"Kalau melihat jumlah bed kami, memang masih kecil," ungkap Direktur RSYB Burhanuddin Hamid Darmadji.Berada persis di jantung Kota Gandrung, luas kompleks RSYB masih kalah dibanding rumah sakit milik pemerintah atau swasta lainnya di Banyuwangi. Apalagi, sebelum beralih fungsi menjadi rumah sakit seperti saat ini, masyarakat Banyuwangi lebih mengenal Yasmin sebagai laboratorium dan klinik kesehatan biasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, klinik itu kemudian mengubah wajah dan status menjadi rumah sakit. Masyarakat pun kemudian mengenalnya dengan sebutan RSYB. Meski secara ukuran fisik kecil, manfaat RSYB banyak dirasakan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Sebab, RS swasta tersebut terus mencari inovasi dan terobosan sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang murah serta berkualitas. Salah satunya, produk layanan kesehatan yang diberi nama Yasmin-Lakers Up.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan itu, masyarakat tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Cukup dengan Rp 5.000, pasien sudah bisa mendapatkan layanan rumah sakit mulai rawat inap dan pengobatan lainnya di RSYB. Inovasi itulah yang kemudian mengantar rumah sakit tersebut mewakili Indonesia dalam ajang Asian Hospital Management Award 2010 di Seoul, Korea Selatan.
Sebelumnya, selama dua tahun berturut-turut pada 2008 dan 2009, RSYB menahbiskan diri sebagai RS terbaik di level nasional. Pada 2008 dalam ajang Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Award 2008, RSYB meraih juara ketiga bidang human resources development project (HRD). Metode pemberian remunerasi pegawai melalui parameter senyum menjadi awal inovasi rumah sakit tersebut.
Lalu, pada 2009, RSYB menelurkan inovasi anyar lagi. Kali ini di bidang marketing, customer service, dan public relation. Berkat inovasi itu, RSYB terpilih menjadi yang terbaik dalam Persi Award 2009 dan berhak mewakili Indonesia dalam kompetisi inovasi RS tingkat Asia tahun ini.
RSYB juga bisa menjawab kepercayaan yang diberikan itu. Mereka mampu meraih prestasi terbaik dalam ajang Asian Hospital Management Award tersebut. Yang membanggakan, even itu diikuti 10 negara yang melibatkan 500 manajer rumah sakit dari 58 rumah sakit ternama se-Asia.
Dalam kompetisi itu, RSYB mengusung topik pemasaran layanan kesehatan bertajuk selling hospital in a bowl of meatball (menjual rumah sakit dalam semangkuk bakso). Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari dewan juri yang beranggota para pakar kesehatan dari Amerika Serikat, India, Hongkong, dan tuan rumah.
Dalam ajang internasional itu, RSYB memamerkan daya saingnya dengan rumah sakit ternama di kawasan Asia lainnya seperti Assunta Hospital dari Malaysia, Apollo Hospital Hyderabad dari India, Samitivej Hospital dari Thailand, dan beberapa peserta lainnya, termasuk wakil Indonesia lainnya, RS Dharmais Jakarta.
Dibanding RS-RS itu, RSYB termasuk paling kecil dan "pelosok". Namun, juri tidak terpengaruh kondisi tersebut. Mereka justru menilai inovasi yang ditunjukkan RSYB telah menginspirasi RS lain bahwa layanan kesehatan setingkat RS bisa dilakukan dengan supermurah, seharga semangkuk bakso.
Keberhasilan RYSB menarik perhatian sesama kompetitor dalam ajang tersebut. Beberapa rumah sakit di negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina menyatakan tertarik untuk mengadopsi ide pelayanan supermurah ala RSYB itu. Namun, sebagian wakil negara lain menyatakan sulit mengimplementasikan strategi marketing tersebut lantaran kebijakan pemerintah masing-masing.
"Kami bangga atas prestasi ini. Apalagi, presiden Asian Hospital Federation (AHF) berjanji memublikasikan terobosan kami ini dalam jurnal AHF," ujar Burhanuddin.AHF melihat, model pelayanan kesehatan yang diperkenalkan RSYB cukup unik dan terjangkau bagi masyarakat luas. Calon pasien cukup mengeluarkan biaya Rp 5.000 atau setara USD 0,5 setahun. Bila diwujudkan barang, ongkos sebesar itu hanya untuk semangkuk bakso di warung. "Memang sangat murah dan terjangkau masyarakat luas," tegas Burhanuddin yang juga penggagas inovasi pelayanan kesehatan di RSYB tersebut.
Menurut dia, kunci dalam pelayanan kesehatan ada pada kepercayaan konsumen kepada rumah sakit. Untuk mendapatkan pelayanan yang murah, RSYB menjembatani tiga komponen dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Yakni, rumah sakit, asuransi, dan masyarakat selaku customer.
"Kami ingin keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi semua rumah sakit di Indonesia. Karena itu, kami akan membukukannya agar bisa dijadikan panduan RS lain yang ingin menerapkan," tegasnya. (*/c5/ari)
Friday, 13 August 2010
Jamu Banyuwangi Masuk Daftar 46 Jamu Berbahaya BPOM
VIVAnews - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk mewaspadai obat tradisional yang beredar di Indonesia. BPOM mengeluarkan daftar berisi 46 obat tradisional yang mengandung bahan kimia.
Kepala BPOM RI Kustantinah, Jumat 13 Agustus 2010 menjelaskan bahwa 46 obat tradisional atau jamu berbahaya itu mengandung bahan kimia di luar takaran yang sudah ditentukan.
Kustantinah menjelaskan, kini telah terjadi pergeseran tren jenis Obat Tradisional Berbahan Kimia Obat (OT-BKO). Jika pada kurun waktu 2001-2007 trend OT-BKO berbentuk obat rematik dan penghilang rasa sakit, maka sejak 2007 hingga kini menjadi obat pelangsing dan penambah stamina. "Perubahan tren ini diakibatkan permintaan konsumen," katanya.
BPOM telah melakukan langkah preventif dengan menarik semua peredaran OT-BKO di pasaran. Jika produsen membandel, maka BPOM akan melaksanakan langkah hukum untuk memberikan efek jera.
Berikut ke 46 jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia:
