Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, 30 September 2011

Bapak dan Genjer-genjer

Sudah sebulan terakhir ini, bapak mendapat kawan baru kala bersantai di bale-bale serambi rumah. Sebuah lagu lama yang terus-menerus diputarnya. Sungguh selalu seperti itu beberapa hari belakangan sampai akhirnya saya agak khawatir sebab ia tampak terlalu terhanyut. Lagu yang tersimpan dalam ponsel murahnya itu mengiringinya melongo menatap langit-langit, lalu kemudian memejamkan mata.
Lagu Gendjer-gendjer, penyanyi Lilis Suryani, itu kawan barunya. Buat saya, lagu itu terdengar menyeramkan. Ya, mungkin karena lagu itu memikul tuduhan nuansa horor, digosipkan sebagai lagu pengiring pembantaian para jenderal pada kisah misteri 30 September 1965. Namun, sebenarnya suara Lilis Suryani yang indah itu memang mendayu-dayu sendu. Seolah itu adalah lagu duka akan kematian. Musiknya terdengar bercampur dengan keresek radio lama. Sungguh, kengerian yang tercipta.
Padahal nyatanya, itu lagu manis tentang sayuran. Itu cerita seorang emak yang ingin memasak sayur genjer. Lalu penguasa pada suatu masa mencemplungkan bumbu politis pada wajan sayur itu. Maka jadilah lagu itu dilarang diperdengarkan. Padahal, lirik lagu berbahasa Osing itu sungguh sederhana.

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang
Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak
Bapak melek. Dipanggilnya saya. Lalu berhamburlah sebuah cerita. Lagu itu menyayat hati bapak, dan juga hati ibu, katanya. Ia bercerita, di usia ketika ia berada di sekolah dasar, lagu ini begitu populer dinyanyikan. Partai Komunis Indonesia mendapat lagu yang begitu mewakili perjuangan kaum kecil yang mereka usung. Padahal Muhammad Arief, pencipta lagu itu, tidak bermaksud menciptakan lagu yang berat di tahun 1940-an. Lalu jika akhirnya si seniman Banyuwangi ini akhirnya mati dibunuh karena dianggap terlibat PKI, sungguh malang keduanya, si lagu dan si pencipta.
Bapak lanjut bercerita, ia dulu pernah mengajak kawan-kawan kecilnya untuk berdemo di sekolah. Demo kanak-kanak yang menanggung kesedihan sederhana. Guru mereka dibunuh karena dianggap terlibat PKI. Sementara buku-buku PR murid ikut habis terbakar di rumah sang guru. Lalu, bapak kecil ini menyerukan, “Balikno bukuku, balikno bukuku!” Ah, apalah yang bisa dikembalikan, kecuali harapan hidup akan tetap berlanjut.
Sementara cerita ibu tak kalah sendu. Pada bulan kelabu itu, sekolah diliburkan karena ibu guru yang mengajar dikabarkan ditemukan di selokan. Ya, dituduh PKI, lalu teronggok di sana. Ibu di usia kanak sungguh tak tahu mengapa gurunya yang manis mesti mati. Ibu tidak diperbolehkan menangis oleh ayahnya, sebab takut dikira mendukung si ibu guru. Oh, betapa menangis bisa dianggap sebagai bukti keterlibatan. Betapa melepaskan duka saja harus tertahan.
Lalu kalau memang lagu Genjer-genjer ini mengingatkan bapak dan ibu pada kisah seram, kenapa pula lagu itu terus-terus diputar? Justru itu, katanya. Mengenang-ngenang itu menyenangkan, sepahit apapun kenangan itu. Kalau sudah kenyang dikenang, toh lagu bisa dimatikan, lalu kembali pada kenyataan.

Aku gemas. Aku tawarkan jalan tengah. Kubilang pada bapak, “Kebetulan Pak, ini ada lagu Genjer-genjer tapi dengan musik yang lebih modern.” Dengan jedag-jedug-jedag-jedug disko remix. Kuperdengarkan aransemen DubYouth ke telinganya. Tapi rupanya, eksperimen anak muda Jogja itu tak masuk di telinga Bapak. “Kenangannya gak keluar,” ujarnya.
Sesekali saya berharap kenangan sedih bapak dan ibu itu hilang saja. Tapi benar kata bapak. Biar saja cerita itu tak hilang, tapi cukup terkubur saja di pojok ingatan. Sehingga mereka tetap tersenyum, sambil mengenang dengan dendang lagu yang tertahan.
petang 30 September 2011


Tuesday, 27 September 2011

Hikayat Sabdo Palon di Banyuwangi


Menelisik Misteri Sabdo Palon
|    Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon.

     Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yangmembuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.

     Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :

164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho;
ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah
perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti
trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake
Sabdopalon lan Noyogenggong.

(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua
kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di
bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman
pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur;
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula
padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah
kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja;
hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana
wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi
wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha
asung bhekti.

(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)

Serat Darmagandhul
     Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.

     Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapanucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :

Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban,
rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang
dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe
pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong
paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah
Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang
sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”

(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilanganj awa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua  adalah saya, …”)

     Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :

“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; …”

(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi
termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan
bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa
dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane
mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono,
mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan
padhang. …..”

(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)

     Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing
rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados
momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku
Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos
dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..

….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun,
momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”

(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

     Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun.

     Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.

      Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :

“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda
têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat,
Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika,
kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng
salaminipun.”

(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)

     Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.

     Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.

      Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :

“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami
Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun
ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening
tiyang Jawi ingkang mangrêti.”

(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”

“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa
ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon,
wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”

(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)

     Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang
diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :

“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong,
nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta
nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga:
“Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi,
dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa
anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput
aneng tanah sabrang.”

(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)

     Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.

Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :

Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama
Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong
marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah
Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)

Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula
matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta
kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula
gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)

Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu
kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur
atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi
Merapi yen wus njeblug mili lahar.

(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya katakata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)

Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih
punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.

(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)

Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan
tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng
tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring
gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten
ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad
iki yekti ana kang akarya.

(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

     Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.

     Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 =17 ( 1 + 7 = 8 ).

    Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan  menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).

SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
     Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”

     Dari referensi yang kami dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

     Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut : “Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa.

      Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.

     Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik.

     Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

     Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).

     Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka
saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya
pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )

Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.

2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring
kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa,
guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )

Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.

3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane
tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe
majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )

Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.

4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut
tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon
malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan
hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang,
ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati
dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon
ngadek twah gunanya. ( bait 11 )

Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.

6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang
jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah
mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )

Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.

7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute
bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang,
eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )

Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hatihatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.

8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren
ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin
awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )

Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.

9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep
matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne
rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang
tingkah. ( bait 15 )

Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.

10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak,
saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong
kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku. 

     Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru.

      Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo.

    Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.” “Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu. Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”
     Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho.
(sumber tulisan, http://nurahmad.wordpress.com/38/)

Sunday, 14 November 2010

Memuja Mantra : Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using, Banyuwangi

Oleh Sungatno | cawanaksara.blogspot.com | Judul buku : Memuja Mantra : Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using, Banyuwangi
Penulis : Heru S.P. Saputra
Penerbit : Lkis, Yogyakarta
Cetakan : I September 2007
Tebal : xli + 394 halaman


Dalam konteks Indonesia 'kuno', mantra merupakan salah satu hal yang tidak asing lagi. Konon, hampir setiap hari nenek moyang, yang pada zaman itu sudah mengenal dan meyakini adanya kekukatan-kekuatan dari benda-benda non fisik yang sifatnya ghaib, selalu melibatkan mantra dalam melancarkan aktivitas mereka. Mulai dari aktivitas yang ada hubungannya dengan sesama manusia, binatang hingga alam raya.

