Friday, 30 September 2011

Kawah Ijen [2010]

Tahun lalu, Agustus 2010, saya backpackeran ke Kawah Ijen. Lokasinya ada di Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi.
Untuk menuju ke sana ala "backpacker" saya menggunakan kereta ekonomi Sri Tanjung seharga Rp 35.000,- lalu naik angkot ke jambu-licin. Sampai Licin, saya harus menemukan truk pengangkut belerang yang menuju ke arah Paltuding, tapi sialnya, waktu itu hari Raya Idul Fitri kalo ga salah, jadi pabrik itu libur, dan saya harus jalan kaki --"
Setelah berjalan kaki kira-kira 1 jam, akhirnya saya dapet tumpangan dari salah seorang pengunjung juga yang kebeltulan melewati jalur yang sama dengan saya. Lumayan lah, dapet gratisan :)
sekitar 30 menit kemudian, sampailah saya di basecamp Gunung Ijen. Saya dan teman saya (Edo-Red) beristirahat, makan, minum, dan tidak langsung menuju ke Kawah nya. Mengapa? Karena hari sudah gelap sodara-sodara :)
Yak, akhirnya malam pun tiba, berbekal sleeping bag dan jaket tebal, kami numpang tidur di basecamp. Dingin nya sungguh menusuk kalbu -_-
Pukul 03.00 pagi kami (saya dan Edo) bangun, prepare untuk menuju ke kawah. Suhu udara disana adalah 10 derajat Celcius. Dinginnya mintak ampun!
Tapi penantian dan rasa dingin saya tidak percuma. Setelah berjalan sekitar 1jam di jalan setapak menuju arah kawah, saya melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Wuaooww, ini adalah ciptaan Tuhan bukan? Awesome!!!



Ini baru landscape sunrise nya..

Foto Kawah Ijen jika dilihat dari atas.. :)






Kalo udah gini nih rasanya pingin muji-muji Tuhan terus. Kok Dia bisa ya nyiptain yang kayak ginian?
Sepertinya saya ga akan bosen backpackeran deh.. :D

See ya fellas! ;)
by superjuice at 12:03 pm

Bapak dan Genjer-genjer

Sudah sebulan terakhir ini, bapak mendapat kawan baru kala bersantai di bale-bale serambi rumah. Sebuah lagu lama yang terus-menerus diputarnya. Sungguh selalu seperti itu beberapa hari belakangan sampai akhirnya saya agak khawatir sebab ia tampak terlalu terhanyut. Lagu yang tersimpan dalam ponsel murahnya itu mengiringinya melongo menatap langit-langit, lalu kemudian memejamkan mata.
Lagu Gendjer-gendjer, penyanyi Lilis Suryani, itu kawan barunya. Buat saya, lagu itu terdengar menyeramkan. Ya, mungkin karena lagu itu memikul tuduhan nuansa horor, digosipkan sebagai lagu pengiring pembantaian para jenderal pada kisah misteri 30 September 1965. Namun, sebenarnya suara Lilis Suryani yang indah itu memang mendayu-dayu sendu. Seolah itu adalah lagu duka akan kematian. Musiknya terdengar bercampur dengan keresek radio lama. Sungguh, kengerian yang tercipta.
Padahal nyatanya, itu lagu manis tentang sayuran. Itu cerita seorang emak yang ingin memasak sayur genjer. Lalu penguasa pada suatu masa mencemplungkan bumbu politis pada wajan sayur itu. Maka jadilah lagu itu dilarang diperdengarkan. Padahal, lirik lagu berbahasa Osing itu sungguh sederhana.