1. Wei Yi Xin Kapsul Produksi Jiangsu Haihong Pharmaceutical China (Mengandung Glibenklamida).
2. Gemuk Segar Eka Jaya No. 1 Serbuk, Perusahaan Jamu (PJ) Satu Jaya Kopja Aneka Sari Cilacap (mengandung Parasetamol).
3. Kateling Jiaonang Produksi tidak jelas, importir PT Saras Subur Ayoe (mengandung CTM).
4. Pegal Linu Eka Jaya No.2, PJSatu Jaya Kopja Aneka Sari Cilacap (mengandung parasetamol).
5. Pegal Linu Sari Widodo COD, Ikot Putra Kinasih, Banyuwangi. (mengandung Fenilbutason).
6. Yin Chiao Tablet, PT Herba Aneka Semesta, Tangerang, (mengandung parasetamol).
7. Gemuk Sehat Pusaka Raga, PJ Bani Sahad, Cilacap (mengandung parasetamol).
8. Tenaga Sehat Pegal Linu Serbuk Produksi PJ Tenaga Sehat, Cilacap (mengandung metampiron).
9. Asam Urat Flu Tulang Super Tablet, PJ Ramuan Makassar, Cilacap (mengandung parasetamol)
10. Asam Urat Flu Tulang Super Tablet, PJ Ramuan Makassar, Cilacap (mengandung parasetamol).
11. Buah Delima Darah Tinggi Kapsul, PJ Amrih Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol dan fenilbutason).
12. Buah Delima Kapsul PJ Amrih Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol).
13. Gajah Kuat Tablet, PJ Pasific Trafic (mengandung fenilbutason).
14. Gemuk Sehat Untuk Pria dan Wanita Jati Sehat, PJ Salira Jaya, Cilacap, (mengandung parasetamol).
15. Obat gatal-gatal (eksim) Brantas Kapsul, PJ Ampuh Jaya, Cilacap (mengandung CTM).
16. Obat Kuat Tongkat Mesir Serbuk, PJ Bintang Pasir, (mengandung Tadalafil).
17. Pakar Jaya Asam Urat Si Tangkur Serbuk, PJ Pakar Jaya, Cilacap (mengandung parasetamol).
18. Power Sex Kapsul, PJ Kuat Sentosa (mengandung sildenafil sitrat).
19. Serbuk Brastomolo, PJ Sari Manjur, Cilacap (mengandung Natrium Diklofenak)
20. Top Jaya Sakti Kapsul, PJ Amrih Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol)
21. Torpedo Serbuk, PJ Segurah (mengandung sildenafil sitrat)
22. Walet Mas Serbuk PJ Sekar Arum, Cilacap (mengandung parasetamol)
23. Yunang Kapul, PJ Air Madu, Magelang (mengandung Sildenafil Sitrat)
24. Chang San Serbuk, PJ Aar Mujarab,Cilacap (mengandung parasetamol)
25. Flu Tulang Serbuk, PJ Tri Tunggal, Kroya, Cilacap (mengandung parasetamol)
26. Puji Sehat Gemuk Sehat Serbuk PJ Puji Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol)
27. Sukma Perkasa Asam Urat Serbuk PJ Akar Perkasa, Cilacap (mengandung fenilbutason)
28. Asam Urat+Flu Tulang Ramuan Mahkota Dewa Kapsul, Kopja Aneka Sari Unit III, Gunung Sugih, Cilacap (mengandung Fenilbutason dan parasetamol)
29. Kammasutera Serbuk, PJ Sari India, Jakarta (mengandung sildenafil sitrat).
30. Pegal Linu dan Asam Urat Montalin Kapsul, PJ Air Madu, Magelang (mengandung parasetamol dan natrium diklofenak)
31. Godong Ijo Kapsul, PJ Air Madu, Magelang (mengandung parasetamol dan natrium diklofenak).
32. Buah Merah Khusus Pria dan Wanita Kapsul, produksi tidak tercantum (mengandung parasetamol)
33. Pa’e Obat Kuat dan Tahan Lama Kapsul, PJ Tujuh Empat (mengandung sidenafil sitrat).
34. Kuat Jantan Obat Kuat dan Tahan Lama Kapsul, PJ Benua Mas (mengandung sildenafil sitrat)
35. Gemuk Sehat Kapsul, PJPusaka Kraton Jawa (mengandung parasetamol)
36. Akar Jawa China Kapsul, PJ Bintang Genta Buana, Jateng(mengandung parasetamol)
37. Pegal Linu Reumatik Asam Urat Untuk Pria dan Wanita Kuat Sentosa Serbuk, PJ Gaya Baru, Cilacap (mengandung parasetamol dan fenilbutason)
38. Multi Guna Kaler Untuk Pria dan Wanita Serbuk, PJ Berkah Jaya, Cilacap (mengandung parasetamol)
39. Asam Urat Kaler Untuk Pria dan Wanita Serbuk, PJ Berkah Jaya, Cilacap (mengandung parasetamol)
40. Samurat Extra untuk Pria dan Wanita Serbuk, PJ Serbat Mujarab, Cilacap (mengandung parasetamol)
41. Asam Urat Nyeri Tulang Pengapuran Kapsul, PJ Alam Papua, Cilacap (mengandung fenilbutason)
42. 5X Lebih Dahsyat Obat Kuat dan Tahan Lama Tablet, PJ Singa Laut (mengandung parasetamol)
43. On-Top Kapsul, produksi Putra Jaya Melaka, Malaysia (mengandung Sildenafil Sitrat)
44. Lizhe Ba Zi Hu Zin Lin Tablet, New Ving Hong Enterprise, Perak, Malaysia (mengandung parasetamol)
45. New Happy Strong Kapsul, produksi tidak tercantum (mengandung sildenafil sitrat)
46. Morinda Extra Gingseng Kapsul, PJ Rizki Sukses Abadi (mengandung parasetamol).
Laporan: Iwan Kurniawan
Wednesday, 4 August 2010
Pemerintah Banyuwangi Siapkan 300 Ribu Vaksin Flu Burung
TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan dan Peternakan Banyuwangi, Jawa Timur, tahun ini menyiapkan 300 ribu vaksin flu burung.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Nanang Sugianto mengatakan, penyediaan vaksin itu melalui proses lelang dengan alokasi dana sebesar Rp 60 juta. Dana untuk pengadaan vaksin berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2010.
Vaksin akan dibagikan secara gratis kepada sekitar 100 peternak di 24 kecamatan yang memiliki ternak unggas kurang dari 500 ekor. "Kalau peternak besar sudah punya cara pencegahan penyakit yang lebih baik," kata Nanang kepada wartawan, Selasa (4/8).
Menurut Nanang, meski belum ada laporan kasus flu burung, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tetap mewaspadai merebaknya virus H1N1, terutama akibat anomali cuaca yang rentan menyebabkan penyakit.
Awal tahun 2009 lalu, flu burung merebak di 12 kecamatan di Banyuwangi dan menyebabkan kematian ribuan ekor unggas.
Selain pada unggas, Pemerintah Banyuwangi juga akan membuka pelayanan kesehatan gratis bagi 5.000 ekor sapi dan kambing milik warga. "Antara lain pemberiaan obat cacing dan inseminasi buatan," ujar Nanang pula.
Pelayanan kesehatan gratis ini, katanya, juga untuk mencegah maraknya penyakit pada ternak akibat perubahan cuaca. IKA NINGTYAS.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Nanang Sugianto mengatakan, penyediaan vaksin itu melalui proses lelang dengan alokasi dana sebesar Rp 60 juta. Dana untuk pengadaan vaksin berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2010.
Vaksin akan dibagikan secara gratis kepada sekitar 100 peternak di 24 kecamatan yang memiliki ternak unggas kurang dari 500 ekor. "Kalau peternak besar sudah punya cara pencegahan penyakit yang lebih baik," kata Nanang kepada wartawan, Selasa (4/8).
Menurut Nanang, meski belum ada laporan kasus flu burung, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tetap mewaspadai merebaknya virus H1N1, terutama akibat anomali cuaca yang rentan menyebabkan penyakit.
Awal tahun 2009 lalu, flu burung merebak di 12 kecamatan di Banyuwangi dan menyebabkan kematian ribuan ekor unggas.
Selain pada unggas, Pemerintah Banyuwangi juga akan membuka pelayanan kesehatan gratis bagi 5.000 ekor sapi dan kambing milik warga. "Antara lain pemberiaan obat cacing dan inseminasi buatan," ujar Nanang pula.
Pelayanan kesehatan gratis ini, katanya, juga untuk mencegah maraknya penyakit pada ternak akibat perubahan cuaca. IKA NINGTYAS.