Dalam buku yang berjudul Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using, Banyuwangi ini, Heru S.P. Saputra menyajikan hasil penelitian tentang mantra suku Using, yang diselenggarakan di desa Kemiren, Olehsari dan Mangir yang ketiganya berada daerah kawasan Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam konteks ini, untuk memperoleh hasil penelitian yang bagus dan berkualitas, Heru hanya intens dan membatasi penelitian pada jenis mantra santet jenis Sabuk Mangir dan Jaran Goyang. Kedua jenis mantra ini merupakan jenis mantra santet yang paling disukai dan sering diinternalisasikan masyarakat suku Using dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Heru, mantra adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya ghaib, atau susunan kata berunsurkan puisi yang dianggap mengandung kekuatan ghaib dan biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan ghaib yang lain (hlm. 95). Dalam perkembangannya, mantra secara global dapat dipilah menjadi dua jenis. Pertama, mantra Sihir, yakni jenis mantra yang dalam prekteknya hanya bisa digunakan Si pelaku untuk menyihir (mempengaruhi, mengganggu bahkan membunuh) objek yang dijadikan korban.

Kedua, mantra Santet, menurut masyarakat suku Using Santet merupakan penyempitan kata dari bahasa Jawa; mesisan kantet (sekalian/supaya lengket) atau mesisan bentet (sekalian/supaya retak atau cerai). Disebut mesisan kantet, apabila jenis "mantranya" digunakan untuk menyatukan, menjodohkan hingga mendamaikan sesuatu yang dikehendaki oleh Si Penyantet terhadap objek. Begitu juga sebaliknya, disebut mesisan bentet, ketika Si Penyantet memanfaatkan mantranya untuk kepentingan memisahkan, mengadu domba hingga mempengaruhi "kewarasan berfikir" objeknya.

Ironisnya, klasifikasi istilah mantra yang terbagi menjadi mantra Sihir dan Santet ini, sering mendapat perhatian dan pemahaman yang 'menyimpang' oleh generasi zaman sekarang. Mantra Sihir dan Santet dianggap sebagai mantra yang memiliki fungsi yang sama, bahkan mereka tidak segan-segan mengklaim bahwa mantra merupakan suatu hal yang hanya memiliki fungsi negatif dan cenderung merusak tatanan kehidupan. Semisal, terjadinya tragedi pembantaian massal dukun-dukun masyarakat suku Using pada tahun 1998 silam.

Santet Sabuk Mangir dan Jaran Goyang

Dalam konteks mantra Santet, yang paling berlaku hingga turun temurun dari generasi ke generasi suku Using adalah mantra Santet jenis Sabuk Mangir dan Jaran Goyang. Kedua jenis mantra Santet ini, sama-sama memiliki daya kekuatan untuk mempengaruhi objek yang disantet, tetapi dalam proses dan hasil penyantetat keduanya cenderung berbeda. Sabuk Mangir (SM) terkesan halus, pelan dan membutuhkan beberapa hari untuk menuai tujuan penyantet (hlm. 109). Dari sifatnya yang lambat nan pasti itu, resiko terdeteksinya penyantet -oleh pemerhati korban Santet, lebih kecil dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membongkar sindikat intervensi terselubung tersebut.

Berbeda dengan Jaran Goyang, hasil dan tujuan penyantet terhadap korban santet lebih cepat bereaksi tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Tetapi, jenis mantra yang tergolong instant dan kasar ini, lebih besar kemungkinan penyantet dapat segera terdeteksi. Pasalnya, selain para pemerhati korban santet cenderung cepat menaruh kecurigaan terhadap tingkah laku korban yang tiba-tiba berubah dari kebiasaannya sehari-hari, korban penyantetan berkemauan kuat untuk segera mencari dan ingin bersanding selamanya dengan penyantet. Apabila korban tidak sanggup mencari atau menemukan penyantet dirinya, korban akan selalu terlihat murung dan menyebut-nyebut nama penyantet, bahkan dalam kondisi yang paling parah korban tidak segan-segan mencari dan menanyakan nama penyantet diiringi pernyataan cinta, menyesal dengan suara-suara yang keras dan teriak-teriak.

Dari perbedaan efek yang ditimbulkan kedua jenis mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang tersebut, dipengaruhi oleh potensi kekuatan magi yang berbeda-beda pula. Magi adalah sesuatu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan ghaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia (hlm. 122). Menurut Heru, mantra Santet Sabuk Mangir berpotensi kekuatan magi kuning, sementara mantra Santet Jaran Goyang berpotensi kekuatan magi merah (hlm. 121-122). Mantra bermagi kuning dalam praktek penggunaannya didasari ketulusan hati dan bermaksud baik, biasanya hanya terbatas pada hubungan antar individu. Sementara, mantra bermagi merah didasari keinginan untuk memanjakan hawa nafsu dengan tujuan agar korban tersiksa batin dan fisiknya, biasanya dilakukan pelaku karena ada unsur kekecewaan dan balas dendam.

Buku yang membahas khazanah lokal suku Using ini, secara jelas telah menyajikan sejarah mulai munculnya mantra di tengah masyarakat suku Using hingga penyalah gunaan fungsi mantra yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tetapi, dari sekian halaman yang membahas seluk beluk mantra suku Using, Heru S.P. Saputra tidak menjawab pertanyaan yang secara tidak langsung termuncul akibat penjelasannya sendiri, yakni mengapa pada masa penjajahan dan peperangan yang pernah mempora-porandakan suku Using hingga tersebar diberbagai daerah, fungsi mantra Sihir tidak digunakan menghancurkan penjajah atau menggunakan fungsi mantra Santet untuk mendamaikan antara rakyat bumi putra dengan colonial penjajah sehingga terjadi perdamaian?. Semoga pada buku dan kesempatan yang lain penulis mampu menjelaskan semuanya.***


Sumber : [ Jurnalnet ]