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang
Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak
Bapak melek. Dipanggilnya saya. Lalu berhamburlah sebuah cerita. Lagu itu menyayat hati bapak, dan juga hati ibu, katanya. Ia bercerita, di usia ketika ia berada di sekolah dasar, lagu ini begitu populer dinyanyikan. Partai Komunis Indonesia mendapat lagu yang begitu mewakili perjuangan kaum kecil yang mereka usung. Padahal Muhammad Arief, pencipta lagu itu, tidak bermaksud menciptakan lagu yang berat di tahun 1940-an. Lalu jika akhirnya si seniman Banyuwangi ini akhirnya mati dibunuh karena dianggap terlibat PKI, sungguh malang keduanya, si lagu dan si pencipta.
Bapak lanjut bercerita, ia dulu pernah mengajak kawan-kawan kecilnya untuk berdemo di sekolah. Demo kanak-kanak yang menanggung kesedihan sederhana. Guru mereka dibunuh karena dianggap terlibat PKI. Sementara buku-buku PR murid ikut habis terbakar di rumah sang guru. Lalu, bapak kecil ini menyerukan, “Balikno bukuku, balikno bukuku!” Ah, apalah yang bisa dikembalikan, kecuali harapan hidup akan tetap berlanjut.
Sementara cerita ibu tak kalah sendu. Pada bulan kelabu itu, sekolah diliburkan karena ibu guru yang mengajar dikabarkan ditemukan di selokan. Ya, dituduh PKI, lalu teronggok di sana. Ibu di usia kanak sungguh tak tahu mengapa gurunya yang manis mesti mati. Ibu tidak diperbolehkan menangis oleh ayahnya, sebab takut dikira mendukung si ibu guru. Oh, betapa menangis bisa dianggap sebagai bukti keterlibatan. Betapa melepaskan duka saja harus tertahan.
Lalu kalau memang lagu Genjer-genjer ini mengingatkan bapak dan ibu pada kisah seram, kenapa pula lagu itu terus-terus diputar? Justru itu, katanya. Mengenang-ngenang itu menyenangkan, sepahit apapun kenangan itu. Kalau sudah kenyang dikenang, toh lagu bisa dimatikan, lalu kembali pada kenyataan.

Aku gemas. Aku tawarkan jalan tengah. Kubilang pada bapak, “Kebetulan Pak, ini ada lagu Genjer-genjer tapi dengan musik yang lebih modern.” Dengan jedag-jedug-jedag-jedug disko remix. Kuperdengarkan aransemen DubYouth ke telinganya. Tapi rupanya, eksperimen anak muda Jogja itu tak masuk di telinga Bapak. “Kenangannya gak keluar,” ujarnya.
Sesekali saya berharap kenangan sedih bapak dan ibu itu hilang saja. Tapi benar kata bapak. Biar saja cerita itu tak hilang, tapi cukup terkubur saja di pojok ingatan. Sehingga mereka tetap tersenyum, sambil mengenang dengan dendang lagu yang tertahan.
petang 30 September 2011


Ribuan Warga Banyuwangi Demo Tuntut PT IMN Hengkang


Irul Hamdani - detikSurabaya | Banyuwangi - Sekitar 1.500 orang mendatangi kantor PT Indo Multi Niaga (IMN) di Dusun Pancer, Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi. Ribuan orang itu berunjuk rasa menuntut PT IMN menarik pasukan Brimob yang disiagakan di kawasan eksplorasi PT IMN.

Massa juga menuntut agar perusahaan pertambangan emas itu agar hengkang dari bumi Banyuwangi.

"Tarik Brimob dari gunung Tumpang Pitu karena keberadaannya meresahkan
masyarakat. PT IMN pergi saja dari Banyuwangi," teriak salah satu warga dalam orasinya, Rabu (10/8/2011).

Tuntutan itu merupakan reaksi dari arogansi personel Brimob yang bertindak semaunya sendiri. Pasukan khusus polisi itu menurut warga, pernah menembaki para penambang liar. Mereka ditembaki tanpa ada tembakan peringatan sehingga menimbulkan korban.