Monday, 8 March 2010
Alat Kejut Pembunuh Bakteri Susu
JAWA TIMUR -- Seorang anak pemilik sapi perah mendadak sakit setelah meminum susu segar di Desa Sragi, Songon, Banyuwangi, Jawa Timur, pada 2009. Padahal susu tersebut sudah dimasak. Sudah puluhan anak mengalami kasus serupa.
Hadi Apriliawan merasa penasaran. Mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya ini segera mencari referensi mengenai penyebabnya. Dari pencariannya, Hadi menyimpulkan bahwa anak itu sakit akibat susu segar yang dimasak pada suhu 60 derajat Celsius. Pada suhu itu, susu segar masih mengandung berbagai bakteri, meski susu dalam kemasan. Padahal susu yang salah kelola bisa rusak.
Susu menjadi sehat karena bakteri negatif, seperti Coliform, mati. Pembunuhan bakteri sering menggunakan metode thermal atau pemanasan, seperti pasteurisasi, yaitu pemanasan pada suhu 60-100 derajat Celsius. Cara ini tak menghilangkan spora bakteri, walaupun bisa memperpanjang umur simpan susu.
Bahkan sejumlah kandungan dalam susu, termasuk protein whey, terlarut. "Bakteri positif juga terbunuh," kata mahasiswa kelahiran 21 April 1989 ini. "Susu yang baik adalah susu dengan sedikit jumlah bakteri, tidak mengandung spora mikroba patogen...."
Hadi lantas mencoba membuat alat pengolah susu yang aman. Alat pembunuh bakteri tanpa "melukai" bakteri positif. Susu rusak, secara fisik, sebenarnya mudah dikenali dari aroma, rasa, dan bentuk yang menggumpal. Rusaknya fisik susu juga bisa diketahui dari perubahan kimiawi dan organoleptis.
Tapi bakteri negatif dalam susu sulit dideteksi. Padahal bakteri ini umumnya menjadikan zat gizi dalam susu sebagai sumber energi, makanan, atau penunjang perkembangbiakannya. Susu tercemar bakteri jahat bisa semakin rusak apabila cara penyimpanannya salah.
Dalam penelitiannya, Hadi menggunakan bakteri Coliform sebagai indikator polusi, seperti penelitian lain, pada umumnya. Coliform, yang tumbuh baik pada suhu 44-46 derajat Celsius, tetap mampu tumbuh pada suhu -2 ataupun 50 derajat Celsius. Keberadaan bakteri ini menunjukkan besar kemungkinan bakteri membahayakan lain tumbuh subur.
Lima bulan sejak September 2009, satu alat dibuat, yakni Laban Elektrik. Laban merupakan bahasa arab, yang berarti susu. Jika dibuat dalam skala rumah tangga, biaya membuat Laban Elektrik sebesar Rp 3 juta. Alat itu menjadikan Hadi sebagai pemenang lomba Pekan Kreativitas Mahasiswa. Ia masuk 10 besar pemenang acara Pemuda Berprestasi Berbasis Iman dan Taqwa Kementerian Pemuda dan Olahraga dan mendapatkan hadiah Rp 15 juta.
Laban Elektrik sangat sederhana. Sebelum masuk ke alat itu, susu terlebih dulu didinginkan. Susu kemudian dimasukkan dalam tangki bahan. Alat disetel pada tegangan 20-80 kilovolt dan dinyalakan beberapa detik. Semakin rendah tegangan, proses penyalaan alat semakin lama. Setelah alat dimatikan, susu sehat dikeluarkan melalui tempat pengeluaran.
Kejutan listrik tegangan tinggi (pulsed electric field) menyebabkan mikroorganisme yang terkandung pada susu mati. Kematian bisa terjadi akibat aktivitas metabolisme yang sudah tak normal. Kejutan meningkatkan metabolisme tubuh sel terlalu tajam sehingga mengganggu kerja dan fungsi fisiologis sel.
"Kematian mikroba akibat kejutan listrik tegangan tinggi karena dipengaruhi oleh kerusakan struktur sel lain, seperti rusaknya membran sitoplasma sel," kata Hadi. "Alat ini bisa mematikan bakteri negatif dan mempertahankan bakteri positif."
Sistem kejut listrik ini menjadi penyempurna metode thermal yang diteliti seniornya sebelumnya. Alat pengolah susu--metode thermal--dengan sistem kejut listrik ini menguntungkan karena mematikan bakteri dalam waktu singkat, berbiaya murah, dan hemat listrik.
Alat ini tak hanya berlaku pada pengolahan susu, tapi juga pada benda cair lain, seperti minuman atau makanan. Laban menarik minat sebuah perusahaan susu. Hadi pernah ditawari memproduksi alat secara massal. Namun ia menolaknya.
Hadi beralasan masih perlu menyempurnakan tangki bahan agar bisa dibuat dalam skala rumah tangga. Dengan begitu, tetangganya bisa membuat alat ini sendiri. BIBIN BINTARDI | PURWANTO
Empat Bagian Laban
1. Pembangkit listrik tegangan tinggi
Alat ini bisa memproduksi pulsa tegangan 25 kilovolt, terdiri atas transformator fly-back penaiktegangan, penyearah daya DC yang stabil, oskilator sebagai pengatur waktu, dan rangkaian driver penguat arus dari oskilator.
2. Dua tangki bahan (food tank)
Berfungsi sebagai tempat bahan olahan. Tangki pertama sebagai penampung bahan masukan dan tangki kedua sebagai penampung bahan keluaran. Di dalam tangki terdapat pompa celup, yang berguna memompa bahan ke wadah perlakuan. Satu keran berguna sebagai pengatur debit keluaran.
3. Ruang perlakuan (processing room)
Proses pasteurisasi berlangsung menggunakan tegangan tinggi. Dalam pipa dengan panjang alur 30 cm ini terdapat elektroda aluminium untuk mempercepat proses pasteurisasi dengan metode kejut listrik.
4. Meja penyangga
Ini hanya alat pendukung proses pasteurisasi kejut.
Saturday, 6 March 2010
Anak Menderita Penyakit Parah, Orang Tua Tak Punya Biaya
TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Jumlah bocah asal Dusun Watu Ulo, Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, Jawa Timur, yang akan dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetmo, Surabaya bertambah dua orang, yakni Raditya (14 bulan) dan Putri (3 tahun).
Kedua bocah itu mengalami katarak sejak dilahirkan. Kondisi paling parah dialami Raditya. Selain katarak, syaraf penglihatannya terganggu yang menyebabkan kedua bola matanya berputar.
Sebelumnya, di Dusun tersebut juga ditemukan seorang bocah penderita gangguan hati kronis bernama Fauzi Ramadhan (5,5 tahun).
Ketiga bocah tersebut kini bernasib sama. Keluarganya tidak memiliki biaya untuk ongkos transpor dan biaya hidup selama di Surabaya. “Suami cuma jadi koki,” kata Sampir Mariati, 25 tahun, ibu Raditya kepada Tempo, Jumat (5/3).
Menurut Sampir, anaknya membutuhkan lensa mata bagian kiri supaya dapat melihat. Sedangkan, lensa mata kanan dan pengangkatan lendir pernah dibiayai oleh salah satu yayasan anak cacat di Kabupaten Jember.
Reni Anggraeni, bidan desa setempat, mengatakan, rencananya ketiga bocah itu akan diberangkatkan bersama-sama ke Surabaya. Biaya perawatan ditanggung melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda). Namun, karena keluarga tidak memiliki uang transpor dan biaya hidup di Surabaya, ia akan meminta bantuan Dinas Sosial. “Masih akan kami ajukan,” katanya.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Farmasi Dinas Kesehatan Banyuwangi Juwana Sujuswa mengatakan, Dinas Kesehatan tidak menanggung biaya transportasi dan biaya hidup pasien yang dirujuk melalui Jamkesmasda. Sebab pos anggaran tersebut berada di Dinas Sosial. “Kewenangannya sendiri-sendiri,” ujarnya.