Monday, 8 November 2010

Tempat-tempat Bersejarah di Banyuwangi


Banyuwangi atau dalam catatan sejarah lebih dikenal dengan nama Blambangan/ Belambangan menyimpan banyak mistis. Baik tentang sejarah, babad ataupun cerita-cerita yang dari mulut ke mulut terus berkembang bahkan menarik untuk ditelaah, dikaji,maupun diteliti baik mengenai sisi sejarah, budaya, maupun sosialnya
Blambangan dibalik keindahan, kesuburan ternyata memiliki beberapa bahkan banyak sekali situs-situs purbakala yang seakan-akan terabaikan atau lepas dari perhatian masyarakat Banyuwangi. Banyuwangi yang secara geografis berada di wilayah ujung paling Timur pulau Jawa ini mengandung begitu kaya situs purbalaka. Ada beberapa situs purbakala yang mungkin kurang mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi salah satunya adalah istana macan putih.
Melihat kondisi di lapangan dimana banyak situs yang kurang mendapat perhatian dari pihak-pihak yang terkait sudah selayaknya pemerintah lebih serius menangani warisan sejarah maupun budaya bagi generasi sekarang maupun yang akan dating, karma bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawan. Lebih dari itu the Founding Flowers kita pernah menyampaikan dg kata bijak “jas merah” jangan sampai melupakan sejarah.
Beberapa Peninggalan sejarah Banyuwangi :
  • Makam-Makam Bupati Banyuwangi Barat pengimaman masjid Baiturrohman terdapat makam-makam bupati Banyuwangi antara lain : Wiroguno II (1782-1818), Suronegoro (1818-1832), Wiryodono Adiningrat (1832-1867), Pringgokusumo (1867-1881), Astro Kusumo (1881-1889), sedangkan Bupati pertama Banyuwangi Mas Alit (1773-1781) gugur dan dimakamkan di Karang Asem Sedayu. Hanya bajunya saja yang dikebumikan di taman pemakaman tersebut. - Masjid Jami’ BaiturrohmanTanah wakaf dari masa (Wiroguno I) yang direhap pertama kali pada masa Raden Tumenggung Pringgokusumo. Dulu terdapat kaligrafi bertuliskan Allah Muhammad yang ditulis oleh Mas Muhammad Saleh dengan pengikutnya Mas Saelan. Mulai tahun 2005 sampai sekarang Masjid ini masih dalam tahap renovasi dan akan menjadi salah satu aikon Banyuwangi setelah selesai di renovasi. - Sumur Sri TanjungDitemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Terletak di timur Pendopo Kabupaten. Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-menurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi. Konon jika sewaktu-waktu air sumur berubah bau menjadi wangi maka itu akan menjadi suatu ertanda baik / buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini. - Musium Blambangan
  • Berlokasi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Awalnya didirikan oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat Selamet yang berkuasa pada tahun (1966-1978) di kompleks pendopo Kabupaten Banyuwangi namun pada tahun 2004 Musium direlokasikan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang. Koleksi yang dimiliki oleh museum antara lain: Berbagai macam kain batik, contoh rumah adat using Banyuwangi, kain-kain dari masa lampau, replica seni musik angklung, aneka macam senjata perang, alat-alat musik peninggalan Belanda, dan yang paling menarik perhatian pengunjung untuk melihat replica Barong dan penari Gandrong yang menjadi simbol Kota Banyuwangi - SonangkaryoSonangkaryo adalah umbul-umbul kerajinan Blambangan, menurut Mishadi hasil wawancara dengan Sayu Darmani (Tumenggungan) bahwa ibunya yang bernama Sayu Suwarsih telah lama menyimpan Sonangkaryo tersebut, namun ketika dirasa tidak kuat lagi mengemban amanah tersebut, maka dibuanglah satu kotak pusaka yang berisi umbul-umbul Sonangkaryo, Cemeti, dan Lebah penari musuh. - Tugu TNI 0032Tama Makam pahlawan yang terletak di bibir pantai Boom merupakan pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin oleh Letnan Laut Sulaiman melawan AL, AD, dan AU Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Tugu tersebut disahkan oleh Presiden RI yang pertama yaitu Bung Karno. - Benteng Ultrech (Kodim)Berada di batas selatan markas Kodim, dulu terdapat rumah nuansa Portugis yang dijadikan sebagai tempat pengintaian Balanda terhadap gerak-gerik orang Blambangan di pendopo pada masa pemerintahan Mas Alit. - Inggrisan
  • Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1766-1811, yang luasnya sekitar satu hektar, merupakan markas yang dulunya bernama Singodilaga, kemudian diganti dengan nama Loji (Inggris = Lodge, artinya penginapan / pintu penjagaan) yang disekitarnya dibangun lorong-lorong terhubung dengan Kali Lo (Selatan), dan Boom (Timur) akhirnya diserahkan kepada Inggris setelah Belanda kalah perang (Sumber Java’s Last Frontier, Margono. 2007),selatan berupa perkantoran yang disebut Bire (Sekarang Telkom) dan kantor pos, di daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang hamper mirip dengan peristiwa di hotel Yamato, Surabaya, yaitu orang-orang Blambangan dengan berani merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih saja.
Depan Inggrisan terdapat Tegal Loji, selatannya adalah perkampungan Belanda (Kulon dam), timurnya adalah Benteng Ultrech dan tempat penimbunan kayu gelondongan (sekarang Gedung Wanita) sebelah utara dulu sebagai kantor regent dan garasi kuda mayat (sekarang Bank Jatim) dan perumahan Kodim sekarang, dulu adalah markas polisi Jepang / kompetoi lalu jaman Belanda dijadikan perumahan svout
  • - Makam Datuk Malik IbrahimSalah satu Waliyullah keturunan Arab Saudi yang banyak di kunjungi peziarah dari dalam dan luar Banyuwangi terletak di Desa Lateng Banyuwangi.
  • - Konco Hoo Tong Bio
  • Terletak di Pecinan kecamatan kota Banyuwangi pada waktu terjadi pembantaian orang-orang Cina oleh VOC di Batavia, seorang yang bernama Tan Hu Cin Jin dari dratan Cina yang menaiki perahu bertiang satu.    Perahu tersebut kandas di sekitar pakem dan Tan Hu Cin Jin memutuskan menetap di wilayah Banyuwangi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah klenteng Hoo Tong Bio.    Setiap tanggal 1 bulan Ciu Gwee (kalender cina), pada tengah malam sebelum tahun baru diadakan sembahyang bersama. Dalam acara tahun baru Imlek kesenian barong Said an Kong-kong ditampilkan, kemudian ada sebuah acara yang disebut Cap Go Mee dirayakan pada hari ke 15 sesudah tahun baru Imlek, dengan mengarak patung yang Maha Kong Co Tan Hu Cin Jin keliling disekitar kampung pecinan. Hal ini dimaksud kan untuk menolak bala’ dan mengharap berkah kepada Tuhan. Acara ini dimiriahkan dengan tarian barongsai dan berbagai kesenian daerah lainnya. Makanan khas yang disajikan adalah lontong Cap Go Mee.
  • Tak hanya itu, Hari ulang tahun tempat ibadah Tri Dharma “Hoo tong Bio” yang dibangun pada tahun 1781, ucapan itu bertujuan untuk memperingati kebesaran yang mulia Kong Co Tan Hu Cin Jin dan biasanya doadakan pd tanggal 27 Agustus. - Watu DodolSebuah batu besar terletak di daerah ketapang yang pernah ditarik oleh kapal Jepang, pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang pada masa perang dunia II, dan pada maa setelah kemerdekaan dijadikan tempat pendaratan Belanda antara lain 14 April 1946 yang mendapatkan perlwanan orang Banyuwangi dibawah kepemimpinan Pak Musahra (orang tua dari Lurah Astroyu), 20 Juli 1946 Belanda mendapatkan perlawanan dari Yon Macan Putih yang dipimpin oleh Raden Abdul Rifa’I dan Letnan Ateng Yogasana, 21 Juli 1947, Yon Macan Putih yang berhasil menenggelamkan  kapal dan tengker milik Belanda
Sejak dahulu kala tempat ini dijadikan tempat Upacara Agama Hindu yaitu Jala Dipuja / Melasti / Melayis yang di maksud untuk memohon anugerah dari penguasa laut, pelaksanaannya bertepatan pada saat mentari bergeser ke Utara khatulistiwa sebelum datangnya hari raya Nyepi. Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang memberkati umatnya dengan cara mencipratkan “Tirta Suci” yaitu air suci yang diambil dari sumur pitu (tujuh sumber air). Beberapa sesaji  diarak ke laut atau di mata air sumber : http://www.banyuwangionline.com

Tuesday, 15 June 2010

Bapak Bahasa Using itu Telah Berpulang


TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Dari sofa sederhana itu, Hasan Ali, 77 tahun, seniman sekaligus penggiat budaya Banyuwangi, menghabiskan hari-harinya dengan mendengarkan siaran televisi atau menyetel musik Banyuwangian. Tanpa mata, ia tak bisa lagi menyalurkan hobi membaca.

Tubuhnya memang kian ringkih. Tapi semangatnya tetap menyala kala berbicara tentang Banyuwangi kepada Tempo yang mewawancarainya, pertengahan Maret, 2008 lalu. Itu adalah perjumpaan terakhir Tempo dengan pencipta Kamus Bahasa Using-Indonesia, terbitan PT Intan Pariwara, Klaten.