Massa juga menuntut agar PT IMN membubarkan diri dan pergi dari Banyuwangi. Menurut warga, PT IMN sama sekali enggan berbagi kawasan untuk menambang. Jalannya unjuk rasa sempat memanas saat ribuan massa merangsek hendak masuk ke PT IMN. Namun akhirnya warga mulai tenang saat perwakilan warga masuk dan berdialog dengan pihak PT IMN.

Unjuk rasa itu dijaga ratusan personel polisi dari Polres Banyuwangi dan jajaran serta personel Brimob.
Sumber : surabaya.detik.com

Thursday, 29 September 2011

Sang Chef dari Ujung Jawa


Kikin Oshikin, nama ngetop Chef satu ini. Sekilas kita akan menerkanya orang Jepang, jika menilik dari namanya saja. Tapi, tidak ada unsur Jepang sama sekali dalam darah pria asli kelahiran Banyuwangi, ujung Jawa Timur ini. Nama aslinya sebetulnya Mohammad Solichin. Tapi teman-teman dan lingkungan sepergaulan dari Chef -lulusan Academic Perhotelan APJ DKI Jakarta Angkatan 20 -ini lebih sering memanggil dengan nama Kikin.

Awal karirnya sebagai Chef, seperti halnya para profesional yang lain, dimulai dari melamar kerja ke hotel-hotel berbintang dan berkelas Internasional, tujuannya pasti untuk mencari dan mengumpulkan dulu ilmu sebanyak-banyaknya.

Bulan Maret 1995 tepatnya, Kikin memulai karir Chef-nya di Hotel Borobudur, hotel bintang 5 dengan jabatan 2nd Commis. Meskipun titelnya cukup terdengar keren, dengan rendah hati Kikin mengatakan jabatan pertamanya ini sebetulnya adalah Chef tingkat bawah (meskipun ada lagi yang lebih bawah yaitu 3rd Commis dan Apprentice). 10 tahun ia meniti tahap demi tahap dan mengumpulkan “ilmu per-chef-an”-nya sampai merasa cukup pengalaman dan akhirnya pada tahun 2005 Kikin memutuskan untuk berpindah kerja ke hotel bintang lima yang lainnya.

Dalam waktu empat tahun, Kikin “loncat” dari satu hotel bintang sampai kafe terkenal. Sehingga dari berbagai tempat, lingkungan memperkaya kemampuan dan karakternya untuk bekal pengalaman mandiri kelak.

Ketika ditanya apa sebenarnya yang membuat Chef yang dulu pernah bercita-cita menjadi TNI ini, tertarik terjun dalam dunia kuliner /menjadi chef, dengan tegas Kikin mengatakan, ada kepuasan batin tersendiri ketika masakannya dinikmati orang, dan orang puas dengan masakannya. “Menjadi sebuah kebanggaan sendiri, apalagi jika yang menikmati masakan saya itu public figure, “ ujarnya semangat.

Setelah berkelana kemana-mana dari Indonesia sampai luar negeri, pada tahun 2009, Chef yang maestro dalam mengolah masakan serba Italia, Western dan Asian Food ini  memutuskan untuk pensiun dari dunia perhotelan. Bukan karena ia lelah atau jenuh dengan dunia yang memberinya banyak pengalaman ini, tapi ia sudah merasa cukup dalam mengumpulkan teknik, ilmu dan bekal materi untuk membuka usaha sendiri. Alhasil setelah meletakkan “jabatan” Chef nya di CafĂ© Italia Bahrain, Kikin memantapkan hati untuk menjadi bos bagi dirinya sendiri dengan membuka warung makan sendiri dengan julukan “GARA-ZI KITCHEN” yang diresmikan/dibuka tepat pada tahun 2009.

Dua tahun adalah masa yang masih terhitung pendek untuk berkelana dalam industry kuliner. Jadi, usaha ini Kikin anggap sebagai bayi yang masih coba untuk belajar berdiri. Tapi jangan salah, kepercayan diri yang tinggi dan berbekal pengalamannya di perhotelan selama sepuluh tahun lebih, membuat Garazi Kitchen ini bertahan dan berkembang dengan oke!