Namun berdasarkan hasil kordinasi, kata Juwana, Dinas Sosial juga tidak memiliki anggaran karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2010 Kabupaten Banyuwangi belum cair. “Masih diupayakan cara lain.”
Asisten Sosial Ekonomi Pemerintah Kabupaten Banywangi Herman Sulistyo berjanji untuk mengupayakan anggaran untuk ketiga bocah tersebut. IKA NINGTYAS.
Monday, 22 February 2010
Penderita HIV di Banyuwangi Bertambah
TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Sebanyak 17 orang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selama Januari 2010 positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Menurut Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Mochammad Izzudin, 17 penderita HIV baru tersebut terdiri atas tujuh laki-laki, tujuh perempuan, dan tiga waria.
Temuan 17 penderita HIV baru itu, kata dia, hasil pemeriksaan di klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan serta Rumah Sakit Umum Genteng. "Temuan kasus baru, harus satu pintu di klinik VCT," kata Izzudin di kantornya, Senin (22/2).
Selain penderita HIV baru, sebanyak 7 orang juga positif menderita AIDS. Sementara, jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal selama sebulan kemarin, kata dia, sebanyak enam orang.
Dengan munculnya penderita baru HIV tersebut menambah angka pengidap HIV/AIDS sejak 1999-2010 menjadi 565 kasus. Rinciannya, penderita HIV sebanyak 293 kasus sedangkan AIDS 156 kasus.
Penyebab tertinggi HIV/AIDS berasal dari kalangan pekerja seks komersial 128 orang, pengguna narkoba 104 kasus, dan pelanggan lokalisasi 92 kasus.
Izzudin mengatakan, tingginya angka HIV/AIDS di Banyuwangi tersebut menempatkan Banyuwangi di rangking ketiga di Jawa Timur. "Setelah Surabaya dan Kabupaten Malang," ujarnya.
Menurut Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Mochammad Izzudin, 17 penderita HIV baru tersebut terdiri atas tujuh laki-laki, tujuh perempuan, dan tiga waria.
Temuan 17 penderita HIV baru itu, kata dia, hasil pemeriksaan di klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan serta Rumah Sakit Umum Genteng. "Temuan kasus baru, harus satu pintu di klinik VCT," kata Izzudin di kantornya, Senin (22/2).
Selain penderita HIV baru, sebanyak 7 orang juga positif menderita AIDS. Sementara, jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal selama sebulan kemarin, kata dia, sebanyak enam orang.
Dengan munculnya penderita baru HIV tersebut menambah angka pengidap HIV/AIDS sejak 1999-2010 menjadi 565 kasus. Rinciannya, penderita HIV sebanyak 293 kasus sedangkan AIDS 156 kasus.
Penyebab tertinggi HIV/AIDS berasal dari kalangan pekerja seks komersial 128 orang, pengguna narkoba 104 kasus, dan pelanggan lokalisasi 92 kasus.
Izzudin mengatakan, tingginya angka HIV/AIDS di Banyuwangi tersebut menempatkan Banyuwangi di rangking ketiga di Jawa Timur. "Setelah Surabaya dan Kabupaten Malang," ujarnya.
IKA NINGTYAS
Wednesday, 17 February 2010
Denada Susut 12 Cm
Rabu, 17 Februari 2010 | 19:09 WIB | Posts by: Achmad Pramudito |
Ditanya kiat suksesnya membuat tubuhnya terlihat langsing, Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan ini justru menegaskan yang dilakukannya adalah menjalankan pola hidup sehat. “Hidup sehat dan makan makanan yang sehat,” ujarnya ketika ditemui sesaat sebelum mengisi acara memperingati setahun pemerintahan Gubernur Jatim, H Soekarwo, Jumat (12/2).
Putri penyanyi senior Emilia Contessa ini menambahkan, dirinya kini tak lagi makan goreng-gorengan. Selain itu, gadis yang akrab disapa Dena ini juga menjauhi makanan yang mengandung gula.
“Yang paling penting, dalam melakukan sesuatu tujuannya adalah agar sehat, bukan agar tidak gemuk. Aku mengurangi gorengan karena makanan itu tidak bagus buat jantung. Begitu juga gula, tidak baik untuk tubuh,” tandas Dena yang enggan menyebut berat badannya kini.
Berkat disiplin ketat terhadap makanan, pemilik tinggi 168 cm ini akhirnya bisa tersenyum ketika lingkar pinggangnya berkurang sekitar 12 cm. “Berperilakulah hidup dan makan yang sehat, soal nanti jadi kurus itu bonusnya,” begitu canda Dena.
Disamping mengatur pola makan, gadis kelahiran Jakarta, 19 Desember 1978 ini juga rajin olahraga. Setiap hari Dena rutin melakukan joging sekitar satu jam. “Hasilnya, saat di panggung nafas saya jadi lebih enteng, nyanyi juga lebih enak dan nyaman,” pungkasnya. pra
Monday, 15 February 2010
Pemerintah Banyuwangi Gratiskan Biaya Persalinan Ibu Hamil
TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggratiskan biaya persalinan bagi ibu hamil. Layanan persalinan gratis ini dibuka di 15 Puskesmas di daerah terpelosok.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Juwana Sujuswa mengatakan, pelayanan gratis tersebut karena Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melaksanakan program Jaringan Pengamanan Kesehatan Masyarakat Banyuwangi (JPKMB).
Tahun ini disediakan anggaran Rp 6,5 miliar. "AlokasI JPKM tetap seperti tahun lalu, namun layanan persalinan gratis baru tahun ini," kata Juwana di kantornya, Senin (15/2).
Juwana menjelaskan program tersebut sekaligus melayani persalinan darurat maupun persalinan normal. Untuk persalinan darurat bisa dilakukan di 10 Puskesmas. Yakni, Puskesmas Bajulmati, Wongsorejo, Kedungrejo, Licin, Singojuruh, Benculuk, Purwoharjo, Pesanggaran, Sempu, dan Puskesmas Kalibaru Kulon.
Adapun untuk pelayanan persalinan normal, selain bisa dilakukan di 10 Puskesmas tersebut, juga bisa dilayani di lima Puskesmas lainnya, seperti Puskesmas Sepanjang, Sambirejo, Kebondalem, Tegaldlimo, dan Puskesmas Sumberberas.
Seluruh Puskesmas tersebut berlokasi di daerah terpinggir atau yang berjarak 20 kilometer dari rumah sakit. Sebab, angka kematian ibu melahirkan, kata Juwana, lebih banyak karena terlambat di bawa ke puskesmas atau rumah sakit. "Bisa karena keluarganya telat membawa, atau terkendala alat transportasi," ujarnya.
Padahal angka persalinan terbanyak justru terjadi di Puskesmas yakni mencapai 23 ribu dalam setahun. Sementara angka kematian ibu melahirkan tahun 2009 lalu mencapai 24 kasus. Penyebab kematiaan tertinggi, yakni 46 persen diakibatkan karena perdarahan. IKA NINGTYAS.