Sang Kamus berjalan itu, Senin (14/6) kemarin, sekitar jam 02.17 WIB, telah menghembuskan napas terakhirnya setelah tiga pekan dirawat di Rumah Sakit Islam Fatimah, Banyuwangi, karena diabetes dan darah tinggi. Ia meninggalkan seorang istri, empat anak, dan 10 cucu. "Bapak adalah inspirator bagi kami," kata penyanyi Emilia Contesa, anak pertama Hasan Ali.

Kakek berdarah Madura, Using, dan Pakistan itu, tak hanya sumber inspirasi bagi keluarganya, melainkan juga bagi masyarakat Banyuwangi. Kecintaannya pada Banyuwangi tak sekedar kata, melainkan telah berwujud karya dan pengabdiaan.

Tumbuh di masyarakat Using, di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, 30 menit dari kota Banyuwangi, menjadikan kakek artis Denada ini sejak kecil sudah akrab dengan kesenian Banyuwangi. Pada usia 15 tahun, Hasan Ali ikut mendirikan kelompok kesenian teater rakyat, Damarwulan, cerita epos berlatar masa Kerajaan Majapahit yang menaklukan Kerajaan Blambangan.

Keaktifan pria lulusan SMA 1 Malang di dunia seni mengantarkannya sebagai anggota DPRD Banyuwangi tahun 1955-1966 sebagai wakil seniman dari Partai Nasional Indonesia (PNI).

Kiprah pria yang pernah main film Tanah Gersang garapan Mochtar Lubis pada 1971 ini dalam melestarikan budaya Banyuwangi bukan sebuah jalan yang mulus. Pada 1969, ia mendapat tugas penting untuk mengembalikan gairah musik Banyuwangi dari Joko Supaat Slamet, bupati Banyuwangi saat itu.

Padahal, saat itu, musik Banyuwangi masih diindentikkan 'kiri' karena para senimannya kebanyakan anggota Lekra. Hasan Ali kemudian berinisiatif merekam lagu-lagu Banyuwangi itu ke dalam kaset. Jenis musik angklung yang identik dengan kiri digabungkan dengan musik gandrung yang dianggap lebih diterima masyarakat. Ya, cara itu akhirnya efektif dalam menumbuhkan industri rekaman musik Banyuwangi yang eksistensinya masih terjaga hingga kini.

Hidup Hasan Ali berikutnya dihabiskan bergulat dengan bahasa Using. Tahun 1978 ia mulai mengumpulkan kosakata bahasa Using yang tercecer dan belum terbukukan. Tanpa lelah, dia mencatat kosakata Using yang didengarnya di terminal, warung kopi, angkutan umum, dan obrolan dengan tetangga. Dia juga memburu kosakata Using pada komunitas Using yang tinggal di Jember, Bondowoso dan Situbondo.

Kosakata yang ia temukan, dengan tekun ia cari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kemudian ia tuliskan satu persatu di kertas dengan bermodalkan mesin ketik.

Upaya penyelamatan yang ia modali sendiri itu, dipicu oleh kesadaran semakin sedikitnya warga Banyuwangi yang memakai bahasa Using sebagai percakapan sehari-hari. "Mereka malu," ungkap Ketua Cabang Lembaga Kebudayaan Negara (LKN) kepada Tempo, 2008 lalu.

Keuletan penemu gong geter kerep untuk gamelan Banyuwangi ini, akhirnya menarik perhatiaan seorang peneliti Jepang, Igarasi. Berkat rekomendasi Igarasi inilah, Hasan akhirnya mendapatkan dana Rp 45 juta untuk melanjutkan perburuan bahasa Using dan membeli seperangkat komputer (Koran Tempo, 24 Februari 2007).

Perburuan selama 22 tahun itu, akhirnya melahirkan sebuah Kamus Bahasa Using-Indonesia yang diterbitkan PT Intan Pariwara, Klaten, pada 2002. Ada 30 ribu kosakata Using yang berhasil ia kumpulkan. Kamus itu naik cetak tiga kali, yang separuhnya ia bagikan gratis untuk sekolah-sekolah, pondok pesantren, dan instansi pemerintahan.

Selain kamus, mantan Ketua Dewan Kesenian Blambangan ini, juga melengkapi dengan menulis buku Tata Bahasa Using dan Pedoman Ejaan Bahasa Using. Tiga buku itulah
yang menjadi pegangan pengajaran Bahasa Using yang sejak 2007 menjadi muatan lokal di sekolah dasar dan SMP.

Kerja keras Hasan Ali memang tidak sia-sia. Bahasa Using kini bisa terselamatkan sesuai cita-citanya. Selamat jalan, Kakek....



Ika Ningtyas

Friday, 14 May 2010

KPU Banyuwangi Tetapkan Nomor Urut Calon Kepala Daerah

TEMPO/ Novi Kartika |
TEMPO Interaktif, Banyuwangi -Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyuwangi menetapkan nomor urut tiga pasangan calon kepala daerah yang akan berlaga pada pemilihan kepala daerah 14 Juli mendatang.

Penetapan nomor urut tersebut setelah melalui mekanisme undian. Nomor urut pertama didapat pasangan Abdullah Azwar Anas - Yusuf Widyatmoko (didukung PDIP, PKB, PKNU, PKS dan Golkar). Nomor urut kedua pasangan Jalal - Yusuf Nur Iskandar (Partai Demokrat). Sementara nomor urut tiga adalah pasangan Emilia Contesa - Zaenuri Ghazali (Gerindra, PAN, Republikan).

Ketua KPU Jawa Timur, Andre Dewanto, yang turut hadir dalam acara itu mengharapkan semua calon dapat bersaing secara sehat. Tidak hanya siap menang dan kalah, melainkan juga harus siap mendukung calon yang menang. "Saya yakin tiga pasangan calon ini adalah orang-orang terbaik yang akan memimpin Banyuwangi," katanya dalam sambutan, di Gedung Wanita, Jumat (14/5).

Acara penetapan nomor urut calon tersebut berlangsung lancar, meski sempat dikabarkan akan ada aksi unjuk rasa besar-besaran dari kubu yang tidak lolos.

IKA NINGTYAS

Thursday, 11 March 2010

Pemerintah Banyuwangi Hapus Anggaran Museum


TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mencanangkan tahun 2010-2015 sebagai tahun kunjungan museum. Namun ironisnya, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, justru menghapus anggaran untuk pemeliharaan dan promosi Museum Blambangan, Banyuwangi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi Dariharto, mengatakan, nihilnya anggaran Museum Blambangan ini sudah terjadi sejak 2009 lalu.

Menurut dia, nihilnya anggaran tersebut karena Museum belum jadi prioritas Bupati Banyuwangi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. "Tersedot untuk pos kegiatan lain," kata dia kepada wartawan, Kamis (11/3).
Museum yang didirikan tahun 1977 tersebut, terakhir kali mendapat anggaran tahun 2008 yakni sebesar Rp 10 juta.

Kurangnya perhatian Pemerintah Banyuwangi berakibat pada sepinya pengunjung. Saat Tempo mendatangi Museum di Jalan Ahmad Yani, pintu Museum dalam kondisi tertutup. "Kuncinya masih dibawa petugas lainnya," kata salah seorang petugas jaga.

Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, jumlah wisatawan nusantara yang mengunjungi Museum selama tahun 2009 sebanyak 1.539 orang. Jumlah tersebut turun drastis dari 2008, yang mencapai 3.202 orang.

Museum tersebut memiliki 560 koleksi. Terdiri atas peninggalan Kerajaan Blambangan abad XVII, berupa tempayan, cawan, piring dan bejana.

Menurut Dariharto, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya melakukan promosi ke tingkat sekolah.

Shayu Pramestya, salah satu mahasiswa di Banyuwangi, mengaku belum pernah mengunjungi Museum Blambangan. Menurut dia, selama ini tidak ada promosi yang membuat dirinya tertarik berkunjung ke Museum. "Profilnya saja belum pernah baca," kata dia.