Pasti jadi Chef  tidak ada dukanya ya, karena hanya seputaran makan dan masakan saja, begitu pertanyaan yang kami ajukan padanya, dan dengan berseloroh Kikin menjawab jelas saja dukanya ada, terutama kalau masakannya tidak pas di lidah customer, bukan saja complain yang ia dapatkan malah sampai di caci maki pun ia pernah!

Akhirnya, Chef menutup ceritanya dengan motto unik  “ Lebih baik  menjadi kepalanya semut daripada menjadi ekornya gajah” yang kurang lebih artinya, biar saja punya usaha kecil tapi jadi bos bagi diri sendiri, daripada jabatan keren tapi tetap “prajurit” alias bawahan.

Ok! Good Choice Chef!
Sumber : belibu.com

Tuesday, 27 September 2011

Nelayan Banyuwangi Tenggelam di Perairan Pegametan


Akibat dihamtam gelombang besar, Kapal Motor (KM) Nur Harapan, tenggelam di perairan Pegametan, Kecamatan Gerokgak, Senin (26/9) siang. Hingga Selasa (27/9) kemarin, satu anak buah kapal (ABK) masih dinyatakan hilang, sementara tiga ABK ''diselamatkan'' rumpon milik nelayan.

Informasi Selasa (27/9) kemarin menyebutkan, KM Nur Harapan dinakhodai Sunaryo (33) warga Dusun Kalimati, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Sementara tiga ABK masing-masing Satoji (35), Ilham (28) yang keduanya warga Desa Sampangan Kecamatan Muncar, Banyuwangi, dan Jummaji (28) warga Dusun Kalimati, Muncar.

Awalnya kapal itu mencari ikan hingga ke perairan Sulawesi. Setelah mendapat ikan sekitar tiga kwintal, kapal itu balik menuju Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. Ketika melintas di perairan Pegametan, Senin sekitar pukul 11.00, kapal tiba-tiba dihantam gelombang besar. Akibatnya, lambung kapal pecah dan kemasukan air. Kapal pun tenggelam. Salah seorang ABK, Jummaji terseret arus dan hilang. Sementara nakhoda Sumaryo dan dua ABK lain beruntung ''diselamatkan'' rumpon milik nelayan.

Kapolsek Gerokgak Kompol Wayan Suarta, mengatakan ketiga nelayan asal Banyuwangi itu pertama kali ditemukan I Made Suka, nelayan setempat yang hendak memancing ikan sekitar pukul 15.00. Ketiga nelayan Banyuwangi itu langsung dibawa ke darat dan ditampung di pos polair Teluk Terima.

Sementara itu, pencarian terhadap ABK yang hilang, Jummaji, hingga Selasa kemarin masih dilakukan oleh Tim SAR dari Jembrana. Tim SAR yang berjumlah lima orang dan dipimpin Dewa Hendrik dengan dibantu anggota Polair hingga Selasa sore kemarin belum berhasil menemukan keberadaan Jummaji. (kmb15)
Sumber : Bali Post

Kopaska dan US Navy Latihan Tempur


Liputan6.com, Banyuwangi: Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Angkatan Laur Amerika Serikat (US Navy) menggelar latihan bersama di Pangkalan TNI Angkatan Laut Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (27/9) malam. Latihan bersama ini dalam rangka kerja sama bilateral Indonesia dan AS.

Latihan dengan sandi, Flash Iron 11-2, Join Combined Exchanged Training (JCET) 2011 itu adalah menggelar simulasi pembebasan penumpang VVIP kapal very yang disandra bajak laut di perairan Selat Bali. Pembebasan sandera dimulai dengan diterjunkannya pasukan gabungan dari helikopter.