Friday, 15 January 2010
Bokong dan Paha yang Padat Pertanda Sehat
Menurut Dr Konstantinos Manolopoulos, salah satu dari tim peneliti, orang yang memiliki lemak di bagian paha dan punggung akan hidup lebih lama karena lemak tersebut akan menjadi perangkap partikel lemak yang berbahaya, dan secara aktif mengeluarkan senyawa yang bermanfaat. Penelitian itu juga menyebutkan kalau lemak di area ini memiliki fungsi membentengi tubuh dari penyakit diabetes, penyakit jantung, dan kondisi lainnya yang berkaitan dengan kegemukan. Kondisi ini memang berbeda dengan jika lemak tersebut berada di sekitar perut.
''Lemak di bagian pinggul dan paha sangat baik untuk Anda. Namun lemak di bagian perut itu buruk,'' tukas Dr Manolopoulos. Lemak di sekeliling pinggang dan perut tidak perlu dipelihara, karena kemungkinan bisa menyebarkan asam lemak berbahaya ke seluruh tubuh.
Para peneliti juga mengatakan, jika Anda sudah paham tentang hal ini, tentu Anda bisa mencari cara yang tepat untuk memerangi kegemukan dan penyakit yang berkaitan seperti diabetes dan penyakit jantung.
Friday, 25 December 2009
Menghilangkan Ketombe dengan Jeruk Nipis

koranisun.com|Cara mengatasi ketombe ada beberapa cara, selain dengan mengurangi stress, banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B dan menggunakan buah mengkudu, cara lain yang dapat dipraktekkan dengan praktis dan mudah serta murah adalah dengan menggunakan jeruk nipis. Buah ini lebih mudah diperoleh dan memiliki khasiat untuk menghilangkan ketombe.
1. Ambil jeruk nipis satu buah saja. Belah menjadi 2 bagian.
2. Gosok-gosokkan ke kulit kepala anda.
3. Diamkan selama 5-10 menit. Lalu keramasi rambut anda hingga bersih. Lakukan rutin selama 2 kali dalam seminggu sampai ketombe hilang.
Tuesday, 22 December 2009
Gawat, Virus Flu Burung di Indonesia Sudah Bermutasi

Jakarta, Virus Avian Influenza H5N1 (flu burung) telah ada di di Indonesia lebih dari lima tahun. Belum selesai penanganannya, sudah muncul virus baru H1N1 (flu babi) yang menimbulkan pandemik.
Alhasil, Avian Influenza mulai terlupakan. Padahal tanpa banyak orang tahu, telah terjadi mutasi pada virus flu burung di Indonesia. Menariknya adalah virus yang mengalami mutasi berasal dari unggas yang rutin diberi vaksin.
Dengan adanya mutasi ini ditakutkan efek dan penanganannya harus berbeda lagi pada manusia. Penanganan vaksin sebelumnya sudah terbukti tidak mempan lagi pada unggas.
Hal tersebut dipaparkan oleh drh. Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, MSi dalam sidang disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ketika ditemui detikhealth, Selasa (22/12/2009), di FKUI Salemba Jakarta.
Menurut dokter hewan yang meraih gelar doktornya dengan IPK 3,97 tersebut, jika Indonesia masih menggunakan strategi vaksin lama untuk menangani flu burung maka harus ada evaluasi dan up date vaksin tersebut secara rutin minimal setiap 2 tahun sekali.
"Kebijakan pemerintah harus dievaluasi terutama di sektor peternakan karena dari sektor itulah virus berasal dan bermutasi," kata doktor kelahiran Banyuwangi 1972. Indi saat ini bekerja sebagai peneliti muda di Departemen Virologi Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
Dalam studinya, Indi mengisolasi 20 virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 asal unggas yang berasal dari tahun 2003 hingga 2008, baik yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.
Hasil isolasi tersebut menunjukkan bahwa unggas yang divaksin justru mengalami mutasi sekitar 6-7 persen setiap tahunnya. Studi yang dilakukan Dr Indi juga menunjukkan 62,58 persen virus AI asal Indonesia mengalami mutasi pada proteinnya.
Virus-virus AI yang muncul pada tahun 2007-2008 pun diketahui lebih resisten terhadap amantadin dibanding virus pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan vaksin yang ada di Indonesia selama ini kurang tepat.
"Kebijakan pemerintah Indonesia yang menggunakan vaksin isolat lokal kemudian beralih menjadi H5N2 dalam menanggulangi AI pada unggas sebaiknya dikaji ulang," kritik doktor yang pernah mendapatkan penghargaan dari Microbiology Indonesia Society sebagai The 2nd Best Paper Award 2009.
Penggunaan vaksinasi sebagai salah satu dari sembilan strategi pengendalian penyakit flu burung di sektor peternakan ternyata menghadapi berbagai kendala. Konsekuensinya adalah risiko munculnya virus baru karena tekanan imunologis akibat vaksinasi.
Diharapkan dengan adanya studi ini, pemerintah bisa lebih perhatian lagi terhadap monitoring dan update vaksin Avian Influenza. Karena jika terus bermutasi kemungkinan akan menghasilkan virus yang lebih ganas dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit.
"Para pengambil kebijakan di atas sebaiknya mendengarkan ilmuwan dan jangan banyak bermain politik saja. Saya tahu jatuh bangunnya istri saya dalam menyelesaikan studi ini. Tapi saya bangga karena istri saya bisa memberi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk Indonesia," kata sang suami yang merupakan sarjana peternakan, Sutanto Arso Birowo, SPt.
Indi yang juga seorang ibu dari satu orang anak ini mendapatkan hadiah gelar doktornya tepat di hari ibu. Prestasi yang ia capai menandakan bahwa seorang ibu selain bisa mengurus suami dan anak-anaknya, juga bisa menyumbangkan ilmunya untuk kemajuan bangsa dan negara.(fah/ir)
Monday, 7 December 2009
Kaki Gajah dari Luar Jawa, 15 Penderita di Banyuwangi

Senin, 7 Desember 2009 | 8:32 WIB | Posts by: jps |
Banyuwangi - Surya- Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menemukan sedikitnya 15 warga menderita penyakit kaki gajah (Filariasis atau Elephantiasis). Dua orang di antaranya telah meninggal dunia.
Meski begitu, Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, Mohammad Izzudin menegaskan bahwa Banyuwangi bukanlah daerah endemis kaki gajah. Ia berargumen, mayoritas penderita penyakit yang disebabkan cacing filaria ini memiliki riwayat tinggal dalam jangka waktu lama di luar pulau seperi Sumatra dan Bali.
“Karena gejala penyakit ini baru muncul sekitar 10 tahun setelah tertular, besar indikasi mereka tertular saat berada di daerah tersebut,” kata dia.
Izzudin menjelaskan, kaki gajah adalah golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka berkembanglah menjadi penyakit tersebut.
Oleh karena itu, untuk mencegah penyebaran penyakit kaki gajah, Dinkes Banyuwangi menggalakkan penyuluhan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). PSN itu tidak hanya untuk memberantas jentik nyamuk Aedes aegypti, namun juga untuk semua jentik nyamuk.
Selain menggalakkan penyuluhan kepada masyarakat, Dinkes Banyuwangi juga melakukan ‘tes kartu’, yakni tes darah yang sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva). Pengetesan dengan cara mengambil contoh darah ini dilakukan secara massal di daerah penderita. “Syukurlah hingga kini hasilnya masih negatif, kami belum menemukan penularan di Banyuwangi,” katanya.