IKA NINGTYAS

Saturday, 6 March 2010

Kebo Iwa - Gajah Mada - Banyuwangi


Pura Gunung Kawi Bali, yang konon dibuat oleh Kebo Iwa
Saat itu kerajaan Majapahit di Jawa yang dipimpin prabu Jayaneara bermaksud menyerang kerajaan Bedahulu di Bali yang dipimpin raja Mayadenawa untuk memperluas kekuasaannya. Namun hal ini bukanlah hal yang mudah, karena kerajaan Bdahulu memiliki patih yang sangat sakti bernama Kebo Iwa. Kesaktiannya belum ada yang menandingi. Kabarnya kalau Kebo Iwa marah maka dari kepalanya akan keluar tanduk seperti kerbau. Meskipun kerajaan Majapahit juga memiliki patih yang sakti bernama Gajah Mada, namun mereka tidak yakin bisa memenangkan pertempuran dengan mudah. Maka raja Majapahit memerintahkan untuk mencari tahu kelemahan Kebo Iwa. 

Akhirnya diketahui bahwa Kebo Iwa sangat menyukai perempuan cantik. Dia bahkan akan rela melakukan apa saja asal bisa mendapatkan wanita yang diingininya. Mka prabu Jayanegara berunding dengan para sesepuh istana untuk menentukan langkah yang harus ditempuh. Akhirnya mereka sepakat untuk pura-pura menjodohkan patih Kebo Iwa dengan seorang gadis cantik. Dan gadis yang dimaksud adalah Dewi Jejawi yang masih kerabat dengan keluarga Majapahit. Dewi Jejawi adalah gadis yang sangat cantik. Dia tinggal di lereng utara gunung Arjuna. Konon katanya sejak lahir Dewi Jejawi ini tidak pernah menyusu pada ibunya tapi menyusu pada kerbau, sapi dan kambing. 

Patih Gajah Mada dan beberapa pengikutnya berangkat ke gunung Arjuna untuk menemui Dewi Jejawi. Mereka disambut langsung oleh sang Dewi. Setelah berbasa-basi, patih Gajah Mada mengutarakan maksud kedatangannya. Dewi Jejawi termenung mendengar permintaan yang berat tersebut. “Baiklah. Jika ini memang untuk kejayaan Majapahit, saya rela melaksanakannya,” kata Dewi Jejawi.
Esoknya, satu armada kapal yang dipimpin oleh patih Gajah Mada bertolak ke kerajaan Bedahulu di pulau Bali. Disana mereka langsung menghadap raja Mayadenawa. “Kami datang jauh-jauh dari pulau Jawa karena ingin menjalin tali silaturahmi dengan kerajaan Bedahulu ini paduka!” kata patih Gajah Mada. “Hmmm, persahabatan seperti apa yang kalian tawarkan?” tanya raja Mayadenawa. “Saya mendengar bahwa patih anda yang bernama Kebo Iwa belum beristri. Maka kami menawarkan seorang dewi dari tanah kami untuk disunting oleh beliau,” kata patih Gajah Mada. Patih Kebo Iwa yang mendengar kata dewi langsung memotong,”Dewi? Cantikkah? Siapa namanya?” “Namanya Dewi Jejawi dan dia termasuk dewi tercantik di tanah Jawa,” kata patih gajah Mada. Patih Kebo Iwa senang mendengarnya. Meskipun ada sedikit kecurigaan namun Kebo Iwa menepiskannya dan dia setuju untuk ikut dengan rombongan Majapahit ke tanah Jawa. 

Maka dengan restu dari raja Mayadenawa, Kebo Iwa berangkat ke Majapahit. Di tengah perjalanan patih Gajah Mada mulai melaksanakan rencananya. Dia mendekati kebo Iwa. “Patih Kebo Iwa, aku dengar bahwa kau sangat sakti. Apakah benar?” tanya patih Gajah Mada. “Hei, kau meragukan kemampuanku? Apa kau mau bertanding denganku?” tantang Kebo Iwa. “Tidak, aku tidak akan sebanding denganmu. Tapi bila kau memang sakti, kamu pasti bisa berenang dari sini hingga ke Banyuwangi,” kata patih Gajah Mada. “Ah itu mudah!” kata kebo Iwa dan tanpa dikomando dia langsung menceburkan diri ke tengah samudra. Patih Gajah Mada memandang kepergian patih Kebo Iwa. Dia yakin patih Kebo Iwa pasti tidak akan sampai ke Banyuwangi dengan selamat. Namun ketika kapal merapat di pelabuhan, patih Kebo Iwa sudah menanti kedatangan mereka dengan senyum penuh kemenangan. 

Dewi Jejawi yang dipertemukan dengan patih Kebo Iwa sangat terkejut melihat tampang patih Kebo Iwa yang sangar dan badannya yang besar ditambah ada dua tanduk menyembul di kepalanya. “Mengerikan,” pikir Dewi Jejawi. Namun dia tetap tersenyum manis kepada patih Kebo Iwa. “Dewi aku senang kau akan menjadi istriku. Kalian ternyata tidak menipuku. Kau memang benar-benar cantik,” kata patih kebo Iwa. Dewi Jejawi berpikir keras bagaimana caranya menggagalkan niat Kebo Iwa untuk memperistrinya. “Kakang Kebo Iwa, saya bersedia menikah denganmu, tapi saya punya satu permintaan. Maukah kakang mengabulkannya?” tanya Dewi Jejawi. “Tentu dewi, apa yang kau inginkan?” kata Kebo Iwa. “Saya hanya ingin dibuatkan sebuah sumur yang sangat dalam, supaya kita tidak kekurangan air segar saat berumah tangga nanti,” kata Dewi Jejawi. “Cuma itu? Gampang! Segera aku buatkan,” kata Kebo Iwa mantap. 

Dewi Jejawi menunjukkan tempat yang harus digali. Kebo Iwa dengan semangat menancapkan kuku-kukunya ke tanah yang berbatu dan mulai menggali. Dia menggali terus sampai para prajurit yang menunggu di atas tidak bisa melihatnya lagi. “Mungkin dia sudah mati,” kata para prajurit. “Timbun dia dengan batu!” perintah patih Gajah mada. Maka para prajurit segera menjatuhkan batu batu besar ke dalam sumur hingga sumur itu kembali rata. “Habislah sudah riwayat Kebo Iwa,” pikir patih Gajah Mada. Namun tidak lama kemudian timbunan itu porak poranda, dan dari dalamnya melesat patih Kebo Iwa yang naik pitam. Kebo Iwa langsung mengamuk dan menewaskan para prajurit Majapahit. Kini tinggal patih Kebo Iwa dan patih Gajah Mada. “Hai Gajah Mada ternyata ini adalah jebakanmu! Kau memang licik! Sekarang aku tidak punya muka untuk kembali ke tanah bali. Jika kau ingin membunuhku, baik aku tunjukan kelemahanku. Tindihlah aku dengan pohon besar yang ada di sebelahmu. Aku lebih suka mati daripada kembali ke Bedahulu dengan menanggung malu!” kata Kebo Iwa. Maka tanpa membuang waktu patih Gajah Mada mengarahkan tenaga dalamnya ke arah pohon besar yang langsung tumbang dan menindih patih Kebo Iwa. Patih Kebo Iwa yang gagah berani ini pun gugur. 

Wednesday, 16 December 2009

Sejarah dan Misteri lagu GENJER-GENJER






Lagu genjer-genjer yang asli diciptakan oleh Almarhum Muhammad Arief .

Lagu berjudul Genjer-genjer menjadi salah satu penggalan cerita yang mengiringi peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan sebutan G30S-Partai Komunis Indonesia. Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.