Pasukan selanjutnya menguasai anjungan kapal dan melakukan penyelamatan penumpang yang sedang dibajak. Kurang dari 15 menit, pasukan Kopaska dan US Navy yang bersenjata lengkap berhasil menguasi kapal dan menyelamatkan para penumpang VVIP serta meringkus para pembajak.

Usai latihan dilakukan upacara penyematan brevet kepada lima pati bintang dua yang sebelumya ikut melaksanakan tempur dalam pembebasan pembajak. Kekuatan Kopaska yang ikut latihan bersama sebanyak 90 personel sedangkan dari US Navy 11 personel. Latihan bersama yang rutin digelar setiap dua kali dalam setahun itu diharapkan berdampak positif guna membina dan meningkatkan hubungan diplomasi kedua negara.(JUM) Sumber : Liputan 6

Angklung Carup Memeriahkan Festival Musik Bambu Dunia Bandung

JAKARTA (Pos Kota) – Penggemar musik bambu khas nusantara  kembali bisa bersorak. Pasalnya, ajang yang ditunggu-tunggu bisa disaksikan langsung lewat Festival Musik Bambu Dunia, pada  1-3 Oktober 2011di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, Jawa Barat.
“Perhelatan ini sudah kelima kalinya, antara lain akan menampilkan Sawung Jabo, Dwiki Dharmawan, dan Sarasvati,”  tutur  Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Dr. Sapta Nirwandar di kantornya, Selasa (27/9).
Sapta memaparkan, dari kelompok musik bambu kontemporer, akan tampil juga Sruti Respati, Babendjo, Samba Sunda, Balawan dan  Gamelan Maestro Project, Punklung, Jendela Ide, dan Europe in de Troppen. Sedangkan di kelompok musik bambu tradisional, bakal tampil Galengan Sada Awi, Suling Sorgawi, serta kelompok musik angklung dari pelajar SMP dan SMA di Bandung, serta Komunitas Hong.
“Juga ada kegiatan pendukung lainnya seperti workshop dan pameran, seminar bambu, dan kuliner dari bambu,” kata Sapta.
Menurut Sapta, event Festival Musik Bambu Dunia, yang mendatangkan seniman dan musisi handal dan kreatif dari Indonesia dan luar negeri, menjadi media yang efektif dalam mempromosikan kekayaan seni budaya Indonesia ke dunia Internasional.
Musik bambu sebagai musik universal menjadi soft power dalam mempromosikan pariwisata Indonesia ke manca negara. Dadang dari Republik Entertainment mengatakan, potensi seni budaya bambu yang ada di Tanah Air dan ditampilkan antara lain Saluang dan Talempong dari Sumatera Barat, Giring-giring Kabupaten Lemadau Kalimantan Tengah, Sasando Gong Pulau Rote Nusa Tenggara Timur, Rampak Kentongan Purbalingga, Jawa Tengah, Angklung Carup Banyuwangi, Seniman Bambu Wukir Yogyakarta, serta musisi gamelan kontemporer shochbreaker Indonesia-Norwegia.
Menurut juru bicara panitia acara, Sulhan Syafei, festival kali ini lebih banyak mengundang penampil muda untuk regenerasi bakat. Hal lain yang berubah yaitu adanya tiket untuk menonton acara di panggung utama, sedangkan dua panggung lainnya tetap gratis.
Festival juga bakal menampilkan karya-karya bambu kreatif dari kampus Fakultas Seni Rupa & Desain Institut Teknologi Bandung, Desain Produk Institut Teknologi Nasional, serta Bengkel Kostum STSI Bandung. Adapun workshop akan melibatkan Abah Dasep dengan biola bambunya, perajin angklung, wayang bambu, dan payung geulis.
Pagelaran dengan tema Reinvention Bamboo Music and Culture ini akan disemarakkan parade angklung, bambu indigenous, antara lain seruling nusantara, bambu klasik, bamboo rythim/string, bambu kontemporer. (aby)