Penderita kaki gajah di Banyuwangi pertama kali ditemukan pada tahun 2000. Penderita berusia antara 23-75 tahun dan tersebar di Kecamatan Banyuwangi, Glagah, Tegaldlimo, Purwoharjo, Rogojampi dan Genteng. Pengobatan penderita kaki gajah dilakukan oleh Dinkes Banyuwangi secara cuma-cuma. Mereka diberikan Diethylcarbamazine (DEC) yang harus diminum satu kali seminggu selama 40 minggu.
Dengan pengobatan tersebut pembengkakan dapat berkurang antara 2 - 3 cm. “Memang tidak bisa kembali normal, tapi setidaknya tidak membesar lagi. Untuk pembengkakan kronis hingga 3 kali atau lebih dari ukuran semula harus dilakukan operasi pengangkatan,” terang Izzudin. st9
Friday, 27 November 2009
Peggy Tak Pernah Lelah Sosialisasikan HIV/AIDS

Jumat, 27 November 2009 19:08 WIB | Zumrotum Solicha |
Jember (ANTARA News) - Dengan nada suara yang gemulai, seorang waria yang bernama Peggy Carlo (30) asal Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memulai bercerita tentang kegiatannya sebagai aktivis yang peduli terhadap HIV/AIDS di kabupaten penghasil tembakau tersebut.
Awalnya, ia hanya ingin mengetahui tentang HIV/AIDS untuk kepentingan dirinya sendiri, karena waria adalah salah satu kalangan yang memiliki risiko tinggi tertular penyakit yang mematikan tersebut.
Namun, melihat ketidakpedulian dari kaum waria dan gay terhadap persoalan HIV/AIDS, hatinya tergerak untuk mensosialisasikan pencegahan penularan HIV/AIDS di kalangan waria.
"Memang banyak yang tidak peduli dan acuh tak acuh terhadap persoalan HIV/AIDS, padahal virus yang belum ada obatnya itu bisa menyerang dan membunuh kami sebagai kaum waria dan gay," kata Peggy yang memiliki nama asli Bagus Wahyudi.
Masyarakat masih memandang rendah terhadap waria dan gay yang berada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Jember yang dikenal sebagai kota santri dan religius.
"Anggapan banyak orang, kami adalah sampah masyarakat dan merupakan salah satu penyebar virus HIV/AIDS yang membawa ancaman kematian bagi setiap orang," ucapnya lirih.
Aktivitasnya sehari-hari sebagai penyiar radio Prosalina FM di Kabupaten Jember, membuat Peggy harus memiliki wawasan yang cukup luas tentang berbagai persoalan yang terjadi.
Bahkan, tidak jarang ia harus mencari informasi tambahan melalui internet dan membaca buku.
"Saya tidak ingin ketinggalan informasi karena seseorang yang ingin maju harus mengetahui informasi lebih dulu dan banyak membaca, termasuk informasi tentang HIV/AIDS," tuturnya dengan nada yang "gemulai".
Ia menuturkan, jumlah waria dan gay di Kabupaten Jember sebanyak 150 orang yang tersebar di 31 kecamatan di kabupaten penghasil tembakau itu, namun sebagian besar tinggal di kawasan kota.
"Sejak dua tahun terakhir ini, sudah enam waria yang meninggal dunia akibat HIV/AIDS di Jember," paparnya.
Melihat banyaknya waria yang meninggal sia-sia karena virus yang mematikan tersebut, Peggy melalui komunitasnya "Waria dan Gay Organization" (Wagayo) berusaha mensosialisasikan kepada kalangan waria dan gay supaya tidak tertular HIV/AIDS.
"Sebagian waria memang hidup di jalanan dan menjadi pekerja seks komersial (PSK), sehingga mereka memiliki risiko tinggi terjangkit HIV/AIDS karena perilaku yang menyimpang dan sering berganti pasangan," Peggy mengungkapkan.
Hampir seluruh waria yang terjangkit HIV/AIDS di Jember, tertular karena hubungan seksual yang sering berganti pasangan, tidak ada yang tertular karena jarum suntik dalam mengonsumsi narkoba.
"Sebagian besar waria di Jember tertular HIV/AIDS saat mereka bekerja ke luar kota, seperti Pulau Bali dan Surabaya," paparnya.
Menyampaikan informasi kepada kaum waria dan gay, kata dia, tidak semudah menyampaikan kepada masyarakat biasa karena rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh mereka dan ketidakpedulian terhadap kasus HIV/AIDS di Jember yang semakin meningkat.
"Saya harus menggunakan cara khusus untuk menyampaikan informasi tentang HIV/AIDS kepada mereka dan tidak menyinggung secara vulgar hubungan seks bebas yang biasa mereka lakukan di jalanan," tuturnya.
Terkadang sosialisasi tentang penularan HIV/AIDS yang disampaikannya kepada waria diselipkan pada obrolan yang santai, sehingga mereka mudah untuk menerima informasi tersebut.
Tidak jarang, Peggy harus sabar untuk menjelaskan secara perlahan-lahan kepada kaum waria dan gay tentang risiko tinggi penularan HIV/AIDS yang dilakukan sebagian besar oleh mereka, terkadang PSK waria tidak sadar perilakunya itu menyebabkan tertularnya virus yang menggerogoti daya tahan tubuh manusia.
ATM kondom
"Saya mengkampanyekan penggunaan kondom kepada waria dan gay, apabila mereka melakukan hubungan seksual. Awalnya banyak yang tidak mau menggunakan kondom, namun setelah saya jelaskan dengan jelas maka sebagian besar mereka mau menggunakan kondom," ujarnya sambil tersenyum.
Terkait dengan hal itu, ia berharap, ada mesin anjungan tunai mandiri (ATM) kondom yang disediakan oleh pemerintah bagi mereka yang memiliki potensi tinggi tertular HIV/AIDS, seperti kalangan waria dan pekerja seks komersial (PSK).
"Dulu, pernah ada pembagian kondom secara gratis kepada waria dan gay di Jember, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Kondom sangat penting untuk mencegah penularan HIV/AIDS," katanya.
Tidak hanya waria yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, namun masyarakat umum juga mudah tertular apabila melakukan hubungan seksual bebas dengan sering berganti pasangan, menggunakan jarum suntik untuk mengonsumsi narkoba secara bergantian dan perilaku seksual yang menyimpang.
"Ada penderita HIV/AIDS di Jember yang tertular dari tranfusi darah, ini sungguh memprihatinkan," ucapnya sambil mengelus dada.
Sejauh ini, lanjut dia, upaya yang dilakukannya sebagai aktivis peduli HIV/AIDS tidak hanya melakukan sosialisasi, namun mengajak waria dan gay memeriksakan diri ke klinik "Voluntary Concelling and Test" (VCT) yang ada di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi Jember.
"Saya mengajak beberapa waria yang berprofesi sebagai PSK untuk memeriksakan diri ke klinik VCT, supaya diketahui sejak dini, apakah mereka sudah positif tertular HIV/AIDS atau belum," katanya.
Sedikitnya 20 waria dan gay yang sudah diajak Peggy mengunjungi klinik VCT untuk mendeteksi penularan HIV/AIDS yang diderita oleh mereka, beberapa waria yang diperiksa ternyata positif tertular HIV/AIDS melalui perilaku seksual bebas yang menyimpang.
Rahasia
"Saya tetap merahasiakan siapa-siapa saja waria yang tertular HIV/AIDS supaya mereka tidak dikucilkan oleh masyarakat dan komunitas waria sendiri, namun penderita HIV/AIDS diminta tidak melakukan hubungan seksual yang bisa menularkan virus mematikan itu kepada waria lainnya," tuturnya.