Cerita mengerikan versi Orde Baru yang lambat laun mulai diragukan seiring tidak terbuktinya penyiksaan para jenderal itu, membuat image lagu Genjer-genjer ikut pula mengerikan. Apalagi, G30S diikuti rentetan penculikan dan pembunuhan di beberapa kantong PKI. Termasuk di Banyuwangi, tempat pencipta lagu Genjer-genjer Muhammad Arief tinggal.

Benarkah lagu Genjer-genjer identik dengan PKI? Pertanyaan lama yang selalu dibantah, namun tetap tidak menghapus stigma. Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menceritakan, lagu Genjer-genjer diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943.

“M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Begitu terkenalnya lagu yang nadanya mirip dengan lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo itu hingga Seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani pun menyanyikannya.

Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Masa di mana politik Indonesia membuka ruang bagi ideologi apapun itu membuahkan persaingan antar partai politik. Termasuk persaingan dalam hal berkesenian.

Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). “Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief,”.

Sejak digandeng Lekra, seni Banyuwangi-an semakin dikenal. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya. Termasuk lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.

Muhammad Arief sebagai seniman pun ditawari bergabung dengan Lekra dan ditempatkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi. Seniman yang dulu bernama Syamsul Muarif itu juga diminta mengarang lagu yang senapas degan ideologi PKI. Seperti lagu berjudul Ganefo, 1 Mei, Harian Rakyat, Mars Lekra dan Proklamasi.

“Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari,”.
“Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” adalah bait asli dari lagu genjer genjer.

Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu. “Gubahan itu sebenarnya tidak ada!”

karena lagu tersebut yang dinyanyikan para GERWANI sambil berjoget dan bertingkah seperti orang gila yang digunakan saat pembantaian/pembunuhan para Jenderal pada masa itu (sehingga bermaksud menghina), maka lagu tersebut mulai saat itu hingga kini dilarang untuk dinyanyikan.(koranisun.com)

sumber dari kaskus.us

Thursday, 12 November 2009

Blambangan & Minakjinggo… Ikon Banyuwangi atau Probolinggo ?




Mendengar sebutan Minakjinggo pasti kita tidak asing lagi. Kata Minakjinggo sering muncul di layar kaca sebagai iklan sebuah rokok, yang terkenal dengan slogan “JINGGO…. JINGGO … JINGGO…. HHUUUUHGGGG”.

Tapi siapakah Minakjinggo?

Dalam cerita rakyat jawa yang telah menjadi legenda atau juga lebih populer yaitu “Damarwulan - Minakjinggo”. Legenda ini terjadi pada jaman kerajaan majapahit disaat “Ratu Kencana Wungu” berkuasa. Minakjinggo dengan Kerajaan Blambangan yang merupakan kerajaan bawahan majapahit, merasa tertarik dengan kecantikan Ratu Kencana Wungu dan berusaha melamarnya untuk dijadikan isteri. Tapi Ratu Kencana Wungu menolak karena Minakjinggo berwajah seperti raksasa (menurut cerita rakyat) dan Minakjinggo sendiri sebenarnya juga sudah punya 2 isteri yaitu Dewi Waita dan Dewi Punyengan. Dengan penolakan tersebut terjadilah pemberontakan oleh Minakjinggo terhadap Majapahit. Tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian Minakjinggo yang terkenal dengan pusaka Gada Wesi Kuning, sampai akhirnya Ratu Kencana Wungu membuat sayembara “barang siapa bisa mengalahkan Minakjinggo akan mendapat hadiah”. Datanglah Damarwulan yang mengajukan diri mengikuti sayembara melawan Minakjinggo. Akhirnya Minakjinggo dikalahkan Damarwulan setelah Damarwulan mampu mencuri pusaka Gada Wesi Kuning lewat bantuan kedua isteri Minakjinggo, yaitu Dewi Waita dan Dewi Punyengan. Singkat cerita Damarwulan menjadi Raja Kerajaan Majapahit dengan meminang Kencana Wungu, dan juga Damarwulan beristri Dewi Waita dan Dewi Punyengan sebagai balas jasa telah membantunya.

Berdasarkan penelusuran, letak Kerajaan Blambangan berada di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal di Alas Purwo. Beberapa penemuan sejarah lainnya berupa tembok bekas benteng kerajaan Blambangan sepanjang lebih kurang 5 km terpendam pada kedalaman 1 - 0.5 m dari permukaan tanah dan membentang dari masjid pasar muncar hingga di areal persawahan Desa Tembok Rejo. Juga ada Siti Hinggil atau oleh masyarakat lebih di kenal dengan sebutan setinggil yang artinya Siti adalah tanah, Hinggil/inggil adalah tinggi. Objek Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan pasar muncar (lebih kurang 400 meter arah utara TPI/Tempat Pelelangan ikan). Siti Hinggil ini merupakan pos pengawasan pelabuhan/syah bandar yang berkuasa pada masa kerajaan Blambangan, berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing yang mempunyai “keistimewaan” untuk mengawasi keadaan di sekitar teluk pang Pang dan Semenanjung Blambangan. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang kini tersimpan di museum daerah berupa Guci dan asesoris gelang lengan, sedangkan kolam dan Sumur kuno yang di temukan masih berada di sekitar Pura Agung Blambangan yaitu di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Itulah sekelumit cerita tentang Minakjinggo dengan Kerajaan Blambangan. Kembali Kepada bahasan sebelumnya yaitu “Minakjinggo… Ikon Banyuwangi atau Probolinggo?”

Mungkin kalau sebagai Ikon Banyuwangi sudah wajar dan logis, karena berdasarkan sejarah atau cerita rakyat dan letak geografis Blambangan berada di wilayah Banyuwangi… Disamping itu julukan untuk suporter “PERSEWANGI” tim sepakbola masyarakat Banyuwangi yaitu “Laskar Blambangan” atau “ The Lasblang”

Di Probolinggo, yang juga punya tim sepakbola “PERSIPRO” juga mempunyai supporter setia, tetapi herannya julukan mereka adalah ‘Laskar Minakjinggo” atau “ The Lasminggo”.
Tapi mengapa masyarakat Probolinggo bangga menggunakan nama Minakjinggo? Alasannya mungkin hanya pendiri atau sesepuh supporter Persipro yang tahu.

Tapi biarlah….. sebagai warga blambangan saya bangga, setidaknya Minakjinggo yang dalam cerita rakyat yang sudah melegenda dan digambarkan sebagai sosok yang jahat, pemberontak, jelek, seperti raksasa, tapi saat ini kenyataan Minakjinggo tetap sebagai ikon kebanggaan Banyuwangi dan nama suporter sepakbola Probolinggo, bahkan juga sebagai nama rokok.

Terima Kasih.

(dari artikel di http://sosbud.kompasiana.com/ tanggal 13 november 2009 dengan judul yang sama dan proses pengeditan bahasa oleh koranisun.com seperlunya. Artikel ditulis oleh anang santoso (ngiyix) gambar dari motifunik.blogspot.com )

Wednesday, 11 November 2009

Soeprapto dan Hoegeng: Pahlawan Antikorupsi

Asvi Warman Adam

Ahli Peneliti Utama LIPI

Pemutaran penyadapan percakapan Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa hari yang lalu memunculkan nama pejabat tinggi kejaksaan agung dan kepolisian. Rekaman dalam persidangan terbuka yang ditayangkan televisi ke seluruh Tanah Air mencederai citra kedua instansi penegak hukum tersebut. Masyarakat bertanya apakah tidak ada jaksa dan polisi yang profesional sekaligus amanah?