FOTO:  Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Dr. Sapta Nirwandar (kiri) memakai topeng dari bambu sebagai simbol digelarnya even internasional Festival Musik Bambu Dunia,  1-3 Oktober 2011 di Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, Jawa Barat. (aby)

Sumber : Pos Kota

Liput Kebakaran, Kamera Wartawan Televisi Dirampas

Banyuwangi - Peristiwa kebakaran di gudang PT Nagabaru, Banyuwangi, diwarnai perampasan kamera televisi swasta nasional. Hal itu menimpa Syaifulloh (42).

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.00 WIB, Selasa (27/9/2011). Saat itu Syaiful datang seorang diri ke lokasi meliput peristiwa kebakaran gudang milik PT Nagabaru. Baru beberapa saat mengambil gambar, Syaiful didekati seseorang bernama Mirawati dengan penuh emosi.

Meski tahu Syaiful seorang wartawan, Mirawati mengusirnya dengan kasar. Bahkan kamera yang dipergunakan Syaiful langsung dirampas begitu saja. Beberapa menit kemudian sejumlah wartawan lainnya datang ke lokasi dengan maksud yang sama. Lagi-lagi Mirawati melarang dan mengusir para wartawan yang sedang bertugas.

Sebenarnya setelah kejadian, Winarto, pemilik perusahaan sekaligus ayah dari Mirawati meminta maaf kepada wartawan. Namun peristiwa perampasan dan pengusiran ini terlanjur dilaporkan ke polsek setempat.

Hingga pukul 16.47 WIB, Syaiful masih menjalani pemeriksaan di Polsek Kalipuro. "Maaf ya, aku lagi diperiksa di polsek. Nanti saya jelaskan semua," jelas Syaiful saat dihubungi detiksurabaya.com ditelepon selulernya.

Peristiwa ini tak luput dari perhatian AJI Jember. AJI Jember mengecam keras kasus perampasan kamere milik Syaifulloh. AJI juga menuntut polisi agar mengusut tuntas kasus tersebut dan menjadikan UU. No. 40 tahun 1999 tentang Pers menjadi acuan proses hukumnya.

"Kami juga mengimbau kepada semua masyarakat supaya menghormati kebebasan pers," seru Ketua AJI Jember, Ika Ningtyas.

Hikayat Sabdo Palon di Banyuwangi


Menelisik Misteri Sabdo Palon
|    Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon.

     Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yangmembuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.

     Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :

164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho;
ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah
perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti
trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake
Sabdopalon lan Noyogenggong.

(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua
kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di
bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman
pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur;
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula
padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah
kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja;
hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana
wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi
wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha
asung bhekti.

(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)

Serat Darmagandhul
     Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.

     Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapanucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :

Sabdo Palon :
“Paduka sampun kĂŞlajĂŞng kĂŞlorob, karsa dados jawan, irib-iriban,
rĂŞmĂŞn manut nunut-nunut, tanpa guna kula ĂŞmong, kula wirang
dhatĂŞng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe
pados momongan ingkang mripat satunggal, botĂŞn rĂŞmĂŞn momong
paduka. … Manawi paduka botĂŞn pitados, kang kasĂŞbut ing pikĂŞkah
Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang
sanginggiling rĂŞdi rĂŞdi Mahmeru punika sadaya kula, …”

(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilanganj awa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua  adalah saya, …”)

     Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :

“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; …”

(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi
termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan
bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa
dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arĂŞp misah, barĂŞng didangu lungane
mĂŞnyang ngĂŞndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono,
mung nĂŞtĂŞpi jĂŞnĂŞnge SĂŞmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan
padhang. …..”