Ia mengatakan, sebelum mengajak para waria untuk memeriksakan diri ke klinik VCT RSD dr Soebandi, dirinya memberikan contoh kepada kaum waria dan gay lainnya dengan melakukan tes HIV/AIDS lebih dulu.
"Jantung saya berdebar kencang saat membuka hasil tes HIV/AIDS dan alhamdulillah hasilnya negatif. Saya tidak tertular virus yang menyerang daya tahan tubuh dan menyebabkan kematian itu," katanya dengan senang dan bangga.
Beberapa waria yang tertular HIV/AIDS, selalu didampinginya dan diberikan motivasi supaya menjalani kehidupan dengan baik, tanpa harus sedih dan berduka sepanjang sisa hidupnya.
"Memang penderita AIDS yang stadium tiga tidak akan bertahan lama hidupnya, namun yang mengatur hidup manusia adalah Tuhan. Saya selalu memberikan semangat untuk bertahan hidup kepada waria yang sudah positif AIDS," kenangnya sambil menghela napas panjang karena teringat temannya Lola (bukan nama sebenarnya), yang meninggal dunia satu tahun lalu akibat AIDS.
Beberapa kali, lanjut dia, waria penderita AIDS mengeluh untuk mengonsumsi "Anti-Retrovial" (ARV) sepanjang hidupnya, namun dengan berbagai cara, ia membujuk yang bersangkutan untuk tetap mengonsumsi ARV secara teratur dan tepat waktu.
"Memang berat bagi penderita AIDS stadium lanjut yang harus mengonsumsi ARV seumur hidup, namun obat itu untuk menjaga daya tahan kekebalan tubuhnya supaya kesehatannya tetap stabil," ujarnya.
Saat mendengar kabar meninggalnya Lola, kata Peggy, beberapa teman waria sangat kehilangan dan berduka cita, namun sebagian besar waria tersebut tidak tahu kalau penyebab meninggalnya Lola karena AIDS yang dideritanya.
"Saya sangat `terpukul` mendengar kabar meninggalnya Lola karena tidak menduga akan secepat ini. Lola masih berusia 23 tahun, seharusnya hidupnya masih panjang," tuturnya sambil menerawang jauh.
Kasus kematian yang menimpa Lola membuat semangat Peggy semakin kuat untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada seluruh waria di Jember, supaya tidak ada lagi komunitas waria dan gay yang meninggal karena AIDS.
"Motivasi saya semakin kuat untuk memberikan informasi kepada waria dan gay supaya mereka tidak tertular HIV/AIDS yang menyebabkan kematian," katanya.
Kendati tidak mendapatkan honor untuk menjadi aktivis peduli HIV/AIDS, Peggy tidak kenal lelah mensosialisasikan tentang pentingnya mencegah penularan HIV/AIDS untuk kalangan waria dan gay di Jember.
Bahkan sejumlah kegiatan tentang kepedulian HIV/AIDS juga pernah dilakukan waria asal kota tembakau ini antara lain menjadi aktivis LSM Global Fund yang menangani kasus HIV/AIDS dan narkoba, menjadi narasumber sejumlah seminar tentang AIDS dan ia pernah menyabet juara Harapan I sebagai Duta AIDS di wilayah Besuki yang meliputi empat kabupaten (Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi).
"Saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa waria bukanlah sampah masyarakat, kami punya hati nurani dan sama seperti orang normal pada umumnya. Kami juga punya kepedulian terhadap kasus HIV/AIDS di Jember dan sekitarnya," katanya menegaskan.
Waria yang aktif mengikuti sejumlah kegiatan di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur ini pernah mencoba ikut ajang Indonesian Idol dan program "Be A Man" di salah satu televisi, namun gagal lolos seleksi ke tahap selanjutnya.
"Saya mengikuti sejumlah kegiatan yang postif, supaya waria tidak dianggap `sebelah mata` oleh masyarakat," katanya.
Sementara Ketua Paguyuban Duta HIV/AIDS di Jember, Heny Sukartiningsih, mengemukakan, pihaknya selalu mengajak semua kalangan untuk peduli terhadap kasus HIV/AIDS di Jember, karena jumlah penderita HIV/AIDS di kabupaten setempat cukup tinggi.
"Kami berusaha mengajak generasi muda dan sejumlah pihak yang memiliki risiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS termasuk kaum waria dan gay untuk peduli terhadap bahaya AIDS. Paling tidak, mereka mencegah tertular dan menularkan HIV/AIDS," kata Heny.
Data yang dimilikinya menyebutkan, jumlah penderita HIV/AIDS di Jember sejak akhir tahun 2006 hingga akhir Maret 2009, mencapai 214 penderita, 33 di antaranya meninggal dunia.
Sebanyak 214 kasus penderita HIV/AIDS, dengan rincian 82 orang PSK, pelanggan PSK 45 orang, pengguna jarum suntik narkoba (IDU) 30 orang, ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang mengidap HIV/AIDS sebanyak 40 orang dan lain-lain sebanyak 17 orang.
"Paguyuban duta HIV/AIDS berupaya untuk menekan tingginya penularan HIV/AIDS dari PSK di Jember," katanya menerangkan.
Penularan HIV/AIDS di Jember semakin meluas, dua tahun terakhir peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS sangat tinggi.
Heny menjelaskan, jumlah kasus HIV/AIDS yang ditemukan tahun 2004 sebanyak tiga kasus, tahun 2005 sebanyak enam kasus baru, tahun 2006 sebanyak dua kasus baru, tahun 2007 sebanyak 74 kasus dan tahun 2008 menjadi sebanyak 102 kasus.
"Sebagian besar penderita HIV/AIDS di Jember didominasi oleh PSK yang terkadang beberapa tahun bekerja ke luar kota, saat pulang ke Jember, ia sudah positif tertular HIV/AIDS," ujarnya mengungkapkan.
Menurut dia, generasi muda harus terlibat aktif untuk mengurangi penularan HIV/AIDS melalui pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS dan memberikan penyuluhan kepada warga yang beresiko tertular HIV/AIDS.(*)
Monday, 16 November 2009
Polsek KP3 Tanjungwangi Amankan 50 Anjing Diduga Rabies

Banyuwangi - Polsek KP3 Ketapang, Banyuwangi, menggagalkan upaya penyelundupan 50 ekor anjing dari Pulau Bali yang diduga terjangkit rabies. Puluhan anjing muda tersebut akhirnya diamankan ke Instalasi Karantina Ketapang, Senin (16/11/2009) sore.
Puluhan anjing tersebut diamankan Polsek KP3 Tanjugwangi, sesaat tiba di pelabuhan Tanjungwangi. 50 Anjing tersebut dimasukan dalam dua sangkar besi berukuran besar dan diangkut dengan sebuah mobil jenis pickup L 9975 VA.
Penangkapan ini saat polisi merasa curiga saat mendengar gonggongan anjing secara bersahutan dari balik mobil tersebut.
Saat diperiksa petugas, pengiriman 50 ekor anjing tersebut tidak dilengkap surat sehat hewan. Saat itu juga, SuUpriyanto, pemilik anjing langsung diamankan ke Polsek KP3 Tanjungwangi, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
"Pemilik anjing masih kami periksa," kata Kapolsek KP3 Tanjungwangi, AKP JUmadi, pada wartawan di kantornya.