Apabila ditengok sejarah penegakan hukum yang dilakukan kedua instansi ini, terbukti bahwa tidak semua aparat itu busuk. Kita menyaksikan tokoh jaksa dan polisi yang patut diteladani dan juga layak diangkat sebagai pahlawan nasional.

Pada 10 November, biasanya pemerintah mengumumkan nama pahlawan nasional yang baru. Penetapan pahlawan itu seyogianya disesuaikan dengan nilai-nilai yang ingin disemai dan dikembangkan pemerintah dalam masyarakat. Ketika program penegakan hukum dan HAM (termasuk pemberantasan korupsi) digalakkan secara nasional, sungguh tepat bila dalam pengangkatan pahlawan nasional sekarang ini juga terdapat pendekar hukum dan HAM. Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Polisi Hoegeng adalah dua figur yang memenuhi syarat untuk itu.

Soeprapto

Raden Soeprapto lahir di Kediri, 27 Maret 1897. Ayahnya juru tulis pada asisten residen Trenggalek, kemudian asisten wedana di Nganjuk. Karena itu, dia dapat menempuh pendidikan yang lumayan. Dia bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) dan ELS (Europese Lagere School). Lulus dari ELS, Soeprapto memilih Rechtsschool di Koningsplein Zuid 10 (sekarang Merdeka Selatan) Jakarta. Selepas dari Rechtsschool, Soeprapto memilih langsung bekerja. Sebagai anak paling tua, dia merasa punya tanggung jawab untuk dapat segera membantu orang tua.

Soeprapto adalah seorang jaksa/hakim karier. Sejak 31 Mei 1917, dia menjadi staf ketua Pengadilan Negeri Tulungagung setelah sebelumnya bertugas di Surabaya, Semarang, Demak, Purworejo, Bandung, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar, Mataram (Lombok), Cirebon, dan Salatiga. Ketika Jepang menyerbu Maret 1942, Soeprapto menjabat kepala Pengadilan Pekalongan hingga agresi militer Belanda pertama pada 1947. Karena memilih sikap nonkooperatif, dia mengungsi ke wilayah Republik di Yogyakarta. Sebelum dilantik sebagai jaksa agung, 28 Desember 1950, dia menjadi hakim anggota Mahkamah Agung. Soeprapto wafat 2 Desember 1964.

Meski berada di bawah Menteri Kehakiman, Jaksa Agung Soeprapto tidak takut menyidangkan mantan Menteri Kehakiman Djody Gondokusumo. Pada 2 Januari 1956, Djody divonis 1 tahun penjara potong masa tahanan karena terbukti menerima suap Rp40 ribu. Soeprapto bukan kader partai dan tidak takut mengadili petinggi partai. Bukan hanya tokoh nasionalis seperti Roeslan Abdulgani yang diperiksa, melainkan juga tokoh Islam seperti K.H. Masykur (mantan menteri agama dalam kasus dugaan korupsi kain kafan dari Jepang), Kasman Singodimejo (kasus penghasutan di depan umum).

Dari golongan kiri kasus D.N. Aidit (pencemaran nama baik Bung Hatta), Sidik Kertapati (dugaan makar). Dari partai sosialis, mantan menteri ekonomi Sumitro Djojohadikusumo diperiksa karena kasus pencemaran nama baik. Dari etnis Tionghoa, yaitu Lie Kiat Teng (mantan menteri kesehatan) dan Ong Eng Die (mantan menteri keuangan), keduanya dalam kasus dugaan penyalahgunaan jabatan.

Tokoh daerah yang diadili adalah Sultan Hamid Algadrie II (dalam kasus makar yang melibatkan Westerling). Wartawan senior yang ketika itu pernah diperiksa pengadilan adalah Asa Bafagih, Mochtar Lubis, B.M. Diah dan Naibaho (Pemred Harian Rakyat). Orang asing yang diadili adalah Schmidt dan Jungschlager.

Pemeriksaan atas sejumlah pejabat tinggi, pengadilan terhadap bekas pejabat teras dan pengusaha kakap yang berkongkalikong dengan pejabat ada sekitar 30 kasus, membuat dia tidak disukai politisi. Walau pakar Indonesia dari Washington University, almarhum Daniel Lev, mengakui "Pak Prapto itu memang luar biasa, ia sangat jujur dalam menjalankan tugas".

Dia juga keras dalam mendidik anak-anak. Putrinya Sylvia pernah diberi dua gelang emas besar oleh seorang warga Pakistan di halaman rumahnya. Soeprapto marah. Dia menyuruh putrinya mengembalikan pemberian itu.

Hoegeng

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid pernah bercanda, "Di negeri ini ada dua polisi yang tidak bisa disuap yakni 'polisi tidur' dan Hoegeng." Bukan untuk kalangan polisi saja, melainkan masyarakat umum pun dapat belajar dari kisah kehidupan Jenderal Hoegeng.

Hoegeng lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso, waktu kecil ia sering dipanggil bugel (gemuk), lama kelamaan menjadi bugeng dan akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, ia tetap kurus.

Ayahnya Sukario Hatmodjo pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi dan Soeprapto ketua pengadilan mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur dan profesional. Ketiga orang inilah yang memberikan andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil, bahkan karena kekaguman kepada Pak Ating--yang gagah, suka menolong orang dan banyak teman--Hoegeng pun bercita-cita menjadi polisi.

Setelah lulus PTIK tahun 1952, Hoegeng ditempatkan di Jawa Timur. Penugasannya yang kedua sebagai kepala reskrim di Sumatera Utara yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyelundupan. Hoegeng disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan oleh beberapa cukong perjudian. Ia menolak dan lebih memilih tinggal di hotel sebelum dapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu kemudian juga dipenuhi perabot oleh tukang suap itu. Kesal, ia mengultimatum agar agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi dan karena tidak dipenuhi akhirnya perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan. Maka gemparlah kota Medan karena ada seorang kepala polisi yang tidak mempan disogok.

Setelah sukses bertugas di Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta. Untuk sementara ia dan istri menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Kemudian ia ditugaskan sebagai kepala Jawatan Imigrasi. Sehari sebelum diangkat, ia menutup usaha kembang istrinya di jalan Cikini karena khawatir orang-orang yang berurusan dengan imigrasi sengaja memborong bunga untuk mendapatkan fasilitas tertentu.

Selepas dari sini atas usul dari Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet Seratus Menteri Juni 1965. Tahun 1966 ia kembali ke kepolisian sebagai deputi operasi dan tahun 1968 menjadi panglima angkatan kepolisian. Dalam jabatan ini terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik seperti Sum Kuning, tewasnya mahasiswa ITB Rene Coenrad dan penyelundupan Robby Tjahyadi. Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng suatu saat berhadapan dengan lingkaran dekat Presiden. Hoegeng tetap konsisten. Akibatnya ia diberhentikan oleh Presiden Soeharto walaupun masa jabatannya sebetulnya belum berakhir. Sebelumnya Hoegeng juga merintis pemakaian helm bagi pengendara kendaraan bermotor yang ketika itu menjadi polemik. Kini terasa bahwa instruksi itu memang bermanfaat.

Hoegeng ditawari jabatan duta besar di sebuah negara Eropa tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang jadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Senior di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Tetapi musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai "kepribadian nasional" oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Kemudian Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Ia tetap sederhana. Ketika rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj.

Apa yang mendorong Hoegeng menjadi tokoh yang bersih dan antikorupsi? Barangkali pendiriannya yang ditanamkan oleh ayahnya bahwa "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan". Ayahnya seorang birokrat yang sampai akhir hayatnya tidak sempat punya tanah dan rumah pribadi. Mantan Jaksa Agung Soeprapto dan Jenderal Hoegeng layak diangkat menjadi pahlawan nasional.