(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)

     Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :

Sabdapalon ature sĂŞndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing
rumĂŞksa tanah Jawa. SintĂŞn ingkang jumĂŞnĂŞng Nata, dados
momongan kula. Wiwit saking lĂŞluhur paduka rumiyin, Sang Wiku
Manumanasa, SakutrĂŞm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos
dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajĂŞr Jawi, …..

….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun,
momong lajĂŞr Jawi, botĂŞn wontĂŞn ingkang ewah agamanipun, …..”

(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

     Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun.

     Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.

      Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :

“…, paduka punapa kĂŞkilapan dhatĂŞng nama kula Sabdapalon? Sabda
tĂŞgĂŞsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya tĂŞgĂŞsipun ulat,
Genggong: langgĂŞng botĂŞn ewah. Dados wicantĂŞn-kula punika,
kenging kangge pikĂŞkah ulat pasĂŞmoning tanah Jawi, langgĂŞng
salaminipun.”

(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)

     Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.

     Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.

      Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :

“….. Paduka yĂŞktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami
Buddha, turun paduka tamtu apĂŞs, Jawi kantun jawan, Jawinipun
ical, rĂŞmĂŞn nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening
tiyang Jawi ingkang mangrĂŞti.”

(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”

“….. Sang Prabu diaturi ngyĂŞktosi, ing besuk yen ana wong Jawa
ajĂŞnĂŞng tuwa, agĂŞgaman kawruh, iya iku sing diĂŞmong Sabdapalon,
wong jawan arĂŞp diwulang wĂŞruha marang bĂŞnĂŞr luput.”

(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)

     Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang
diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :

“Sang Prabu karsane arĂŞp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong,
nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta
nĂŞnggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga:
“Ing besuk nagara Blambangan salina jĂŞnĂŞng nagara Banyuwangi,
dadiya tĂŞngĂŞr Sabdapalon ĂŞnggone bali marang tanah Jawa
anggawa momongane. Dene samĂŞngko Sabdapalon isih nglimput
aneng tanah sabrang.”

(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)

     Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.

Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :

Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama
Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong
marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah
Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)

Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula
matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta
kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula
gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)

Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu
kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur
atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi
Merapi yen wus njeblug mili lahar.

(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya katakata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)

Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih
punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.

(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)

Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan
tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng
tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring
gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten
ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad
iki yekti ana kang akarya.

(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

     Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.

     Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 =17 ( 1 + 7 = 8 ).

    Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan  menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).

SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
     Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”

     Dari referensi yang kami dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

     Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut : “Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa.

      Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.

     Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik.

     Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

     Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).

     Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka
saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya
pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )

Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.

2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring
kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa,
guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )

Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.

3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane
tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe
majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )

Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.

4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut
tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon
malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan
hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang,
ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati
dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon
ngadek twah gunanya. ( bait 11 )

Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.

6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang
jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah
mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )

Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.

7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute
bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang,
eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )

Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hatihatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.

8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren
ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin
awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )

Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.

9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep
matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne
rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang
tingkah. ( bait 15 )

Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.

10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak,
saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong
kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku. 

     Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru.

      Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo.

    Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.” “Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu. Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”
     Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho.
(sumber tulisan, http://nurahmad.wordpress.com/38/)

Harga Emas Turun, Nasabah Berburu Emas di Kantor Pegadaian


suarasurabaya.net| Seiring turunnya harga emas, membuat warga Banyuwangi memburu emas. Mereka beramai-ramai mendatangi Kantor Pegadaian Banyuwangi.

Teguh Sujianto Pjs Kantor Pegadaian Banyuwangi seperti dilaporkan Tasya dari Radio Mandala FM Banyuwangi, Selasa (27/9/2011), mengatakan ada penurunan 30% untuk nasabah logam mulia.

Sejak diperkenalkan mulai April lalu, nasabah logam mulai mulai meningkat. Dengan turunnya harga logam mulai, permintaan terhadap logam mulai meningkat.