Sementara ke-50 anjingnya dibawa Instalasi Karantina Ketapang untuk menjalani tes kesehatan. Diduga kuat anjing-anjing tersebut membawa penyakit rabies. Pasalnya, di Pulau Bali sendiri, penyakit yang menular melalui liur anjing tersebut ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Selain itu, secara fisik ke-50 anjing nampak tidak terawat serta kotor. Jika terbukti membawa rabies, maka kesemua anjing akan dimusnahkan dengan cara disuntik mati selanjutnya bangkainya dibakar.
"Akan kami musnahkan dengan cara suntuk mati dan dibakar," jelas Suryantoro, petugas Karantina hewan dari Intalasi Karantina Hewan, Ketapang, di kantornya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Supriyanto mengaku jika anjing-anjing itu akan dijadikan hewan penunggu peternakan ayam. Meski begitu, polisi menduga kuat jika sebenarnya anjing-anjing tersebut akan dijual dibeberapa kota besar untuk dijadikan bahan kuliner.
(bdh/bdh)
(Irul Hamdani melaporkan untuk detiksurabaya)
Friday, 6 November 2009
Karantina Bali Perketat Pengawasan Pelabuhan Cegah Rabies
Jumat, 06 November 2009 18:53 WIB |
Denpasar, (tvOne)
Petugas Karantina Bali terus memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan di pintu pelabuhan laut dan udara, untuk mencegah masuknya hewan yang dapat menularkan penyakit rabies. "Kami akan perketat pengawasan lalu lintas hewan di pintu-pintu pelabuhan dan bandar udara," kata Kepala Badan Karantina Departemen Pertanian, Hari Priyono ditemui ANTARA dalam sebuah seminar di Denpasar, Jumat.
Hari mengatakan, pihaknya terus berupaya mencegah masuknya hewan-hewan yang dapat menularkan atau membawa penyakit rabies ke Bali. Petugas karantina, kata dia, disiapkan bersama intansi terkait lainnya untuk menjaga dan mengawasi di titik-titik pintu masuk atau pengeluaran hewan seperti di Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Padang Bai, Bandar Udara Ngurah Rai.
Menurut Hari, tindakan pencegahan terhadap keluar masuknya hewan baik yang datang maupun yang keluar dari Bali, harus dilakukan secara menyeluruh. "Pengawasan jangan hanya bertumpu di pelabuhan Gilimanuk saja namun di pelabuhan ketapang, Banyuwangi juga perlu melakukan hal sama untuk mencegah masuknya hewan yang bisa menularkan rabies," ujar Hari.
Pasalnya, jika pihaknya sudah maksimal melakukan pengawasan di pelabuhan Gilimanuk sebagai pintu keluarnya hewan ke Bali, namun disisi lain pengawasan di pintu masuk lemah, maka hal itu tidak ada artinya.
Menyinggung kordinasi dalam pelaksanaan tugas pengawasan bersama instansi terkait lainnya seperti pihak kepolisian dan otoritas pelabuhan atau bandara di Bali, menurutnya sudah sinergis dan berjalan dengan baik. "Acuan kerja petugas sudah jelas, tinggal implementasinya saja di lapangan," kata Hari.
Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi khususnya terkait aturan pelarangan terhadap masuknya hewan-hewan ke Bali. Demikian pula sosialisasi terhadap UU Karantina No 16 tahun 1992 tentang hewan, tumbuhan dan ikan.
Masyarakat, kata dia, diingatkan bahwa pelanggaran atas aturan tersebut dapat diancam pidana hingga lima tahun. "Pelakunya bisa didenda hingga Rp150 juta," tambah Hari.
Demikian pula, upaya yang dilakukan masyarakat Bali dalam membendung penyebaran rabies tidak akan berjalan baik jika tidak didukung masyarakat lainnya di wilayah sekitarnya seperti NTB, NTT dan Jawa Timur. "Jadi masyarakat di sekitar Bali harus mendukung dan melakukan gerakan seirama dengan apa yang dilakukan di Bali," kata Hari.
Jika melihat semakin ketatnya pengawasan serta adanya larangan masuknya hewan-hewan yang dapat menularkan rabies di Bali, pihaknya berharap Bali akan benar-benar dapat steril dari penyakit yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa itu. "Bali sudah tertutup dan steril dari masuknya hewan-hewan yang terinfeksi rabies," kata Hari.
(dari http://www.tvone.co.id/berita/view/27030/2009/11/06/karantina_bali_perketat_pengawasan_pelabuhan_cegah_rabies/)
Denpasar, (tvOne)
Petugas Karantina Bali terus memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan di pintu pelabuhan laut dan udara, untuk mencegah masuknya hewan yang dapat menularkan penyakit rabies. "Kami akan perketat pengawasan lalu lintas hewan di pintu-pintu pelabuhan dan bandar udara," kata Kepala Badan Karantina Departemen Pertanian, Hari Priyono ditemui ANTARA dalam sebuah seminar di Denpasar, Jumat.
Hari mengatakan, pihaknya terus berupaya mencegah masuknya hewan-hewan yang dapat menularkan atau membawa penyakit rabies ke Bali. Petugas karantina, kata dia, disiapkan bersama intansi terkait lainnya untuk menjaga dan mengawasi di titik-titik pintu masuk atau pengeluaran hewan seperti di Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Padang Bai, Bandar Udara Ngurah Rai.
Menurut Hari, tindakan pencegahan terhadap keluar masuknya hewan baik yang datang maupun yang keluar dari Bali, harus dilakukan secara menyeluruh. "Pengawasan jangan hanya bertumpu di pelabuhan Gilimanuk saja namun di pelabuhan ketapang, Banyuwangi juga perlu melakukan hal sama untuk mencegah masuknya hewan yang bisa menularkan rabies," ujar Hari.
Pasalnya, jika pihaknya sudah maksimal melakukan pengawasan di pelabuhan Gilimanuk sebagai pintu keluarnya hewan ke Bali, namun disisi lain pengawasan di pintu masuk lemah, maka hal itu tidak ada artinya.
Menyinggung kordinasi dalam pelaksanaan tugas pengawasan bersama instansi terkait lainnya seperti pihak kepolisian dan otoritas pelabuhan atau bandara di Bali, menurutnya sudah sinergis dan berjalan dengan baik. "Acuan kerja petugas sudah jelas, tinggal implementasinya saja di lapangan," kata Hari.
Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi khususnya terkait aturan pelarangan terhadap masuknya hewan-hewan ke Bali. Demikian pula sosialisasi terhadap UU Karantina No 16 tahun 1992 tentang hewan, tumbuhan dan ikan.
Masyarakat, kata dia, diingatkan bahwa pelanggaran atas aturan tersebut dapat diancam pidana hingga lima tahun. "Pelakunya bisa didenda hingga Rp150 juta," tambah Hari.
Demikian pula, upaya yang dilakukan masyarakat Bali dalam membendung penyebaran rabies tidak akan berjalan baik jika tidak didukung masyarakat lainnya di wilayah sekitarnya seperti NTB, NTT dan Jawa Timur. "Jadi masyarakat di sekitar Bali harus mendukung dan melakukan gerakan seirama dengan apa yang dilakukan di Bali," kata Hari.
Jika melihat semakin ketatnya pengawasan serta adanya larangan masuknya hewan-hewan yang dapat menularkan rabies di Bali, pihaknya berharap Bali akan benar-benar dapat steril dari penyakit yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa itu. "Bali sudah tertutup dan steril dari masuknya hewan-hewan yang terinfeksi rabies," kata Hari.
(dari http://www.tvone.co.id/berita/view/27030/2009/11/06/karantina_bali_perketat_pengawasan_pelabuhan_cegah_rabies/)
Subscribe to:
Posts (Atom)