(dikutip dari lampungpost.com dengan judul artikel yang sama)

Monday, 9 November 2009

Kepahlawanan Pasukan ALRI 0032




Koranisun.com | Apabila kita menuju pantai boom (pelabuhan) di kota Banyuwangi, melewati bioskop Irama dan sampai pada pos polisi, maka akan ada jalan belok ke kanan. Kalau kita menyusuri jalan itu, tidak terlalu jauh kita akan menemukan sebuah tempat pemakaman dengan bangunan kapal selam yang menghiasinya. Makam-makam siapakah itu? Pertanyaan kita akan terjawab setelah membaca papan yang tertulis di tempat masuk pemakanan tersebut.

Pemakaman itu adalah makam para anggota Pasukan ALRI (sekarang TNI-AL) 0032. Pasukan yang dipimpin oleh Komandan pasukan Letnan Muda Soelaiman yang sebagai bagian anggotanya berasal dari Kaigun Kokusyo Morokrembangan Surabaya (Penerbangan Angkatan Laut pada pendudukan Jepang di Indonesia). Pasukan ini diberangkatkan dari Batu, Malang pada bulan September 1946 ke Pangkalan X Banyuwangi dengan tugas utama untuk mempertahankan Pelabuhan Banyuwangi dari ancaman agresor Belanda. Letnan Muda Soeleman sendiri mulai memimpin susunan organisasi pasukan ini yang seksi-1nya dibagi menjadi 4 regu dan anggota keseluruhannya 44 orang.

Kisah Kepahlawanan


Tanda-tanda Pasukan Belanda akan mengadakan pendaratan di pantai Banyuwangi sudah dapat diduga sebelumnya. Karena pada bulan Juli 1947 terutama pada malam hari sering terlihat adanya perahu layar mendekati sepanjang pantai Banyuwangi. Setelah dilepaskan tembakan oleh pasukan keamanan kita, mereka segera menurunkan layar dan ganti menghidupkan mesin lalu lari menghilang. Hal ini kemungkinan pulau Bali sudah dikuasai Pasukan Belanda. Mulai saat itu pasukan kita telah mengantisipasi dengan membentuk kantong-kantong pertahanan dan perlawanan disepanjang pantai Banyuwangi.
Pada tanggal 21 Juli 1947 anggota Pasukan ALRI 0032 dibawah komandan Seksi-1 Letnan Muda Soeleman perhatiannya tertuju pada sebuah motor boat yang sedang berkeliaran di muka pelabuhan yang terlihat akan melakukan pendaratan. Menjelang matahari terbit serta merta perhatian pasukan ALRI 0032 dialihkan ke front barat (darat), karena dikejutkan oleh suara tembakan dari arah kota ke arah pelabuhan. Dugaan waktu itu adalah tembakan dari teman TRI yang bermarkas di Inggrisan, akhirnya Komandan regu-2 Sersan Mayor Poedjiardjo lari naik tanggul melambai-lambaikan bendera merah putih ukuran kecil sambil teriak “Teman sendiri bung, jangan tembak !”. Menghadapi situasi yang demikian, Letnan Soelaiman menelpon pasukan ALRI yang ada di pantai Sukowidi ternyata yang menerima pasukan Belanda. Berikutnya menghubungi pasukan TRI yang ada di Inggrisan, Asrama ini pun telah dikosongkan. Mereka telah mengundurkan diri ke pedalaman tanpa memberi tahu pasukan ALRI 0032 yang sedang tugas di pelabuhan.
Setelah menembak dari darat melewati jembatan masuk pelabuhan, nampak jelas mereka bukan pasukan TRI, namun pasukan KNIL Belanda dengan pakaian dorengnya. Menghadapi situasi yang gawat ini, tiada pilihan lain bagi anggota pasukan ALRI 0032 kecuali harus berjibaku wajib melawannya. Dari arah laut ditembaki kapal Belanda, dari arah barat (darat) diberondong senapan metraliur dan mortir dan dari udara dihujani bom oleh pesawat udara. Letnan Soelaiman berteriak memerintahkan Serma Ahmad Adji menembakkan pom-pom dan Siroes menembakkan metraliur sedangkan kepada anggota yang lain diperintahkan menembakkan ke arah pasukan KNIL untuk membendung gerakan maju pasukan musuh.
Pertempuran mencapai klimaknya, karena jarak kedua pasukan sudah sangat dekat hanya ratusan meter saja. Korban dari kedua belah pihak mulai berjatuhan tertembus peluru. Pertempuran mengadu nyawa ini berlangsung sekitar 2 jam, sampai anggota Pasukan ALRI 0032 kehabisan peluru sama sekali. Akhirnya Letnan Soelaiman memerintahkan anggota, agar segera menyeberangi teluk yang lagi pasang sebelah selatan pelabuhan untuk meloloskan diri. Mengingat medannya terbuka, maka musuh dapat melihat dengan jelas akibatnya mereka ditembaki mortir dari arah kota dan metraliur dari jembatan masuk kota. Pada saat ini Pasukan ALRI 0032 sudah banyak jatuh korban, kurang lebih hanya separohnya yang berhasil dapat meloloskan diri dari kepungan musuh. Air teluk berubah menjadi merah karena simbahan darah. Dengan mengangkat tangan 22 anggota yang tersisa terpaksa menyerah. Dalam keadaan kehabisan tenaga dan diantaranya ada yang terluka, mereka dikumpulkan dan disuruh telanjang bulat digiring dengan berbaris menuju pos yang terletak di pertigaan jalan dalam pelabuhan. Satu persatu mendapat pertanyaan dan siksaan berupa pukulan-pukulan diluar batas perikemanusiaan, lebih-lebih siksaan yang dialami Komandan seksi Letnan Soelaiman dan Sersan Mayor Basri, disamping pukulan-pukulan juga dipaksa makan uang ORI dan kertas surat kabar Merdeka yang terbit waktu itu.
Selanjutnya kurang lebih pukul 18.30 mereka digiring ke pinggir laut selatan asrama Pasukan ALRI 0032 sendiri, disana terdapat lubang bekas tempat pom-pom. Pasukan Belanda tidak peduli keadaan tawanannya, mereka tetap dipaksa berjalan mendekati lubang tersebut. Di dalam lubang inilah disuruh duduk berderet tapal kuda, tangan ditaruh kebelakang diikat dengan tali dan digandeng satu sama yang lainnya. Merasakan siksaan yang sangat berat ini Letnan Soeleman mengajukan protes keras. Namun protes hanya mendapat jawaban berupa kokangan stengun 9 mm yang kemudian diberondongkan dari arah belakang, maka bergelimpanganlah tubuh mereka tumpang tindih bersimbah darah. Dalam berondongan senapan ini ada yang langsung gugur, ada pula yang masih hidup merintih dan berteriak minta ditembak lagi. Ada pula yang sudah luka parah tetapi dia pura-pura mati. Mereka yang masih hidup seluruh kujur tubuhnya penuh darah baik dari lukanya sendiri maupun percikan darah dari rekan-rekannya. Oleh karena pasukan Belanda mengira sudah mati semuanya lalu ditinggalkan begitu saja. Dalam peristiwa ini 16 Kusuma Bangsa gugur dan 6 anggota masih hidup yang pada malam harinya ketika keadaan sunyi sepi satu persatu saat mereka sadar melarikan diri. Dalam upaya melarikan diri tersebut satu dengan yang lain tidak mengetahui bahwa ada rekannya yang lain juga masih hidup karena waktunya tidak bersamaan. Saat itu hanya berpikir hanya saya sendiri yang masih hidup dan lari dengan kekuatan yang tersisa untuk menyelamatkan diri.

(dikutip dari majalah Cakrawala TNI-AL yang diceritakan kembali oleh Pramudji di beta.tnial.mil.id | gambar dari kaskus.us)