Kata Teguh, banyak nasabah yang datang meski hanya menanyakan harga logam mulia saja. Kalau harga emas masih berada di level tinggi, nasabah akan menunggu hingga harga emas turun. Sebaliknya, jika harga emas turun, permintaan akan naik. (tin)
sumber : suarasurabaya.nethttp://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=7a47c8a47d2d1b06cb979c09b61425dc201198089

Friday, 23 September 2011

Banyuwangi Berkampanye Bersepeda


Inilah 100 Kota yang Berkampanye Bersepeda |
JAKARTA, KOMPAS.com — Memperingati Bike to Work Day 2011, Jumat (23/9/2011), berikut ini 100 kota yang berpartisipasi serentak dalam kampanye penggunaan sepeda sebagai moda transportasi jarak dekat.
Seratus tempat itu adalah Jakarta, Denpasar, Gianyar, Jembrana, Singaraja, Tabanan, Bangka, Belitung, Pangkal Pinang, Cilegon, Serang, Tangerang, Tangerang Selatan Ciledug, Bengkulu, Rejang Lebong. Aceh Selatan, Aceh Timur, Banda Aceh, Meulaboh, Sabang, Sleman, Yogyakarta, Jambi, Sungai Penuh, Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Bekasi, Bogor, Ciamis, Cianjur, Cikarang, Cirebon. Depok, Karawang, Kuningan, Purwakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Majalengka,
Batang, Blora, Cepu, Cilacap, Jepara, Boyolali, Kebumen, Kendal, Klaten, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalangm Purbalingga, Purwokerto, Salatiga, Semarang, Solo, Sragen, Tegal, Wonogiri, Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan. Malang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya, Tuban, Tulungagung.
Mempawah, Pontianak, Singkawang, Banjarbaru, Banjarmasin, Paringin, Palangkaraya, Sampit, Balikpapan, Berau, Bontang, Bulungan, Kutai Barat, Samarinda, Sangata, Tarakan, Tenggarong. Lampung, Ambon, Alor, Bima, Biak, Merauke, Manokwari, Sorong, Timika, Batam, Dumai, Duri, Indragiri Hilir, Pekanbaru,
Perawang, Mamuju, Polewali, Bantaeng, Belopa, Bone, Gowa, Soppeng. Makassar, Malili, Maros, Palopo, Pare Pare, Pinrang, Sengkang, Sinjai, Sorowako, Ternate, Toraja Utata, Palu, Kendari, Kolaka, Gorontalo, Manado, Tomohon. Bukittinggi, Sijunjung, Pesaman, Padang, Payakumbuh, Solok, Lubuk Lingau, Muara Enim, Palembang, Prabumulih, Deli Serdang, Kisaran, Medan, dan Tebing Tinggi.
Selain berkampanye serentak untuk Bike To Work Day 2011, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan sampai Minggu.
"Dengan kampanye ini, semoga semangat untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi jarak dekat makin tumbuh dan dilakukan warga," ujar Ketua Umum Bike to Work Toto Sugito. 
Sumber : Kompas.com

Tuesday, 20 September 2011

Pemulangan PSK, 24 Camat Banyuwangi Rakor

suarasurabaya.net| Sebanyak 24 camat Banyuwangi mengadakan rapat koordinasi untuk melakukan pemulangan PSK luar daerah, Selasa (20/9/2011). Pemulangan ini menyusul desakan sejumlah elemen masyarakat.

Tasya dari Radio Mandala FM Banyuwangi melaporkan rapat koordinasi 24 camat se Kabupaten Banyuwangi akan menjadi acuan dasar pemulangan puluhan PSK yang ada. Dan mengkoordinasikan dengan dinas sosial pada tempat asalnya.

Pemulangan secara koordinir ini harus dilakukan hari ini menyusul desakan sejumlah elemen masyarakat menagih janji komitmen solusi penanganan PSK yang jumlahnya masih tinggi di Banyuwangi. (pri/tin)